ONLY MINE!

ONLY MINE!
Episode 47


__ADS_3

Nayla menelan salivanya kasar, menatap laki-laki itu takut. Sedangkan, laki-laki itu tengah meminum minuman beralkohol di hadapan Nayla.


"Kamu mau minum, sayang?" kata laki-laki itu menyodorkan segelas minuman ke Nayla.


Nayla membuang mukanya."Tidak."


"Coba dulu segelas. Kamu pasti suka!" kata laki-laki itu memaksa.


Nayla tetap bersikukuh."Tidak!"


Laki-laki itu berdecak kesal. Lalu membuka kasar mulut Nayla dan memasukan segelas kecil minuman itu. Membuat Nayla hampir tersedak.


"Kamu sangat cantik, sayang..." kata laki-laki itu berbisik. Nayla kembali membuang mukanya. Bibirnya dia katupkan dengan rapat. Bau alkohol menyeruak seisi kamar.


Laki-laki itu berdiri dan mengambil sesuatu. Dia mendekat ke arah Nayla, dan menyuntikan cairan bening itu di paha Nayla. Membuat Nayla semakin ketakutan.


"Apa yang kamu lakukan?!" sentak Nayla.


Laki-laki itu tersenyum miring."Apa saja, suka-suka aku."


"Sial*an!" umpat Nayla emosi.


Laki-laki itu tertawa kencang , dan mengeluarkan sebungkus rok*k dari tasnya. Kemudian dia mengambilnya sebatang, mengapitnya di dua jari. Lalu membakarnya.


Laki-laki itu memperhatikan Nayla dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia menghisap rok*knya kuat, laku menghembuskan kepulan asapnya ke wajah Nayla. Membuat Nayla menahan napasnya.


Beberapa menit berlalu, laki-laki itu terus seperti itu. Mengambil rok*k sebatang, membakarnya. Kemudian menghisapnya dengan kuat. Tapi, kali ini dia tidak menghembuskan asapnya ke wajah Nayla.


Nayla menggeliat. Tubuhnya tiba-tiba terasa panas. Nayla sampai menelan salivanya berkali-kali. Dia seperti orang mabuk, tapi tidak minum. Keringat mulai membasahi pelipis Nayla.


Laki-laki itu tertawa puas melihat Nayla yang mulai menggeliat kepanasan. Obat yang dia berikan tadi sudah bereaksi. Laki-laki itu kembali tertawa saat melihat wajah cantik Nayla yang menatap ke arahnya. Membuat, sesuatu yang sedang tertidur jadi berdiri. Laki-laki itu mematikan rok*knya. Dan membuka bajunya. Dia berjalan ke arah Nayla dan mengusap wajah Nayla lembut."Sebentar ya, sayang. Aku cuci mulut dulu, takut kamu nggak suka. Habis itu, ayo kita lakukan..." kata laki-laki itu. Intonasi suaranya berbeda dari sebelumnya. Mungkin karena hasratnya yang sudah bergejolak. Laki-laki itu langsung berjalan ke kamar mandi.


*****


Daren berlari tergopoh-gopoh. Bersama beberapa bodyguard di belakangnya."Di mana kamarnya?!" tanya Daren to the point.


Pegawai yang tadi langsung menunjukan jalannya. Di ikuti dengan Daren di belakangnya. Mereka masuk ke dalam lift, membuat Daren semakin merasa khawatir.'Sial!' batin Daren frustrasi.


Setelah naik ke lantai 12, lift terbuka. Pegawai itu langsung keluar dan menunjuk kamar paling pojok"Itu, pak. Di sana!" kata pegawai itu yakin.

__ADS_1


Daren langsung berlari kencang. Setelah sampai di depan pintu kamar, pegawai yang tadi menempelkan sebuah kartu cadangan. Tak lama, pintunya terbuka. Terlihat laki-laki itu sedang membuka celananya.


BUK!


Daren berlari dan menendang punggung laki-laki itu keras. Membuat laki-laki itu tersungkur ke lantai. Kemudian, Daren melihat ke arah kasur. Ternyata, benar. Itu Nayla! Istrinya. Nayla menatap Daren sayu, sambil tak berhenti menggeliat. Seperti sedang kepanasan.


BUG! Daren menonjok pipi laki-laki itu keras. Setelah menduduki perutnya.


"ANJ*NG! LU APAIN ISRTI GUE, BANGSAT!"


Laki-laki itu terbatuk-batuk. Tak siap menerima tendangan dan pukulan Daren.


BUG!


"Ampun!" teriak laki-laki itu meminta ampun.


BUG!


PLAK!


BUG!


