ONLY MINE!

ONLY MINE!
Penjelasan soal Gifa dan Susi


__ADS_3

Daren menoleh."Iya Nay?" jawab Daren.


Aku langsung menghampiri Daren."Kamu ngapain tiduran di rumput..."


"Di sini nyaman..." jawab Daren.


Aku langsung merebahkan tubuhku di sebelahnya, ternyata beneran nyaman.


"Daren..." panggilku pelan.


Daren menoleh."Kenapa?"


"Maaf ya... Udah buat kamu gak nyaman, karena ajak Raka ikut liburan," kataku menatap manik hitam legam Daren.


Daren terkekeh pelan."Apa sih... Aku biasa aja, kok!" jawabnya sambil mengusap pelan kepalaku.


"Beneran?" tanyaku memastikan.


"Iya beneran! Udah, kamu gak usah khawatir," jawab Daren lembut.


Drttttttt


Drttttttt


Aku menatap layar ponselku yang terus bergetar. Ternyata, ada panggilan dari papa.


Tumben banget papa nelpon!


"Halo, pa!"


"Halo, Nay. Kamu udah di bandung?" tanya papa. Suaranya terdengar sangat tenang.


"Udah, pa. Ada apa papa nelpon? Tumben," kataku.


Papa berdehem."Ada yang mau papa omongin. Lusa nanti papa pulang ke rumah sama mama. Kamu di situ cuma tiga hari kan? Nanti langsung pulang ya. Penting!"


Aku mengernyit."Omongin sekarang aja, pa!" jawabku penasaran.


"Nanti aja... Udah deh, papa tutup ya. Jaga diri kamu!"


"Tapi-" belum sempat aku menyelesaikan perkataanku. Papa langsung menutup teleponnya.


Tutttt...


"Papa ngeselin!" kataku kesal.


Aku menoleh ke arah Daren yang ketawa sendiri.


"Apa sih. Gak lucu!" kataku sebal.


"Udah... Jangan marah-marah mulu!" kata Daren mencubit pelan pipiku.


"Daren! Jangan cubit-cubit!" kataku kesal.


Daren tertawa.


"Nay. Mau bbq-an kapan?" tanya Nina yang berjalan menghampiriku.


"Sekarang yuk!" kataku yang langsung beranjak bangun.


Kami langsung menyiapkan semua alat yang akan di pakai untuk bbq-an. Aku mengelap piring-piring untuk daging dan sosis yang sudah masak.


Daren dan Adnan sedang membolak-balikan sosis dan daging. Nina sedang menyiapkan karpet. Sedangkan Raka tengah memotong selada.


Aku menghampiri Daren dan Adnan yang sedang memanggang."Kayaknya udah beres semua... Aku mau ganti baju renang dulu, deh!"

__ADS_1


"Iya sana ganti, bentar lagi mateng..." sahut Daren.


Aku langsung beranjak ke arah Nina."Nin, yuk ganti baju,"


Nina menoleh,"Yuk!"


Setelah selesai ganti baju, aku dan Nina kembali ke kolam renang.


Daren, Adnan dan Raka lagi duduk di karpet. Sepertinya makanan sudah siap semua.


"Makan dulu, Nay!" kata Nina semangat.


Kami semua langsung makan. Sambil bercanda dan sesekali tertawa. Berbeda dengan Daren yang sejak tadi banyak diam dan sesekali memperhatikanku.


Raka menatapku sambil tersenyum."Nay... Kamu cantik banget kalo pake baju renang..."


Aku tertawa pelan."Makasih..."


"Emang biasanya Nayla jelek?" celetuk Nina sarkas.


"Bukan gitu... Tapi, sekarang tambah cantik!" kata Raka terkekeh.


Daren menarik tanganku pelan."Yuk berenang!" kata Daren dengan wajah masam.


Aku beranjak dan mengikuti Daren yang masih memegang tanganku. Lalu berenang berdua sebelum yang lain menyusul.


*****


Tak terasa sudah tiga hari kami bersenang-senang di villa. Walau pun jalan-jalan nya hanya sehari. Tapi, sangat menyenangkan menghabiskan waktu bersama.


Raka, Adnan, Daren dan Nina sudah pulang duluan. Hanya aku sendiri yang masih tinggal di hotel, bukan di villa lagi.


Sebelum pulang, tadi aku minta di antarkan ke hotel xx ini. Sekalian mereka lewat. Aku juga akan menginap selama dua hari di sini, untuk mencari karyawan supermarket dan menanyai Kaira tentang Gifa dan Susi.


Aku mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja, untuk menelpon Dina.


Tut.


Drtttttt


"Halo..." jawab Dina di sebrang sana.


"Din. Besok bisa ketemu nggak di supermarket?"


Dina terdengar menarik nafas panjang.


"Buat apa, Nay?"


"Buat meluruskan apa yang terjadi. Kok kamu keluar dari supermarket gak bilang ke aku?" protesku.


"Kan kamu yang pecat aku... Buat apa aku bilang lagi?" kata Dina.


Aku terhenyak."Kapan Din? Orang tiga hari yang lalu aku ke supermarket nyari kamu, kamunya nggak ada!" bantahku.


"Kata Gifa. Kamu pecat aku karena kerjaku gak bener. Terus karena aku ketahuan mencuri juga. Padahal, aku gak ngelakuin apa-apa," jawab Dina.


