
Setelah semua tamu pulang, Daren mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Nayla. Ternyata, dia sudah tidak ada di atas pelaminan."Nayla kemana? Apa sudah pulang ke hotel duluan?" gumam Daren.
Daren langsung mencari Nayla ke setiap sudut gedung. Sampai kamar mandi pun semua sudah Daren hampiri. Tapi, tidak ada tanda-tanda keberadaan Nayla. Daren menghela napas."Nayla kemana ya? Mana mungkin dia ke hotel duluan. Jarak hotel sama gedungnya kan lumayan jauh. Sedangkan, Nayla tidak membawa mobil.
"Atau di jemput sopir?" Daren terus menerka-nerka perginya Nayla. Daren langsung mengeluarkan ponselnya, dan menelepon sopir Nayla.
Drttttt
"Halo..."
"Halo pak. Apa bapak ada antar Nayla ke hotel barusan?" tanya Daren memastikan.
"Loh, bukannya bu Nayla masih di gedung, pak? Saya gak di suruh jemput atau nganterin," jawab pak sopir.
Daren langsung mematikan ponselnya. Perasaan tak enak menjalar di hatinya. Gemuruh di dadanya bergejolak.'Tidak mungkin kan, kalo Nayla di culik?' batin Daren panik.
Daren berlari ke arah mobilnya dan langsung tancap gas menuju hotel. Setelah 15 menit, dia sampai di hotel. Daren kembali berlari menuju lift dan naik ke lantai tempat kamarnya dan Nayla berada. Jantungnya berdegup kencang."Nayla pasti ada di hotel," kata Daren meyakinkan dirinya.
Saat Daren membuka pintu kamarnya. Dia langsung bergegas mencari Nayla ke seluruh penjuru kamar."Nay! Kamu di mana? Jangan bercanda!" teriak Daren frustrasi. Daren langsung bergegas ke kamar mama dan papanya.
Daren mengeluarkan ponselnya dan memencet nomor papanya, sembari dia memencet kembali lift untuk turun ke bawah. Karena lantai kamarnya dan orangtuanya berbeda.
"Hal-"
"Pa! Nayla ada di situ nggak?" sela Daren.
"Maksudnya? Papa sama mama udh tidur dari tadi. Bukannya Nayla sama ka-"
Tut!
Daren mematikan teleponnya. Dia langsung memencet nomor orang tuanya Nayla.
"Halo..."
Daren menarik napas panjang. Menghembuskannya perlahan, supaya tidak terlalu panik."Halo, ma, pa. Maaf ganggu. Nayla ada di situ?" tanya Daren. Suaranya bergetar hebat, padahal dia sudah berusaha semaksimal mungkin supaya tidak terdengar panik.
"Loh, Daren. Bukannya Nayla masih ada di gedung?"
__ADS_1
Jantung Daren kembali berdetak kencang. Napasnya tersengal-sengal,"Tolong telepon orang-orang terdekat pa. Tanyain Nayla. Siapa tau, Nayla ada sama mereka. Nayla gak ada di sini. Daren udah nyari kemana pun, Nayla nggak ketemu. Sekarang Daren mau ke kantor polisi!" kata Daren. Dia langsung mematikan teleponnya.
"SIAL*N" Daren mengerang dan mengacak rambutnya frustrasi."Nayla... Kamu di mana?"
Saat tersadar dari sesuatu. Daren langsung tancap gas ke rumah Nina. Dia yakin, ada orang yang sengaja menculik Nayla.
Tak butuh waktu lama, Daren sudah berdiri di depan rumah Nina. Dia langsung memencet bel beberapa kali, sampai terdengar suara langkah kaki orang yang mendekat.
Ceklek!
Nina berdiri di ambang pintu sambil mengucek matanya."Nina! Ada Nayla nggak di sini?" tanya Daren panik.
Nina langsung membelalakan matanya. Melihat Daren yang masih menggunakan jas pengantin, dengan penampilan yang acak-acakan."Nggak ada. Kan-"
"Gue udah nyari Nayla kemana-mana tapi nggak ketemu!" sela Daren.
"APA?! YANG BENER LU!" sentak Nina terkejut.
"Serius Nin! Gue panik banget sekarang. Gue yakin. Nayla pasti di culik!" kata Daren. Dia mengeluarkan ponselnya.
Drttttt
"Adnan! Sekarang ke kantor polisi kota xxx. Nayla hilang. Bantu gue cariin!" sela Daren.
