ONLY MINE!

ONLY MINE!
Ada Dalang di balik Kecelakaan Nina?


__ADS_3

Brummmm


Nayla langsung berlari ke arah Daren yang baru sampai entah dari mana."Daren! Daren! Ayo cepat. Kita harus ke rumah sakit!" kata Nayla sambil mengusap air mata yang terus menetes dari pelupuk matanya.


Daren menatap Nayla heran,"Buat apa? Ini aku bawa es krim buat kamu," kata Daren santai. Sambil menyodorkan seplastik putih isi es krim dan camilan.


"Kamu nggak tau? Nina kecelakaan Daren!" sentak Nayla.


Daren mematung kebingungan, seketika Daren langsung tersadar dan bergegas kembali masuk ke dalam mobil."Ayo cepat! Di rumah sakit mana?" tanya Daren menghidupkan mesin mobil.


Nayla duduk di samping Daren."Rumah sakit Keluarga masyarakat," kata Nayla menyebutkan salah satu Rumah sakit yang tidak terlalu jauh.


Daren langsung melaju menuju rumah sakit itu."Kok bisa Nina kecelakaan?" tanya Daren.


Nayla menggeleng."Aku juga nggak tau. Keburu panik, ntar tanya aja sama Adnan," jawab Nayla. Sambil memegang jantungnya, yang terus berdetak kencang karena khawatir.


Tak lama, mobil Daren masuk ke pekarangan rumah sakit. Nayla langsung menelpon Adnan untuk menanyakan kamar yang Nina tempati.


"Kamar mawar lantai dua," kata Adnan pelan.


Nayla langsung mematikan ponselnya, dan menarik pelan tangan Daren untuk segera ke lantai dua. Terlihat dari tempat Nayla dan Daren berdiri, Adnan tengah berjalan bolak-balik di tempat. Sepertinya, Adnan sangat khawatir.


"Adnan!" pangil Nayla.


Adnan menoleh dan melambaikan tangannya. Mereka berdua langsung menghampiri Adnan dengan cepat.


"Adnan! Gimana kabarnya Nina?" kata Nayla. Sambil memegang kedua pundak Adnan cemas.


Adnan lesu."Gue juga belum tau, Nay. Nina masih di periksa dokter," gumam Adnan lirih.


Daren menepuk punggung Adnan pelan."Gue yakin, Nina pasti nggak akan kenapa-kenapa! Lu percaya kan, sama gue?" kata Daren. Adnan mengangguk pelan.


"Bener! Nina pasti nggak apa-apa!" kata Nayla berusaha untuk menenangkan diri.


Krettttt


Pintu ruangan Nina terbuka. Seorang dokter keluar dari sana, menggunakan masker dan sarung tangan. Adnan langsung berlari kecil menghampiri dokter,"Gimana dok? Keadaan temen saya?" tanya Adnan khawatir.


Dokter menatap Adnan, Daren dan Nayla secara bergantian."Keluarga korban mana?" tanya dokter itu.


"Orang tua korban lagi di jalan, dok. Tapi, saya saudaranya. Gimana keadaan saudara saya, dok?" ujar Nayla.

__ADS_1


Dokter mengangguk pelan."Tidak usah cemas. Saudara Nina tidak memiliki luka yang serius. Cuma, kakinya belum bisa berjalan untuk beberapa hari kedepan," kata dokter menjelaskan.


Adnan, Daren dan Nayla menghembuskan napas lega."Apa boleh kami masuk dok?" tanya Adnan.


Dokter mengangguk,"Silahkan... Tapi, jangan terlalu lama ya. Biarkan saudara Nina beristirahat," jawab dokter ramah.


Kami bertiga mengangguk mengerti."Terimakasih banyak, dok!" kata Nayla dan Adnan kompak.


Dokter mengangguk dan pamit untuk pergi. Nayla, Daren dan Adnan langsung masuk untuk melihat keadaan Nina. Nina sedang terbaring lemah dengan kepala yang terbalut perban.


"Nin... Gimana keadaan kamu?" tanya Adnan lembut, sambil memegang tangan Nina.


Nina membuka matanya perlahan,"Adnan... aku nggak apa-apa," jawab Nina pelan.


Adnan tersenyum,"Syukur deh, kalo kamu udah nggak apa-apa. Aku seneng dengernya," kata Adnan mengusap pelan tangan Nina.


"Ninaaaaaaa! Apa yang sakit?" Nayla menghampiri Nina sambil mencari luka di tubuh Nina.


Nina terkekeh pelan."Gue nggak apa-apa, Nay. Tenang aja," jawab Nina sambil mengangkat jempolnya.


Nayla menghela napas berat,"Aku khawatiirrrr banget sama kamu!" kata Nayla sambil memeluk Nina. Nina membalas pelukan Nayla, masih dengan posisi tiduran.


"Kok bisa... Nin?" tanya Nayla pelan. Sambil melepaskan pelukannya. Takut Nina kenapa-kenapa.


