
Radit semakin membara membuai Almira,dan terhenti ragu ragu sesaat tangannya meraih kancing blous yang dipakai Almira.Almira yang mengigil menahan rasa yang membucah di dadanya menatap wajah suaminya yang terpampang diatas tubuhnya,melihat Radit ragu Almira meraih wajah Radit menyapukan bibirnya pada setiap inci wajah sang Letnan.
Radit seperti mendapat lampu hijau segera memutar tubuh Almira yang blouse serta jilbabnya sudah terlepas.Posisi Almira sudah berada di atas tubuh Radit,Almira panik
"aku berat turunkan aku"suaranya terdengar seperti terjepit
Radit tak memperdulikan protes Almira membelai rambut panjang hitam sang istri yang menutupi area dadanya
"kau cantik sekali dokter"Suara Radit terdengar serak dan pelan
"luka mu akan rembes Letnan"suara Almira berhasil keluar memperingatkan sambil berusaha turun dari atas perut rata sang suami
Radit menahan bahu wanita yang membuat otaknya selama 2 minggu belakangan ini penuh kerinduan
"aku minta hak ku sekarang please"
tangannya mengelus pinggang Almira menariknya masuk dalam pelukannya
Almira tak melawan hanya mampu membenamkan wajahnya di ceruk leher Radit.
Radit hanya membelai punggung Almira sesekali mengecup bahu mulus sang istri nafasnya berangsur teratur tak berapa lama tangannya melemah.Almira mengecup pipi Radit.Membebaskan diri dari pelukannya dan mengenakan blousenya kembali,mengikat tinggi rambut nya merapihkan pakaian sang suami yang pulas tertidur.
Almira tersenyum melihat obat tidur yang diberikan bersama dengan obat anti nyeri pada Radit bereaksi.
Jam menunjukkan pukul 05.40
Isme menggulung handuk yang masih terasa lembab.Mendekati kamar sang majikan dan mengetuk pintu perlahan
"tuan?"
"apa tuan sudah bangun?"
Setelah beberapa saat terdengar suara pelan dari dalam
__ADS_1
"ya aku sudah bangun."
"silahkan sholah dulu,waktu fajar akan habis"Isme memberi informasi
"terima kasih"suara Radit terdengar samar
Radit duduk di tepi tempat tidur setelah menyelesaikan sholat shubuhnya.
Sesaat terdengar Isme berbicara berpamitan untuk pulang.
Radit menatap jam ,masih jam 7 pagi tapi Isme sudah berpamitan untuk pulang.
Ponselnya berbunyi sebuah pesan masuk
"Letnan apa kau sudah bangun?"
"maaf mungkin Isme sudah pulang ya?"
"aku berangkat jam 3 dini hari tadi,ada kejadian luar biasa di ER (emergency Room) "
Radit menoleh melihat sepaket obat tersusun rapih dalam plastik kecil berwarna pink
Radit memijat keningnya yang seperti ditusuk
mengambil obat dan meminumnya merebahkan tubuhnya yang tak berdaya.Pikirannya melayang kejadian semalam sangat membekas dikepala Radit
Bayangan lembutnya bibir sang istri membuat dia hanya bisa memejamkan mata dan menenangkan hatinya membayangkan kegiatan panas mereka dan membuai alam bawah sadarnya makin dalam tertidur
Entah sudah berapa lama terlelap
Radit membuka mata perlahan,aroma segar lemon menganggu penciumannya.Matanya perlahan membuka tampak Almira sedang mengancingkan bajunya rambutnya yang hitam panjang terbalut handuk.Radit meruntuk kenapa dia baru terbangun saat ini.
Almira mendekati Radit, menyentuh dahinya
__ADS_1
"koq anget?"
"sejak kapan?"Almira bertanya
Radit hanya bisa memejamkan mata menggeleng perlahan
Saat tangan Almira terangkat ,kepala Radit bergeser hingga tangan Almira berafa dibawah pipi Radit
"tolong biarkan seperti ini dulu,dingin"bisik Radit
Almira refleks mendekatkan posisi duduknya
membawa kepala Radit dalam pangkuannya
"obat diminumkan?"
Radit mengangguk
"aku harus memeriksa luka operasimu"
Radit tak bergeming
"ayo bergeser dulu biar ku periksa"
Almira mendorong tubuh Radit ke samping namun tangan Radit malah merangkulnya
Almira sangat dekat dengan wajah Radit ,nafas panas yang keluar dari hidungnya membuat Almira iba
"Letnan,kau febris panas tinggi,bisa jadi tanda infeksi"bisik Almira yang tetap diam saat Radit malah memeluk erat pinggangnya
Radit membuka mata pelan
"bisa kita lanjutkan kegiatan semalam?"lirihnya
__ADS_1
Almira terdiam namun memanjukan wajahnya mengecup bibir kering lelaki didepannya
"menurutlah,kegiatan itu bisa kau lakukan sepuasnya setelah benar benar sembuh" Almira mengecup pipi Radit