
Radit terdiam,matanya tak lepas dari wajah Almira yang sibuk memeriksa setiap selang yang melingkar ditangannya.Aroma segar sabun antiseptik menyeruak masuk kehidung Radit.
Almira tampak cemas,
"semua baik baik saja ,ada kabel yang terlepas tadi sudah kuperbaiki"jelasnya pada 2 orang perawat yang ada di ruangan itu.
Kedua perawat itu meninggalkan ruangan
Almira menatap Radit,Radit pun demikian namun hatinya merasa sakit saat melihat mata sang istri tergenang air mata
"aku baik baik saja"ucap Radit terbata
Almira menghambur kepelukan Radit,menumpahkan rasa yang dia pendam
Radit menahan rasa haru,melihat Almira memeluknya bahkan wajah gadis itu menempel erat di dadanya
"hiks..hiks...apakah aku menyakitimu?"
Radit menggeleng pelan,tangannya hanya mampu memegang lengan Almira pelan
"masa ga sakit?" wajah Almira yang basah air mata menengadah ke arah wajah Radit
"sungguh ga sakit,kamu terlalu ringan"Radit berbisik meyakinkan
Almira menyusupkan kembali wajahnya di dada Radit
"aku benar benar tak bisa bernafas"isak Almira
__ADS_1
"berarti kau harus menemui dokter jantung"Radit menggumam terdengar khawatir.
Almira malah makin menjadi tangisnya
Radit hanya mendiamkan bingung menghadapinya
Almira mengangkat wajahnya.dilihatnya piyama seragam rumah sakit yang dikenakan Radit basah oleh air matanya
"maaf"
Radit menggeleng dan memberi isyarat agar sang istri mendekat.
Almira duduk menatap wajah pria di depannya yang semakin lama di perhatikan Almira baru tersadar betapa tirus wajah pria hitam manis di depannya.
"kenapa,ada apa di wajahku?"Radit menyelidik menatap kedalam mata coklat di depannya
Almira menggeleng pelan air matanya makin mengalir deras.Radit terdiam namun hatinya ingin memeluk sang istri yang tampak begitu sedih.Setelah berfikir sejenak akhirnya tangannya terulur merengkuh bahu Almira,seketika Almira luruh dalam pelukan Radit memeluk dengan erat membiarkan Radit menghirup dalam dalam aroma sampo yang keluar dari sela2 hijab nya
Radit menatap semangkuk sup di depannya berusaha menaruh di samping nakas.Almira disofa tampak damai tertidur.
Radit hanya tersenyum mengingat pelukan panjang mereka tadi.
Seorang pria berpakaian dokter masuk.
Menganguk dan mulai menyiapkan sebuah alat suntik.Radit merebahkan diri,tampak pantulan dari cermin yang terletak di dekat pintu berkelebat.Sesaat Radit memicingkan mata saat gambar yang terpantul melihatkan pria yang baru masuk mengeluarkan sebuah pisau kecil.Radit mempersiapkan diri saat pria tersebut mendekatinya,kilatan pisau kecil sekilas terlihat dengan cepat menghujam arah perut samping kanan Radit namun beruntung Radit bisa menghindar dan mengeserkan posisi selimut melindungi perutnya.
Pria tersebut terkejut melihat Radit masih memiliki kekuatan menghindar.Dia segera menyerang kembali dengan cepat Radit berbalik menahan tangan pria yang memegang pisau tersebut.
__ADS_1
Tiba tiba bunyi ponsel terdengar membuat Almira terbangun dan betapa ia kaget melihat suaminya tengah bertahan dari serangan.
"aaah"Almira berteriak sambil melayangkan tedangan sampingnya.
"buk" suara tendangan Almira tepat mengenai perut samping Pria tersebut.
Pria tersebut terjatuh lalu bangkit untuk menyerang kembali sesaat dilihatnya Almira dengan kuda kuda bersiap menghadapinya
Pria itu urung saat dilihatnya di koridor beberapa pegawai terlihat melintas.
Pria itu segera keluar dengan bergegas
Almira melompat hendak mengejar saat tangan Radit menahannya
"jangan dikejar,bantu aku memeriksa luka ku"
Suara Radit terdengar lirih
Almira tersadar dan memeriksa luka Radit yang rembes darah sudah mengalir dari lukanya
Almira segera menekan tombol nurse call cepat
Beberapa perawat masuk dan segera melakukan pemeriksaan pada Radit
"dokter ,kami sudah membalut ulang luka suamimu,dan Prof Daren sudah dihubungi"lapor seorang perawat
"terima kasih"
__ADS_1
Almira menatap Radit yang tampak tertidur
Almira mengambil ponselnya dan menekan beberapa nomer