"Aku gak pernah pecat kamu! Udah deh, besok ketemuan di supermarket ya! Oh, iya. Kamu ada temen cowok yang butuh kerjaan nggak?"


"Iya deh... Kebetulan ada dua orang! Salah satunya kakakku lagi nyari kerjaan," kata Dina.


"Boleh deh. Besok sekalian suruh ikut ke supermarket ya!"


"Oke! Sampai ketemu besok ya,"


"Oke!"

__ADS_1


Tut...


Aku menghela nafas. Bisa-bisanya si Gifa memecat Dina pakai namaku! Keterlaluan.


*****


Aku sudah sampai di supermarket lebih awal. Karena kuncinya aku yang pegang. Tak lama, Kaira dan Dina datang. Di belakang Dina ada dua orang laki-laki yang mengikuti.


"Nay!" kata Dina yang langsung memelukku.


"Ayo-ayo, duduk dulu..."


"Ini yang mau kerja Nay. Ini kakakku!" kata Dina setelah duduk.


Aku mengangguk."Kalian berdua saya terima kerja di sini. Saya gak minta syarat yang macam-macam, cuma kejujuran itu wajib. Disiplin itu harus, dan punya niat kerja jangan malas. Itu saja," kataku menatap mereka berdua secara bergantian.


"Baik, bu!" kata mereka berdua kompak.


Aku menoleh ke arah Dina."Gimana Din. Coba ceritain selama aku gak ngawasin hampir dua bulan ini, apa yang udah terjadi,"


"Jadi, waktu itu Kiara sakit jadi nggak masuk. Terus Gifa dateng-dateng bawa sodaranya, si Susi itu. Kata Gifa, mulai hari itu Susi kerja di sini. Dia ngeselin banget sih. Kerjanya cuma main ponsel doang!" kata Dina kesal.


"Nah, pas hari ke dua... Gifa keluar, gak tau ke mana. Di supermarket cuma ada aku sama Susi doang. Karena supermarket lagi rame banget, aku keteteran kerja sendiri. Sedangkan, Susi cuma main ponsel sambil ketawa-ketawa aja. Aku tegur dong. Minta tolong buat bantuin juga, jangan cuma enak-enakan doang..." sambung Dina. Aku mendengarkan dengan detail.


"Tapi, kayaknya Susi gak terima. Terus malamnya pas mau tutup, gelangnya si Susi hilang. Gak tau ke mana, pas di cari malah ada di loker dalam tas aku. Padahal, aku gak ngambil. Orang seharian aku sibuk ngelayanin customer! Ehh, Gifa bilang kalo kamu pecat aku. Jadi, besoknya aku gak di perbolehkan untuk kerja lagi," kata Dina sambil berapi-api.


Aku menghela nafas."Padahal, aku gak tau apa-apa. Tau Susi kerja di sini aja nggak, apa lagi kamu di pecat."


Dina mengangguk."Keterlaluan si Gifa sama Susi!"


"Sekarang, aku titip supermarket sama kamu, Din. Tolong kasih tau aku kalo ada apa-apa ya. Jagain Kaira juga!" kataku menyerahkan kunci pada Dina.


"Berarti aku boleh kerja lagi?" kata Dina.


"Iya. Mulai sekarang kerja lagi ya..."


Dina menolak."Gak ah! Kalo masih ada Gifa sama Susi!"


"Udah di pecat kok..." sahut Kaira.


"Beneran? Baiklah, aku akan bekerja, bu Nayla!" kata Dina senang.


Aku mengangguk."Jangan kayak Gifa tapi kelakuannya..."


Dina mendengkus sebal."Ya, gak bakalan dong!"


"Sekarang Kaira... Kenapa kamu diam saja waktu Susi nyuruh-nyuruh kamu waktu itu?" tanyaku.


Kaira menatapku."Kok, bu Nayla tau?"


Aku mengangguk."Aku lihat waktu lagi nyari bumbu. Kan lewat pintu mau ke gudang belakang, pas Susi lagi nyuruh kamu buat bikinin kopi..."


Kaira mengangguk."Saya gak ada pilihan lain, bu. Soalnya Gifa sama Susi ngancem mau pecat saya kalo saya nggak nurut. Bahkan, uang gaji saya saja di potong bulan kemarin. Padahal, saya nggak ngelakuin kesalahan apa-apa. Barang supermarket juga komplit gak ada yang hilang. Tapi, setiap saya tanya soal gaji. Gifa selalu bilang kalo itu biaya admin. Masa biaya admin perbulan sampai ngambil setengah dari gaji saya..." kata Kaira menjelaskan.


Memang setiap gaji karyawan aku kirim semua ke Gifa. Aku kira, dia tidak akan seperti itu!


Aku berdiri."Ya sudah. Saya bakalan ke sini satu bulan sekali. Tolong kerjasamanya!"


"Buat Kaira, nanti saya transfer ya uang yang di ambil sama Gifa... Kamu tenang aja," kataku sambil tersenyum.


"Baik, bu..." jawab Kaira pelan.


Aku pamitan pada mereka dan bergegas untuk kembali ke hotel. Mungkin, hari ini aku akan istirahat satu hari penuh. Untuk mengumpulkan energi buat bekerja besok.


Bersambung...

__ADS_1


Haiii semuanyaaaa. Jangan lupa like sama Comentnya ya 🥹❤️


__ADS_2