Ordinary Man

Ordinary Man
Prihatin


__ADS_3

Daren menatap tajam Gadis berbalut kain dikepalanya menutupi rapat rambut gadis itu


"coba lihat yang ku temukan"Daren menaruh sebuah plastik berisi cip kecil berwarna hijau


Almira termangu menatapnya


"apa ini?"


"aku yang harusnya bertanya."


"entah apa pekerjaan suamimu,kau harus memastikan bukan pekerjaan illegal!"


Daren berkata penuh penekanan,jauh di lubuk hatinya ia sangat mengkhawatirkan gadis yang terduduk lemas dindepannya.


Almira tampak kosong menatap benda kecil itu,suara Daren benar benar tak masuk di telinganya.Almira sibuk dengan fikirannya sendiri


"bisakah kau mencoba fokus"suara Daren terdengar sangat dekat.


Almira menoleh dan jarak wajah mereka menjadi dekat


Mata Daren membulat terkejut


Baru kali ini dia sedekat ini dengan gadis yang mencuri perhatiannya.


Daren terpukau menatap wajah putih khas asia,dengan manik berwarna coklat terang sangat cantik di mata Daren


Namun Daren menjadi bingung saat manik mata itu berkaca kaca mengenang air mata disana


Daren benar benar menahan untuk tidak memeluk gadis yang ternyata sudah berstatus istri orang itu.


"hey"Daren mengetuk meja di hadapan Almira


Almira mendongak


"maaf prof,aku tak punya jawaban untuk pertanyaanmu"


Almira terisak pelan

__ADS_1


Daren mendekat bersamaan dengan seseorang mengetuk pintu


"prof .pasien bed 115 sudah sadar"lapor seorang perawat


"baik aku akan kesana"


"kau tidak ikut?"Daren bertanya saat dilihatnya Almira tak mengikuti langkahnya


"aku akan menyusul prof".Almira menjawab terbata bata


Daren meninggalkan Almira dan berlalu


Didepan pria yang baru saja dia selamatkan Daren menatap tajam


"apa kau baik baik saja brengsek?"bisiknya


Pria yang terbaring lemah hanya terdiam dan sesekali terdengar erangannya


"tanda tanda vital stabil dokter"


"perdarahanpun minimal"


Prof Daren mengangguk


"perhatikan dengan ketat,laporkan perubahan apapun yang terjadi"Daren melangkah keluar


"jika dokter Almira sudah kesini kabari aku"


"baik dokter" perawat itu menjawab cepat


Sementara itu


Radit benar benar berjuang menahan rasa sakit di area perutnya ,rasa gatal pada pada punggung juga sangat menganggu.Kelopak matanya sangat berat untuk di buka.


Semua tenaga dikerahkan namun sepertinya tak berguna.Rasa panas dan nyeri berlomba.


Almira menatap sedih melihat Radit terbaring lemah,kelopak matanya bergerak gerak erangannya terdengar sangat lemah.

__ADS_1


Almira memeriksa ulang saat monitor berkedip


"letnan,apa yang sakit?"


Sesekali tangannya mengelap keringat yang mengalir di dahi Radit


Radit sayup sayup mendengar suara Almira,membuatnya tetap bersemangat berjuang untuk membuka mata


"aku belum mati"pikirnya


Seorang perawat menatap prihatin pada Almira,melihat kondisi dokter magang yang sopan itu sangat berantakan,dia lalu mendekati Almira


"dokter kau bisa istirahat sebentar"sambil mengangsurkan sebotol air mineral


Almira menggeleng


Perawat itu menarik tangan Almira membimbingnya untuk ke kamar ganti


Radit berhasil membuka matanya.Menatap sekeliling ruangan mendapi dirinya berada di tempat tidur rumah sakit dengan tangan terpasang infus.


Radit berusaha mengangkat tangannya namun tangannya tak menuruti perintahnya.Tiba tiba monitor di atas kepala tempat tidurnya berbunyi


Sejurus kemudian seorang perawat datang menolongnya


"apa yang sakit tuan?"


Radit menggeleng bingung


Saat Radit hendak bergerak lagi tiba tiba sebuah tangan memegang lengannya


"pelan pelan"


Radit mengenali suara itu


"dokter "bisiknya pelan namun binar matanya memancarkan betapa dia amat merindu sang istri


Namun hati Radit merasa sakit saat dilihatnya genangan air mata di mata berpupil coklat itu.

__ADS_1


Almira memeriksa kondisi Radit


__ADS_2