Ordinary Man

Ordinary Man
Mimpi Buruk


__ADS_3

Almira duduk di sofa tubuhnya dia rasa sangat kaku.Radit sigap menyalakan pemanas ruangan saat poter mengajarinya.


"ganti baju dulu dokter,jilbabmu basah semua"


Almira mengangguk


"kepalaku sakit Letnan"


Radit mendekati Almira memegang dahinya dan rasa panas menguar dari tubuh Almira


"bisa ambilkan obat penurun panas di tas kecilku"


Radit sigap memeriksa tas kecil Almira,menemukan tablet putih kecil segera diminumkan pada Almira


"boleh ku bantu?"


Radit tak tega melihat Almira seperti tak bertenaga melepas mantelnya


Almira mengangguk ragu


"aku suamimu,jangan sungkan"pinta Radit


Radit buru2 membuka koper Almira mengambil 1 stel pakian dan jilbab


Saat Radit menghampiri Almira sudah tertidur


Radit memberanikan diri melepas jilbab Almira mengeringkan rambut panjangnya dan segera mengompres dahi Almira.


terdengar bel pintu berbunyi


Radit membuka pintu tampak seorang perempuan paruh baya tersenyum


"hello sir ,saya Blink pengurus apartemen"


"anda mengupah pembatu pribadi bukan?"


Radit membenarkan


"saya butuh dia sekarang bisakah?"


"baik,tunggu beberapa saat ya."


Beberapa saat kemudian seorang perempuan awal 40 an dengan wajah asia diantar ke ruangan Radit


"dia esmeralda yang akan membantu kalian."Blink menjelaskan


"thank u ms Blink"Radit mempersilahkan Esmeralda masuk.


"panggil saya esme tuan"


"anda bisa bahasa indonesia?"


"iya karena lama bekerja di kedutaan tuan."


"tolong bantu saya menganti pakaian istri saya ya."

__ADS_1


Esme sigap mengerjakannya.


Sudah 1 jam Esme pulang,Almira pun sudah tampak lebih baik.Tubuhnya tidak menggigil lagi.Radit mencek kembali keperluan yang harus di bawa Almira besok.


Tiba2 terdengar suara Almira dari kamar seperti memanggil manggil


"nda...nda.."


Radit sigap memegang bahu Almira


"dokter..dokter bangun"


Radit terlihat panik melihat saat Almira terbangun penuh ketakutan


"ada apa?"


"mimpi burukkah?"


Almira terisak pelan


Radit bergegas berdiri


"jangan pergi"Almira memegang ujung baju Radit


"aku ambil minum ya"


Almira menggeleng pelan


"temani ya"


Radit terkejut menatap manik mata Almira apakah ini hanya ilusinya


"tidak mau ya?"


"mau"


Radit segera duduk kembali menghadap Almira.


"tidurlah kutemani"


Almira merebahkan kembali tubuhnya dan bergeser.


Radit menyederkan bahunya


Almira mencoba memejamkan mata namun masih belum bisa


"lampunya bisakah dimatikan?"


"baiklah."


Suasana remang2 terasa di kamar mereka


entah bagaimana awalnya tangan Almira sudah mengenggam tangan Radit.


Sentuhan itu membuat Radit benar2 berdebar tak sanggup untuk tidur

__ADS_1


Radit mencoba membetulkan selimut Almira namun Almira bergerak dan membuat tangan Radit berada di bawah tubuh Almira


Radit hanya bisa memejamkan matabdan beristigfar menahan gejolak hatinya


Pukul 04.00


Almira merasakan tubuhnya lebih segar


Sesaat dia menoleh tampak Radit menatapnya


"letnan maaf ya kau tak nyaman tidurnya?"


Radit menatap dan bergegas menarik tangannya melesat ke kamar mandi


"letnan anda kenapa?"Almira bertanya bingung


jam 07.00


Saat mereka makan bersama Almira terus tersenyum


"esme kau tau semalam ada yang bermimpi buruk?


"siapa ms?"


"letnan Radit."tawa Almira


Radit hanya menggeleng pelan


"jangan malu Letnan,kau bahkan terus mengelus wajah dan bahuku semalaman"


"tandanya kau bermimpi buruk"Almira menuduh


Radit terbatuk mendengar penjelasan Almira yang absurt


Almira buru2 mengangsurkan minum pada Radit


sambil tertawa


"kami berangkat"Radit berkata pada Esme


Almira melambaikan tangannya


"see u Esme"


"see u ms"


Radit berjalan pelan menunggu Almira yang tampaknya masih belum fit benar


"apa kau benar2 tidak perlu istirahat"


Almira menggeleng pasti


"ayo kita haru berjalan 2 blok lagi"


Almira akan protes saat angin dingin menyergapnya

__ADS_1


Almira berlari dan segera merangkul lengan Radit


"dingin letnan" ujarnya tanpa rasa bersalah


__ADS_2