
Aku dan Daren sudah sampai di salah satu kedai es cream. Aku memilih semua rasa sampai satu mangkok besar penuh.
"Habis ngga?" tanya Daren khawatir melihat mangkok besar punyaku.
"Habis dong!" kataku antusias sambil memasukan satu persatu rasa ke dalam mulutku.
Daren hanya membeli dua rasa saja. Rasa vanila dan coklat.
"Enakkkkkk!" kataku senang.
"Daren, cobain nih!" Aku menyendokkan rasa mangga dan menyodorkannya ke Daren.
"Wah... Enak juga! Pengen nyobain rasa lain dong." kata Daren sambil menujuk es cream rasa blueberry.
Aku menyodorkan mangkok besarku ke arah Daren."Ambil sendiri aja Daren... Kita makan bareng!" kataku sambil terus memasukan es cream ke dalam mulutku.
Daren tersenyum."Oke! Kita barengan yaaa..."
Aku mengangguk."Tapi nanti beliin lagi, ya?"kataku bercanda sambil tertawa pelan.
"Boleh! Mau aku beliin sama pabriknya sekalian?" kata Daren antusias.
"Hah?" Aku melongo menatap Daren yang sedang sibuk memakan es cream berbeda rasa tanpa dosa.
*
*
*
Pagi ini, aku berangkat ke kantor lebih awal. Aku sangat khawatir pada Nina. Aku berharap dia sekarang baik-baik saja.
Aku kembali melihat arloji yang terpasang di tangan kiriku. Nina kok lama banget? Udah jam delapan pagi dia belum datang.
Kretttttt
"YA AMPUN!" Nina terlonjak kaget melihatku sudah duduk manis di ruangan kesayanganku.
"Lu kok tumben pagi-pagi udah dateng? Gue sampe kaget loh!" kata Nina heran sambil menatapku.
"Hehe... Kamu baik-baik aja, Nin?" tanyaku.
Nina berjalan ke arahku dan memegang jidatku menggunakan punggung tangannya.
"Gue yang harusnya bilang gitu! Lu sehat? Dateng pagi banget, gak kayak biasanya..." kata Nina.
Aku mengernyit."Sehat dong! Ngapain kamu pegang-pegang jidatku?!" jawabku kesal.
"Aneh aja... Kirain sakit lagi kayak kemarin!" kata Nina ngeselin.
"Aku khawatir tau... Kemarin kan kita gak sempat ketemu lagi pas habis ngamuk di kantor polisi." kataku pelan.
Nina terkekeh."Iya-iya. Gue kesel banget kemarin. Tapi, sekarang udah gak apa-apa kok. Oh iya, mulai sekarang kalo lu gak bawa mobil, gue tungguin sampe balik. Mau sampe pagi lagi juga... Gue tungguin!"
Aku menatap Nina terharu."Uhhh Nina, kaulah sahabat sejati aku,"kataku memperagakan salah satu kartun yang pernah aku tonton.
__ADS_1
Nina dan aku tertawa.
"Nih, kerjain... Kerjaan lu dari kemarin!" kata Nina sambil meletakan dua tumpukan map ke atas mejaku.
Aku melongo menatap dua tumpukan map itu. Banyak banget ternyata...
"NINAAAA TOLONGINNN!" teriakku frustasi. Nina hanya menatapku sekilas lalu keluar dari ruanganku. Meninggalkan aku yang ngereog sendirian.
Dasar... Sahabat durjana!
*****
Waktunya istirahat. Aku berjalan ke luar kantor untuk mengambil pesananku. Sekalian melepas lelah karena sudah seharian diam di ruangan.
"Pak! Kalo bukan karyawan jangan pakai lift dong!"
Aku terhenyak mendengar suara keras seorang laki-laki. Saat aku berjalan ke arah lift, aku melihat seorang bapak-bapak usia lima puluh tahunan, membawa bungkusan sedang terduduk di lantai sambil terus-menerus meminta maaf.
"Cuma nganter makanan doang, pake lewat lift segala! Kan bisa lewat tangga? Manja banget!" kata suara itu lagi, kali ini sambil tertawa keras.
Aku berjalan mendekat dan berjongkok untuk membantu bapak yang ternyata ojek."Ayo pak, bangun. Jangan duduk di sini, kotor."
Bapak ojeknya bangun dan membersihkan celananya yang kotor."Makasih nak." katanya pelan.
Aku mengedarkan pandanganku, banyak karyawan yang masuk dan keluar dari lift, mereka menyapaku ramah. Tapi, ada seorang laki-laki yang berdiri di depan lift. Dia menundukkan kepalanya seperti sedang menghindar dariku. Aku menatapnya tajam, aku tau dia siapa.
Ting!
Pintu lift terbuka laki-laki itu hendak masuk ke dalam.
"Rio! Ke ruangan saya sekarang." kataku tegas. Laki-laki yang ku kenal bernama Rio ini langsung keluar dari lift dan menghampiriku.
"Ngapain kamu pura-pura nggak lihat saya? Kamu pikir saya bodoh!" kataku keras. Sampai beberapa karyawan menengok.
"Ma-maaf bu Nayla... " kata Rio terbata.
"Tutup mulutmu dan keruangan saya sekarang!" kataku mutlak.
