
Sesuatu yang terasa dingin menyentuh ujung pipi Almira.Dengan berat Ia membuka mata perlahan
Almira menatap Radit yang duduk di pinggir tempat tidur menatap padanya sambil memegang botol minuman dingin
"kenapa kau disini?"Almira terduduk dan rambutnya menutupi wajahnya
Radit menahan senyum melihat jilbab Almira entah terlempar kemana
"sholat shubuh dulu yuk."
Almira mengangguk menahan malu saat Radit menaruh jilbab diatas kepalanya
Setelah sarapan Bunda dan Almira mengepak beberapa makanan kering.
Radit turun membawa koper mereka berdua
Ayah tampak berbicang dengan Radit
Bunda memeluk putri bungsunya
"baik2 disana,nurut sama suami!"
Almira hanya mengangguk
"cerita apapun yang ade alami,nda siap mendengarkan disini."
Almira terisak mengeratkan pelukannya
"pak bu...mobil sudah siap"
Mereka bergegas berangkat ke Airport
Banyak nasehat yang dikeluarkan Ayah dan Bunda namun yang selalu di ulang adalah tentang menjaga putri mereka.
Radit dan Almira sudah dalam perjalanan setelah take off .Dilihatnya Almira sibuk membaca sana sini.Namun 15 belas menit kemudian Almira sukses tertidur.Radit menatik selimut menutupi tubuh Almira sebelum akhirnya kepala Almira mendarat di bahunya Radit dengan pas.
Perjalanan ke negeri Paman Sam sekitar 21 jam,berikut masa transit.Almira sepertinya sangat lelah hanya beberapa kali terbangun selebihnya tertidur.Radit dengan care mengingatkan untuk sholat secara tayamum dan mengajarkan caranya.
Akhirnya mereka sampai sejak dari Airport hujan deras mengguyur kota.
Radit menarik lengan Almira saat hampir tertabrak poter bandara.
__ADS_1
"hati2."
Radit sibuk mengeluarkan mantel dari koper
"pakai,semoga sesuai seleramu."
Almira memakai mantel berwarna coklat muda dengan bulu halus.
"letnan beli?"
Radit mengangguk
"aku sudah mericek saat kita datang pasti musim hujan"
"aku ragu saat kau bilang tak oerlu bawa mantel dan akan beli di kota ini saja"
"ternyata sulit menemukan toko mantelkan?"
Almira tertunduk,kagum Radit begitu teliti
lengan Radit lagi2 menariknya mendekat
"jangan jauh2 dari ku"Ucap Radit sambil memperhatikan sekitar mereka
"hallo Letnan Radit"
"saya Owen" Seorang petugas kulut hitam yang fasih berbahasa indonesia
"hallo"
"ini istri saya"Radit mempetkenalkan Almira
"karena dokumen sudah lengkap baiknya kita langsung menuju home"ujar Owen ramah
"maaf di aplikasi saya jelaskan jika saya memilih tempat tinggal yang dekat dengan RS St.Louis"
"oh begitu,biar saya cek"
"oh baik Letnan,anda memilih di apartement rupanya"
"mari"
__ADS_1
Almira menatap terharu Radit benar2 mengalah dan mempermudah fasilitas untuknya
Sepanjang perjalanan Almira hanya terdiam
entah mengapa tubuhnya malah menggigil
"istri anda pucat sekali Letnan,hujan di Kota Denver ini memang aneh"
"saya selalu flu setiap musim penghujan"jelas Owen dengan lugasnya
"berapa lama flunya Owen"
"sampai 3 tahun lamanya adaptasi saya tuan."tawa owen terdengar
Radit langsung tersadar dia asik memeriksa rute dan juga keamanan apartement lewat aplikasi sampai lupa memperhatikan Almira
Saat menoleh pada Almira ,gadis itu amat sayu wajahnya pucat ,hidungnya tampak kemerahan
Radit panik mencari apapun untuk menghangatkan Almira
"kau kedinginan?"
"pakai matelku ya?"
Almira menatap Radit sesaat namun tiba2 melingkarkan tangannya kearah dada Radit.Radit yang mendapat perlakuan seperti itu hanya terdiam kaku.Namun sesaat kemudian memberanikan diri memeluk Almira membiarkan pucuk kepala Almira tepat berada dibawah dagu Radit
Perjalanan ditempuh selama 1 jam
Owen sigap menurunkan barang2 mereka
"ini kuncinya Letnan"
Sebuah Kunci bertuliskan angka 210 diberikan
"semua bawaan akan dibawa poter itu"tunjuk Owen oada seorang pria ABG dengan rambut di cat biru.
"nomer saya sudah saya kirim ke ponsel letnan"terang Owen lagi
"baiklah terima kasih banyak"
"jangan lupa selimuti istrimu tuan,istrimu begitu mungil kasihan jika harus terkena flu"Owen berpamitan
__ADS_1
Radit membantu Almira menuju Ruangan mereka