Ordinary Man

Ordinary Man
Jadi Pusat perhatian


__ADS_3

Almira mencoba berjinjit namun tetap saja dia tak bisa melihat dengan jelas dengan tinggi 167 cm dan berat 48 kg dia tergolong kurus dan kecil belum lagi baju tebal yang membungkusnya membuat tak mudah bergerak


"dua stasiun lagi"bisik Radit


"siap"Almira menjawab dengan semangat


Kereta bawah tanah diawal musim seperti ini infonya memang akan selalu penuh saat berangkat.Radit telah mempersiapkan semua.Hari ini dia khusus mengantar Almira karena dia baru melapor esok hari.


Saat turun semua orang berjalan maju Almira terdorong namun sigap Radit memegang bahunya menahan dan keluar bersama2


"jangan bengong kalau sedang di kereta"


"iya terima kasih"


"aku bisa dari sini,kau tak perlu mengantar"


Radit menahan tangan Almira


"biarkan aku bantu hari ini"


"tapi kau juga perlu membereskan urusanmu"


"jangan fikirkan aku,aku harus pastikan kamu clear dulu."Tawarnya


Almira menepuk bahu Radit


"aku bisa sendiri,tolong percayalah"


Radit menarik nafas berat mengangukan kepalanya


Almira berlari menyebrang jalan utama


Radit menimbang untuk mengikuti ketika suara pesan masuk menghentikannya


Radit memeriksa sebentar dan menarik nafas kembali,selanjutnya ia menuju arah berlawanan dari Almira.


Di RS St Louis


Sejak masuk dalam gedung ini Almira menyita perhatian.Hampir semua yang berpapasan akan berhenti dan melihat sebentar padanya.


Almira menguatkan hati walau dia paling tidak suka menjadi pusat perhatian

__ADS_1


"well...anda tidak salahkan berada disini?"Seorang pria gemuk berkepala botak menegur


"kenalkan saya Almira dari Indonesia"


Almira memperkenalkan diri dengan ramah


Sang pria hanya sinis menatap saat Almira mengeluarkan tanda masuk serta selembar surat rekomendasi


Pria gemuk itu mempersilahkan Almira masuk ke Aula


Di dalam sudah hadir para profesor,tutor serta peserta didik


Almira berjalan mencari temlat duduk


"boleh saya duduk disini?"


"sorry sudah ada yang menempati"jawab gadis berambut merah acuh


Almira menahan kesal dan pergi mencari kursi lain


"boleh saya disini"


"tapi maaf kau harus duduk dengan laki2."katanya


"tak apa terima kasih"jawab Almira pelan


Sementara Radit berhasil menemukan gedung yang di infokan kedutaan


"silahkan masuk"seorang wanita mempersilahkan Radit mengangguk


"well ini pasti Letnan Rabbit"


"tentara indonesiakan?"seorang perwira dengan tato di tangan kanan menegur Radit


Radit memberi hormat


"siap Ralat ,nama saya Radit"


"siap Lapor Kapten Dummy" ujarnya tegas


Sang pria bertato dengan nama Duny melotot

__ADS_1


"hey,Dun..jangan mengganggu Letnan Radit"


Tentara dengan mata hijau menghampiri


"selamat datang"


"silahkan duduk"


Radit mengangguk dan pergi ke tempat yang dituju


Di Aula Rumah St.Louis


Pembukaan acara penyambutan residen begitu membosankan


Almira mencek email dengan malas


sebuah pesan masuk


"dokter kau sampe jam berapa?"


"belum jelas"


"baiklah"


Tiba2 suara tepuk tangan terdengar di podium tampak 2 profesor muda berdiri


"karena residen kita hanya berjumlah 14 orang maka akan di bagi 2 kelompok."jelas kepala Rumah sakit


Profesor Jean sebagai pengawas membagi kelompok.Terdengar Allmira dimasukkan pada kelompok 1 diman Profesor Carnado memimpin.Saat Almira akan bediri


"saya tidak mau orang yang fanatik masuk kelompok saya."Suara Carnado terdengar


Almira menatap marah tidak terima


namun sebuah suara membuatnya mengurungkan niatnya


"well masuk saja ke kelompokku"Prof Deren berkata santai


Pria hitam di depan Almira memberi kode agar Almira menahan marahnya.


Entah mengapa rasa kesal yang bertumpuk membuat Almira malah mengingat Radit.Dia ingin segera bertemu Radit melupakan kejadian hari ini

__ADS_1


__ADS_2