Aku sangat membenci sikapnya yang tidak sopan seperti itu. Bahkan, bisa-bisanya dia menyakiti orang yang lebih tua? Setelah ku tanya ternyata, bapak ojek yang Rio dorong tadi adalah bapak ojek yang mengantar pesananku.
Rio mengiyakan dan langsung berjalan ke arah ruanganku. Rio memang di kenal sombong oleh sebagian karyawanku. Katanya, tak jarang dia merendahkan bahkan menghina karyawan baru yang jabatannya lebih rendah dari dia.
Awalnya aku tidak percaya sama desas-desus karyawanku. Karena Rio juga baru bekerja hampir dua tahun ini. Tapi, sekarang aku melihat kelakuannya sendiri. Padahal, jabatan Rio tidak setinggi itu. Sama kaya karyawan biasa. Tapi, dia merasa senior. Apa lagi sama karyawan baru.
"Pak, tolong maafkan kelakuan karyawan saya itu ya." kataku sambil mengambil makanan yang bapaknya sodorkan padaku.
Bapaknya menggeleng."Gak apa-apa nak. Saya memang salah karena pakai lift bukan tangga..."
"Bapaknya nggak salah. Semua orang yang punya urusan dan masuk ke kantor ini, berhak memakai lift." kataku.
Bapaknya tersenyum ramah."Terima kasih ya nak... Saya pamit mau antar pesanan yang lain,"
"Terima kasih kembali, pak." kataku membalas senyuman ramah bapaknya. Tak lupa memberikan tip untuk bapaknya.
Setelah selesai mengambil pesananku, aku masuk ke dalam ruanganku. Aku melihat Rio sedang menundukan kepalanya. Aku duduk di kursi dan mempersilahkan Rio untuk duduk di hadapanku.
__ADS_1
Aku langsung menelpon Nina untuk meminta tolong.
Tutttttt....
"Nin. Ke sini sebentar." kataku singkat lalu mematikan telepon.
Tak lama Nina masuk ke ruanganku."Ada apa, bu?"
"Tolong cek Cctv di lantai satu dekat lift." kataku tegas.
"Baik..." jawab Nina dan langsung pamit pergi.
"Bu saya minta maaf... Saya janji nggak akan melakukan hal seperti itu lagi," kata Rio memelas.
Aku menatapnya tajam."Melakukan seperti apa?"
"Sa-saya..." kata Rio terbata. Kelihatan sedikit panik.
Aku membuka map coklat yang dua tahun lalu Rio pakai untuk melamar pekerjaan di perusahaanku. "Mending kamu diam. Kita tunggu Nina sebentar."
Rio diam sambil menunduk.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk." kataku.
Nina masuk, aku langsung menyuruhnya untuk duduk di samping Rio.
"Bagaimana?" tanyaku.
Nina berdehem."Jam 12:33 Rio mendorong seorang bapak ojek dari lift, jam 12:35 Rio melarang bapak ojek untuk memakai lift, jam 12:37 Rio tertawa sambil merendahkan bapak ojek tadi." kata Nina detail.
Aku mengangguk sambil menatap Rio tajam.
"Ma-maafkan saya bu Nayla! Saya berjanji tidak akan mengulangi perbuatan buruk saya. Dan saya tidak akan merendahkan orang lain lagi." kata Rio memohon.
"Bukan cuma orang luar yang kamu rendahkan. Karyawan yang baru kerja di perusahaan saya juga sering kamu rendahkan bukan?" tanyaku.
Rio terdiam sejenak."Sa-saya..."
"Memangnya selama apa kamu bekerja di perusahaan saya? Setinggi apa jabatanmu di sini? Bukanya seharusnya kamu bisa menjadi contoh yang baik dan membantu junior kamu yang baru bekerja?" kataku tajam.
Rio menunduk."Saya menyesal. Saya tidak akan mengulangi kesalahan bodoh saya lagi. Tolong beri saya kesempatan sekali lagi, bu Nayla."
"Apa jaminan kamu, kalo kamu mau berubah setelah saya beri kamu kesempatan?" tanyaku.
"Bu Nayla bisa pecat saya." katanya yakin.
"Sekarang juga saya bisa, kalo cuma pecat kamu." jawabku tegas.
"Maaf bu... Saya mohon jangan pecat saya, saya harus menafkahi keluarga saya." kata Rio lirih.
"Memangnya, semua karyawan saya di sini kerja buat apa kalo bukan buat nafkahi keluarga mereka? Dan seenaknya kamu merendahkan mereka. Kamu emang gak mikir ke sana? Gak mikir gimana perasaan orang lain yang sudah kamu rendahkan seenaknya? Saya tegasin, jangan pernah ganggu siapapun yang ada urusan di perusahaan saya. Termasuk karyawan dan bapak ojek! Saya kasih kamu kesempatan sekali lagi untuk berubah. Kalo kamu masih seperti sekarang, saya gak akan segan-segan buat pecat kamu! Dan jangan harap setelah keluar dari sini kamu bisa bekerja di perusahaan lain." kataku tajam sedikit mengancam. Rio harus di beri sedikit pelajaran.
"Ma-maafkan saya, bu. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi. Saya janji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang bu Nayla kasih."
__ADS_1
Aku beranjak hendak keluar dari ruangan, ada satu hal lagi yang harus aku lakukan.
"Sekarang, ikut saya." jawabku singkat.