Adnan dan Daren terkejut mendengar perkataan Nina."Jadi, kamu kecelakaan gara-gara remnya blong?" tanya Nayla memastikan.


Nina mengangguk."Ada yang nggan beres, nih! Kayaknya, ada yang sengaja mutusin rem di mobil gue!" kata Nina menatap Nayla yakin.


Nayla mengernyit."Siapa ya, kira-kira. Kurang ajar kalo emang beneran!" kata Nayla mengepalkan lengannya.


"Di rumah aku ada Cctv. Nanti aku cek deh, kamu tenang aja ya!" kata Adnan menenangkan Nina. Nina mengangguk sambil cemberut.


'Siapa yang berani macam-macam? Sampai Nina jadi korban. Awas aja, kalo emang beneran Nina kecelakaan karena di sengaja. Gue habisin pelakunya!' batin Adnan emosi.


Adnan tersenyum ke arah Nina. Padahal, hatinya sudah memberontak ingin menghajar orang yang sudah mencelakai Nina. Apa lagi, dia lakukan itu di pekarangan rumahnya.


"Kalo beneran... Bahaya banget sih!" sahut Daren. Adnan mengangguk membenarkan.


"Lu punya musuh?" tanya Daren lagi.


Adnan menggeleng cepat."Nggak! Gue gak punya musuh," jawab Adnan.

__ADS_1


Daren berdehem."Coba lu inget-inget. Siapa yang berani senekat itu sampai nyelakain orang!"


"Atau... Ada orang yang ke rumah kamu kemarin, cuma kita gak sadar?" kali ini, Nayla yang bertanya.


"Bisa jadi! Sebentar gue coba tanya sama satpam deh. Sekalian liat Cctvnya," jawab Adnan.


"Gue yakin. Pasti orang dekat yang lu atau gue kenal," kata Daren menatap Adnan. Lalu, mengangguk. Adnan yang paham ucapan Daren ikutan mengangguk.


*****


Adnan melihat ke arah Nina yang sudah tertidur. Wajah cantik Nina sedikit pucat, membuat hati Adnan sakit melihatnya. Adnan bergegas mengambil ponsel dan menelepon satpam di rumahnya. Karena, dia sudah tidak sabar. Ingin memastikan omongan Daren, Nayla dan Nina. Apa benar, kemarin ada orang yang masuk ke rumahnya, dan ingin mencelakai Nina atau temannya yang lain? Bahkan mungkin dirinya.


Drttttttt


"Halo, Pak Adnan..." terdengar suara satpam di sebrang sana.


"Halo, pak. Saya mau tanya, kemarin apa ada orang yang masuk ke rumah saya, selain Nayla, Nina dan Daren?" tanya Adnan.


Pak satpam berdehem." Oh, itu. Ada pak. Mbak Tiara, katanya, temennya bapak sama pak Daren. Udah janjian ketemuan di dalam. Jadi saya izinkan. Soalnya, kemarin pas bapak ulang tahun, mbak Tiara juga ada. Memangnya, kenapa pak?" jawab pak satpam. Kemudian, balik bertanya.


Deg!


Jantung Adnan berdetak kencang. Untuk apa Tiara datang ke rumahnya? Bahkan, selama sepuluh tahun pertemanan. Tiara baru sekali saja datang ke rumah Adnan, waktu Adnan ulang tahun kemarin. Masa Tiara pelakunya? Tapi, untuk apa dia mencelakai orang lain? Atau, Tiara sengaja ingin mencelakai dirinya? tapi yang kena malah Nina? batin dan pikiran Adnan berkecamuk.


"Oh, begitu... Saya minta rekaman Cctv pekarangan, waktu kemarin ya, pak. Sekarang juga, tolong kirimin ke saya. Terimakasih!" kata Adnan dan langsung menutup panggilan telepon.


Drttttt


Adnan mengecek ponselnya. Pak satpam baru saja mengirim rekaman Cctv yang dia pinta. Saat Adnan membuka rekaman itu, Adnan mengepalkan lengannya kuat.


"Brengs*k!" maki Adnan pelan. Sambil mengacak rambutnya kasar.


Adnan bergegas keluar ruangan. Menghampiri Nayla dan Daren yang sedang duduk di luar."Daren!" panggil Adnan sambil berlari kecil menuju tempat Daren.


Daren langsung menoleh."Kenapa?"


"Gila! Gue gak nyangka siapa yang udah buat Nina kecelakaan! Sial*n emang!" sentak Adnan frustasi.


Daren dan Nayla yang melihat Adnan seemosi itu langsung mengerti."Siapa?" tanya mereka berdua kompak.


"Tiara!" kata Adnan.

__ADS_1


Bersambung...


Hai semuanya. Jangan lupa like dan komentar ya. Supaya author semangat buat update bab baru. Terimakasih!❤️


__ADS_2