Adnan yang baru bangun tidur, sangat terkejut mendengar perkataan Daren."Apa? Jangan ngigo deh!" sentak Adnan.
"Lu yang ngigo! Cuci muka lu sekarang. Terus ke kantor polisi kota xxx!" jawab Daren. Dia langsung mematikan ponselnya.
"Ayo buruan. Kita ke kantor polisi!" kata Daren ke arah Nina.
Nina mengangguk. Lalu, mereka berdua masuk kedalam mobil. Daren melajukan mobilnya kencang. Sambil beberapa kali menghela napas berat."Sial*n! Brengs*k! Kalo emang beneran Nayla sengaja di culik. Gue bunuh tuh orangnya!" umpat Daren kesal.
Nina memijat jidatnya pelan. Mencoba mengingat semuanya tentang Nayla."Emangnya Nayla punya musuh?" gumam Nina.
"Fahmi? Coba ke rumahnya fahmi!" kata Nina tiba-tiba. Saat mengingat, nama Fahmi yang pertama lewat di pikirannya.
"Gue gak yakin. Tapi, nanti lu sama Adnan coba ke rumahnya. Sekarang kita ke kantor polisi dulu!" jawab Daren. Jantung Daren masih terus berdegup kencang.'Nay. kamu di mana sayang?' batin Daren lirih.
__ADS_1
Mereka pun sampai di kantor polisi. Kebetulan, mobil Adnan juga baru sampai dan dia langsung memarkirkan mobilnya. Mereka bertiga langsung berlari masuk, dengan pakaian yang acak-acakan.
"Pak Dar-"
"Pak! Istri saya hilang. Tolong bantu cari sekarang juga!" kata Daren panik.
Pak polisi itu diam tak bergeming. Mereka seperti sedang mencerna perkataan Daren."Maksudnya? Bukannya kamu baru nikah kemarin? Dan resepsinya hari ini?" tanya teman polisi Daren bernama David.
"Iya. Tapi setelah beres, Nayla hilang. Saya yakin dia di culik!" jelas Daren.
"Kok bisa?" tanya pak polisi satunya yang bernama Usli.
"Pokoknya. Sekarang tolong bantu saya mencari istri saya!" kata Daren. Perasaanya bergejolak sudah campur aduk. Antara khawatir, takut, dan marah. Daren langsung pamit dan bergegas mencari Nayla sendirian. Setelah Nina dan Adnan memutuskan untuk pergi ke rumah Fahmi.
"Nay... Kamu di mana..." gumam Daren lirih.
*****
Nayla mengerjabkan matanya., Penglihatannya gelap. Sepertinya, matanya di tutup dengan kain. Kepala Nayla pun berdenyut sakit. Nayla mulai menggerakkan tangannya, tapi, dia merasakan sesuatu yang aneh. 'Kenapa tanganku di ikat?' batin Nayla kebingungan.
Nayla menarik-narik tangannya. Memberontak, berusaha melepaskan tali yang mengikat di lengannya."Aku kenapa sih? Aku di mana?" gumamnya pelan. Pikirannya berkecamuk, berusaha mengingat apa yang telah terjadi padanya. Tapi, kepala Nayla malah semakin pusing.
Krieetttt...
Nayla langsung menoleh, mendengar suara pintu terbuka. Walau pun matanya tidak bisa melihat siapa yang datang. Tapi, perasaan takut mulai menjalar di hatinya. Dia yakin, dia sedang berada dalam bahaya.
Langkah kaki seseorang itu semakin mendekat."Kamu sudah bangun, sayang?" suara bariton itu terdengar tak asing di telinga Nayla. Jangan-jangan dia di culik?
Saat Nayla tersadar. Dan mengingat kejadian yang dia alami. Nayla semakin merasa takut."Kamu siapa?!" sentak Nayla.
"Ah, sayang. Jangan begitu, aku ini suamimu..." jawab laki-laki itu. Kali ini, dia mengusap lembut wajah Nayla.
Nayla membuang wajahnya ke arah lain. Menghindar dari sentuhan laki-laki itu."BOHONG! LEPASKAN AKU!" bentak Nayla kencang.
Laki-laki itu tertawa pelan."Aku ini suamimu, Nay..." katanya lembut. Laki-laki itu kembali mengusap wajah Nayla.
"SIAL*N! JANGAN SENTUH AKU DENGAN TANGAN KOTORMU ITU!" teriak Nayla nyaring.
__ADS_1
***HAPPY READING 🥰🫶***