
Almira menyelesaikan administrasi kepulangan Radit,
"Letnan ayo, aku hari ini dinas malam apa perlu memanggil Isme?"
"aku bisa sendiri"Radit menjawab yakin
mereka berdua meninggalkan Rumah Sakit
"tunggu"Almira menahan Radit
"diluar dingin sekali"Almira merapatkan jaket di tubuh Radit
Radit menunduk dan mengecup puncak kepala Almira
"terima kasih"
Almira hanya terdiam
Mereka berjalan menyusuri trotoar menuju kereta bawah tanah
Dalam Kereta Almira sibuk mencari tempat duduk kosong karena mereka bertepatan dengan jam keberangkatan para pekerja
Mata Almira berbinar saat seorang pria Afrika berdiri dari tempat duduknya.Segera dia menuju kursi kosong itu namun tubuhnya terdorong pria bertubuh tambun dengan jaket besar dan membawa junk food.Almira terdorong kebelakang dan punggungnya membentur sesuatu
Saat ingin menoleh wajah Radit sudah berada di samping telinganya
"hati hati jangan membuatku khawatir"
wajah Almira menghangat mendengar bisikan Radit yang sangat dekat dengan nya
Setelah perjalanan yang lumayan mereka sampai di apartement
"Kau istirahat Letnan,aku siapkan perban bersih"
Radit mengangguk dan menuju kamar tidur,merebahkan tubuhnya yang terasa berat
Entah berapa lama Radit tertidur,dirasanya luka di pinggangnya terasa dingin,namun matanya berat untuk membuka.Radit merasakan tubuhnya bergeser dan tertarik menjadi posisi duduk
"letnan,angkat dulu tanganmu"bisik Almira
Radit berusaha bergerak namun seperti tak ada tenaga
__ADS_1
"ehhmmm"erangnya pelan
suaramu tak keluar dari mulutnya
Namun sesaat kemudian Radit benar benar memaksakan matanya untuk terbuka saat di rasa wangi harum tercium benar benar menggugah rasa pensarannya.
Dalam remang cahaya kamar tampak Almira duduk di hadapannya mengangsurkan semangkuk sup.
"makan dulu sedikit"Almira mendekatkan sendok pada bibir Radit
Radit membuka pelan cairan sup cream hangat melewati tenggorokannya
Setelah beberapa suap Radit benar benar terjaga
"terima kasih"lirih suaranya terdengar
Almira mengangguk
Radit melihat pakaiannya sudah berganti piyama
"ini..?"
"maaf aku pakaikan piyama couple kita karena bahannya katun menyerap keringat"
Almira mengangsurkan 3 buah pil berwarna warni
"minum obat dulu"
Radit menggeleng pelan
"kenapa?"
"aku tidak bisa minum obat langsung telan"
"terus biasanya bagaimana kau minum obat?"Almira bertanya heran
"buka saja pilnya campurkan isinya disendok"
Almira mengelengkan kepala dan mencampurnya
"Letnan ini akan pahit sekali lho"Almira memperingatkan
__ADS_1
"cepatlah"Radit memajukan tubuhnya
Almira menyuapkan sendok penuh serbuk obat yang sudah tercampur dengan cepat
"telan telan tahan"Almira segera mengambil gelas berisi air hangat
Radit meminum dengan perlahan
"dari baunya saja sudah tercium sangat pahit"Almira protes
"mendekatlah"pinta Radit
Almira menatap heran Radit
"ada apa?"
"apa yang sakit?"Almira panik bertanya melihat Radit makin mendekat dengan wajah meringis
"pahit dokter"bisik Radit
Almira menatap penuh kasihan
"sudah ku bilang pasti pahit,aku ga punya stok permen,buah juga tidak ada"
"mau ku buatkan teh manis?"
Radit menggeleng cepat
"cukup seperti ini saja dokter,maaf" katanya sambil memajukan tubuhnya dan menempelkan bibirnya pada bibir Almira.Sesaat Almira terkejut namun segera terbawa suasana bibir mungil itu ikut menyesap bibir pria di depannya.Radit memperdalam ciumannya benar benar mencurahkan keriduan yang terpendam hasratnya pun semakin membuat ciuman mereka memanas ,kini tangan Radit sudah memegang wajah sang istri sementara tangan Almira melingkar di pinggang Radit saat tangannya menyentuh perban luka Almira segera menarik tubuhnya dan menunduk panik.
Radit benar benar frustasi menghadapi pasangan halalnya
"ada apa dokter?"
"aku..aku harusnya tak melakukan ,kau terluka"
Radit mengusap wajahnya dengan kasar
"bisakah kau sudahi siksaan batin ini"
wajah memelas Radit di tatap dalam keremangan oleh gadis cantik itu
__ADS_1
"bagaimana caranya"
Radit mendorong wanita di depannya dan menguci tubuh gadis itu dia bawah tubuhnya diatas kasur