ONLY MINE!

ONLY MINE!
Nina Kecelakaan?


__ADS_3

"Penerus perusahaan Eddyson!" sela Adnan membuat Nina menatap Daren takjub.


"Gue baru tau kalo Daren penerus perusahaanya Eddyson!" kata Nina.


"Emangnya kenapa?" tanya Nayla heran.


"Yaa nggak apa-apa sih. Cuma keren aja! Beda sama Fahmi yang masih jadi karyawan, tapi udah semena-mena sama orang lain!" kata Nina kesal.


"Untung lu gak jadi nikah sama Fahmi, Nay!" sambung Nina menatap Nayla dalam.


Nayla mengangguk membenarkan."Untungnya... Mending kalo kelakuannya bagus sih, aku gak masalah," jawab Nina. Mengingat kelakuan Fahmi yang meminta berhubungan ba*an dengannya sebelum menikah. Untung saja, Nayla menolak mentah-mentah ajakan Fahmi. Karena emang dasarnya, Fahmi cuma mempermainkan Nayla saja. Sebelum Fahmi menikah dengan Lia.


"Oh, iya. Denger-denger, waktu itu Raka dateng ke kantor lu ya, Nay? Mau apa dia?" tanya Adnan. Membuat Daren menoleh menatap ke arah Nayla.


"Nanyain saham yang papa cabut di perusahaan Xxx1," jawab Nayla.


Adnan mengangguk-anggukan kepalanya mengerti."Gue denger, sekarang perusahaan Xxx1 udah bangkrut. Terus lagi ngemis-ngemis saham ke perusahaan lain," jelas Adnan.


Nayla termenung merasa bersalah."Apa aku simpen saham di sana lagi, ya? Aku kasihan sama pak Andrenya," kata Nayla menatap Nina dan Adnan secara bergantian.


"Tidak," sahut Daren singkat.


Nayla menoleh ke arah Daren yang duduk di sampingnya."Kenapa?" tanya Nayla.


"Biar Austin mengerti dulu. Kalo membangun dan menjalankan suatu perusahaan itu nggak mudah. Jadi, dia bisa lebih berpikir kedepannya untuk tidak selalu membuat acara yang tidak seharusnya. Kalo terus berjalan, malah kasian sama pak Andre yang harus mengeluarkan banyak biaya untuk acara yang gak penting, yang di adain Austin. Sedikit kasih pelajaran buat Austin juga kan? Lagi pula, sekarang pak Andre jadi banyak hutang karena pemikiran pendek Austin yang terus menghamburkan uang," jelas Daren membuat Nayla, Nina dan Adnan mengangguk paham.


"Iya sih. Semoga pak Andre baik-baik saja melihat perusahaannya yang sekarang sudah bangkrut," kata Nayla prihatin sambil membayangkan wajah letih pak Andre.


"Tenang... Pak Andre hidupnya sudah terjamin. Soalnya, dia punya beberapa toko yang dia sewakan tanpa sepengetahuan Austin," kata Daren lagi.


Adnan menatap Daren bingung."Kok, lu bisa tau semuanya?" tanya Adnan ragu.


"Tau... Kan pak Andre itu om gue," kata Daren santai.


Nayla, Adnan dan Nina terkejut mendengar perkataan Daren."Loh, berarti Raka juga saudara kamu?" tanya Nayla tak habis pikir.


Daren mengangguk."Iya. Cuma gak akur aja," kata Daren tenang.

__ADS_1


"Gila! Sedikit plot twist! Kok, lu gak bilang dari kemarin pas di bandung?" tanya Nina.


Daren menggeleng."Buat apa? Dia gak sepenting itu, kok," jawab Daren.


Adnan mengangguk paham."Gue sebenarnya udah curiga, waktu lu sama Raka nggak tegur sapa sama sekali, sih. Cuma, gue gak nyangka aja kalo si Raka itu saudara lu!" ujar Adnan.


Daren menoleh."Saudara jauh sih. Jadi, nggak terlalu deket juga," jawab Daren.


Nayla manggut-manggut."Oh, gitu,"


"Oh, iya, Nay! Gue mau minta maaf atas kelakuannya Tiara kemarin! Gue bener-bener gak paham sama jalan pikiran Tiara, kenapa dia bisa ngelakuin hal kayak gitu," kata Adnan menatap Nayla sedih.


