
Radit benar benar merasa tubuhnya sangat lemas,Menahan kepalanya untuk tegak saja sulit nyeri kepala mulai menjalar.
Suara Almira terdengar seperti sekerumunan lebah di telinga Radit.
"Rapatkan jaketmu Letnan,hari ini aku akan mencoba menjadi drivermu"Almira terus mengoceh sambil memasukan beberapa barang ke dalam tas
Isme tampak menggelengkan kepala di ujung pintu
"nyonya biar aku temani"
"thank u isme,setelah beres silahkan pulang saja ya"Almira memeluk Isme erat
Isme sangat tertarik dengan nyonya mudanya ini,sangat ceria manja bahkan cengeng bisa dalam waktu bersamaan
"baik nyonya"
"hati hati dijalan tuan"Isme membungkuk membantu Almira mengeluarkan tas
Almira sigap memapah tubuh Radit masuk ke mobil.Mendudukkan suaminya pelan
"kau tenang saja ,kau aman di tanganku"bisik Almira yakin.Radit hanya mampu menyunggingkan senyumnya
Almira memasang seatbelt yakin
"bismillah"ucapnya sambil memejamkan mata sebentar
Radit melirik melihat wajah imut Almira tertutup syal dan pipinya terbenam setengah.Kerudung Almira rapat masuk didalam kerah jas tebal yang dipakainya
Radit memejamkan mata ,Almira menghentikan kendaraan setelah 10 menit berkendara
"lampu merah ,sabar ya"
Seolah ingin menenangkan Radit
Radit mengangguk,sesaat menikmati nyeri dikepala dan luka diperutnya yang berdenyut bersamaan
Tetiba Pipinya merasakan sesuatu yang hangat
Radit membuka pelan matanya mendapati tangan kiri Almira menempel di pipi kanannya dan bergerak mengusap lembut
Radit bergerak memegang tangan Almira
"apa kau bisa mengendarai dengan satu tangan?"tanya Radit
__ADS_1
Almira terkekeh pelan
"saat ini belum"sambil menarik tangannya dan fokus kembali mengendarai mobil
Sesampai di Lobby Rumah Sakit
Almira menarik sebuah kursi roda
"ayo duduk"perintahnya
Radit menggeleng
"aku tak selemah itu"
"aku memaksa Letnan"Almira melotot
Radit naik ke kursi roda membiarkan Almira mendorongnya
"aku berat"Radit terdengar ragu
"hei,aku tuh udah punya SIMKR kau aman"
"apa itu SIMKR?"
Radit menahan tawanya
"kenapa kau begitu menggemaskan?"
Almira mendorong Radit ke arah poli bedah,beberapa kali berpapasan dengan pasien dan keluarga pasien yang menyapa
"hallo my wife"seorang pria gendut dengan rambut putih dan tangan di gips menyapa Almira
"hallo jagoan"
"bagaimana tanganmu?"Almira menyapa ramah
Radit memperhatikan tidak suka saat kakek genit itu memamerkan senyum lebarnya
Tangan kakek itu juga sudah terulur ke arah pinggang Almira.Radit segera menarik Almira hingga terduduk dipangkuan Radit
"letnan,apa yang kau lakukan"Almira seketika bersemu merah
Radit tersenyum nakal menutupi keterkejutannya juga saat tubuh Almira pas sekali terduduk dipangkuannya
__ADS_1
Almira segera berdiri
kepalanya sibuk menengok kanan kiri
"ha..ha.."suara perawat Ben terdengar
"pagi dokter,wah pagi ini kau berbuat mesum pada pasien"tuduhnya
Kakek Holand mendekati Almira
"dia tidak bersalah,pria asia ini yang menarik istriku"lapor sang kakek pada perawat Ben
Almira mengeleng kuat
"begini sebenarnya"Almira ragu
Namun saat dilihatnya tatapan Radit seperti akan membunuh Almira benar benar hanya bisa menunduk
"dia suamiku"Suara Almira terdengar seperti tercekik
"apa?"Kakek tua genit itu melotot dan siap memukul Almira
"dasar kau tidak setia"teriaknya
"aku tau kau cantik tapi kenapa kau berkhianat?"serbunya sambil menangis
Ben memeluk lelaki tua itu
"tenang bro,aku pun patah hati saat mendengar dokter cantik kita sudah menikah"Ben pura pura menangis
Radit menatap tak percaya dengan pemandangan didepannya
"baiklah ,kita harus bersemangat mencari wanita yang baik ,setuju Holand?"Ben menunduk mendekati wajah Kakek itu
"baiklah,kita pasti menemukan wanita baik"Holand bersemangat
"kita ucapkan selamat dulu pada dokter Almira"Ben merajuk
Holand segera mengulurkan tangan pada Radit "selamat kau memenangkan cookies bangsal kami"Holand menatap tegas
Ben tersenyum
Almira juga
__ADS_1
Hanya Radit yang tak bisa memaksa dirinya untuk tersenyum