"Pak Daren. Sudah pak! Lihat bu Nayla, kasihan!" kata komandan bodyguardnya.


Daren yang tersadar, langsung menoleh ke arah Nayla yang semakin menggeliat."SIAL!!" sentak Daren.


Daren mengangkat laki-laki itu, dan menghempaskannya ke dinding.


BRAK!


"ARGGHH!" teriak laki-laki itu.


"Bawa bajing*n gila itu ke penjara eddyson. Supaya dia mati dengan perlahan!" suruh Daren mutlak. Intonasi suaranya mengecil, tapi sangat tajam.


"Baik, pak!" sahur mereka kompak.


Semua bodyguard Daren keluar. Menyisakan dirinya dengan Nayla. Daren langsung menghampiri Nayla dan memeluknya erat."Sayang... Ini aku, maafin aku karena lama nolongin kamu," tangis Daren pecah.


"Da-daren... A-aku aku... Panas..." kata Nayla terbata.

__ADS_1


Daren melepaskan pelukannya, lalu mengusap wajahnya kasar. Menghapus buliran air yang terus mengalir di pipinya. Daren membuka tali yang mengikat pergelangan tangan dan kaki istrinya itu.


Membuat Nayla nyaris membuka gaunnya, kalo tidak Daren tahan. Daren mengambil ponselnya, dan memencet kontak pak gilang, yang sudah membantunya.


"Halo... Pak gilang. Terimakasih banyak atas informasinya tadi. Saya sudah ketemu sama istri saya," kata Daren pelan.


"Halo! Syukurlah kalo sudah ketemu. Saya ikut senang, pak!" jawab Gilang.


"Iya pak. Semua berkat bapak dan pegawai-pegawai bapak yang sudah bantu saya. Terimakasih sekali lagi!"


"Iya pak. Kita sesama manusia, harus saling membantu dan menolong... Apa pak Daren dan bu Nayla masih di hotel saya?" tanya gilang.


"Iya pak, masih. Apa ada kamar kosong yang biasa saya pesan? Sepertinya si bajin*an itu memberi istri saya obat-obatan. Jadi, saya akan menginap di sini beberapa hari," kata Daren. Dia menatap Nayla yang sudah bergelayut manja di pangkuannya. Sambil mencoba membuka satu persatu kancing kameja yang Daren gunakan.


"Ada. Sudah saya siapkan, pak! Silahkan ke kamar biasa. Pegawai saya sudah stay di sana untuk membuka pintu!" kata gilang ramah.


"Baik. Terimakasih banyak pak gilang!" kata Daren lagi.


"Iya pak. Sama-sama!"


Tut. Panggilan terputus.


"Daren..." panggil Nayla manja.


"Iya sayang..." Daren menatap netra layu Nayla. Membuat Daren menelan salivanya kasar."Kamu cantik, sayangku..." kata Daren lembut. Dia mengusap pelan bibir Nayla. Tapi, kali ini respon Nayla berlebihan. Dia mengemut pelan tangan Daren.


"Hei..." kata Daren terkejut.'Sial*n itu! Dia memberikan obat pada istriku. Sepertinya, dia ingin menyentuh Nayla... Atau, dia sudah menyentuhnya?' batin Daren. Hatinya berdenyut sakit, air matanya terus mengalir deras. Membayangkan betapa ketakutannya Nayla saat di culik sama si bajin*an gila itu.


Daren langsung menutupi seluruh tubuh Nayla dengan selimut. Kemudian dia menggendong Nayla, untuk pindah kamar. Daren menatap ke arah dadanya. Nayla berhasil membuka beberapa kancing kameja bagian atas, milik Daren. Membuat dada bidang Daren terekspos. Daren langsung mempercepat langkahnya.


Tak lama, Daren sampai di kamar hotel yang biasa dia pesan. Tak lupa mengucapkan terimakasih banyak kepada pegawai yang sudah membantunya. Apa lagi, membantu menemukan istrinya itu. Dia juga memberikan amplop coklat yang tebal, sebagai kata terimakasih. Walau pun pegawai itu sempat menolak. Tapi, Daren memaksa supaya di terima. Membuat pegawai itu tak punya pilihan lain.


Clik. Daren menutup pintu kamar hotelnya.


"Daren..."


Daren menengok ke arah Nayla. Membuat Daren langsung menelan salivanya berat. Jantung Daren berdegup kencang, perasaannya bergejolak beriringan dengan hasratnya. Ternyata, Nayla sudah membuka gaunnya.


"Untung pegawainya udah pergi..." gumam Daren pelan, dia berjalan menghampiri Nayla.

__ADS_1


HAPPY READING 🥰🥰🥰


__ADS_2