Nayla tertawa pelan."Haha, gak apa-apa Adnan. Tiara cuma cemburu,"


"Cemburu kenapa?" tanya Nina mencodongkan badannya ke arah Nayla, penasaran.


"Gara-gara dia ngeliat lu deket sama Daren, ya?" tanya Adnan. Membuat Nayla mengangguk membenarkan.


"Tuh kan! Emang gila si Tiara itu. Dia emang gitu Nay, dari sepuluh tahun yang lalu dia udah suka sama Daren," kata Adnan menggebu.


Nayla menatap Adnan heran."Sepuluh tahun lalu? Jadi, Tiara itu temen lama kalian?"


"Kenapa Daren nggak suka sama Tiara? Kan dia udah lama suka sama Daren?" tanya Nayla. Melirik Daren yang sedang menatapnya kesal.


"Nggak! Aku gak suka sama siapa-siapa. Kecuali..." kata Daren kesal.


Adnan melihat ke arah Daren penasaran."Kecuali?"


"Kecuali?" sahut Nina tak sabar.


Nayla memegang dadanya yang berdegup kencang. merapalkan doa di dalam hati, semoga Daren tidak menyebutkan namanya.'Awas aja Daren!' batin Nayla.


Daren melirik Nayla sekilas."Kepo!" jawab Daren santai. Membuat Nina dan Adnan merengut kesal.


"Daren!" sentak Nina dan Adnan kompak.


Nayla menghembuskan napasnya lega... Untung Daren tidak menyebutkan namanya!

__ADS_1


Tak lama, mereka berempat menonton televisi bersama. Membuat Nayla yang sudah kelelahan mengantuk dan tak terasa tertidur. Daren yang sejak tadi memperhatikan Nayla tersenyum tipis. Bisa-bisanya gadisnya itu selalu ketiduran.


Nina menguap,"Adnan... Aku pulang dulu ya, aku ngantuk banget!" kata Nina.


"Aku anterin ya?" kata Adnan langsung beranjak.


"Gak usah, gak apa-apa aku bisa sendiri," tolak Nina.


"Nggak. Pokoknya aku anterin," kata Adnan bersikukuh.


"Ga perlu Adnan... Aku bisa sendiri," tolak Nina sama-sama kukuh.


Adnan menghela napasnya pelan."Yaudah, kalo kamu maksa pengen sendiri. Tapi, hati-hati ya? Jangan ngebut-ngebut!" kata Adnan memperingati.


Nina terkekeh pelan."Siap, bos!"


Nina langsung berpamitan pada Daren, dan menitipkan Nayla sekalian. Kemudian, Nina melajukan mobilnya untuk pulang. Daren juga pamit pada Adnan untuk pulang, dan menggendong Nayla, karena tidak tega untuk membangunkan Nayla. Adnan yang paham, hanya mengingatkan untuk pelan-pelan dan tidak mengebut. Daren mengiyakan.


Daren kembali meletakan Nayla di pangkuannya. Lalu, melajukan mobil ke arah rumahnya. Sesekali, Daren menatap Nayla yang sedang tertidur. Melihat wajah cantiknya yang tenang membuat jantung Daren terus berdetak tak karuan.


"Nayla... Aku mencintaimu..."


*****


Nayla melenguh pelan. Membuka matanya perlahan. Ternyata, dia sudah pindah ke atas kasur. Nayla mengedarkan pandangannya bingung. Karena dia sedang tidak berada di kamarnya. Setelah kesadarannya kembali sepenuhnya, Nayla teringat bahwa ini adalah salah satu kamar di rumah Daren.


Drtttttt


Drtttttt


Nayla menatap ponselnya yang sejak tadi berdering. 'Adnan? Ngapain dia meneleponku malam-malam begini?' batin Nayla heran.


"Halo..."


"Halo, Nay! Nina kecelakaan!" terdengar suara Adnan yang bergetar seperti sedang menangis dari sebrang sana.


"A-apa! Di mana Nina sekarang?!" sentak Nayla terlonjak kaget. Netranya langsung memanas, gemuruh di dadanya bergejolak. Napasnya tersengal. Jantungnya seperti berhenti berdetak beberapa saat.

__ADS_1


Bersambung...


Hai semuanya! Apa kabar? Jangan lupa like dan komentar yaa biar author semangat buat update bab baru! Terimakasih 😊❤️


__ADS_2