Ordinary Man

Ordinary Man
nomer tak dikenal


__ADS_3

Almira bersusah payah memaksa Radit meminum obat lagi.


Saat Radit sudah tertidur Almira sigap memeriksa dan membersihkan luka di perutnya.


"syukurlah lukanya kering dan tampak bersih"batin Almira


biip..bip


sebuah pesan masuk di ponsel Radit.Almira ragu memeriksanya


"kau dimana brengsek!!!"


"cepat hubungi aku,wanitamu akan segera melahirkan!"


Almira membaca sambil mengerutkan wajahnya


"jadi selama 3 bulan bertugas Radit menjalin hubungan"


Almira menatap Radit lekat tak terasa pandangannya buram


"gila ngapain sih nih mata pake acara berair?" Almira bergegas keluar kamar


Sementara di sebuah Ruangan mewah


"kalian benar benar tak bisa membereskan petugas yang ikut campur operasi kita?"


3 orang pria berseragam didepan pria muda menunduk terdiam


"orang dewasa memang mahluk bodoh yang harusnya musnah"ujar pria muda itu lagi


Dering telpon terdengar beberapa kali


Sang pria muda menjawab dengan singkat


"bunuh para petugas yang terkait,bereskan saksi yang ada"katanya tegas!"


"kalau perlu semua orang terdekat mereka"desis pria muda itu


Ketiga pria dihadapannya keluar ruangan

__ADS_1


Sementara itu Radit tampak memeriksa ponselnya yang telah berdering beberapa kali


"nomer siapa ini?" pikir Radit


Almira mengetuk pintu dan masuk kedalam kamar


"bagaimana perasaanmu sekarang?"


"alhamdulillah baik"Radit menjawab dan segera menaruh ponselnya


"makanlah"Almira menaruh semangkuk bubur di nakas samping tempat tidur


"bisa bantu aku dokter?"Radit menoleh mencegah kepergian Almira


Almira menatap sekilas dan mendekat kembali


Mengambil mangkuk bubur dan mulai menyuapi Radit.


Radit membuka mulutnya menerima suapan Almira namun tatapan nya tak lepas dari gadis itu


"pelan pelan" Radit terbatuk


Almira tersadar refleks segera mengambil gelas dan mengangsurkan ke Radit sesekali menepuk punggung Radit


"ayo minum dulu,atur nafasmu"Almira memberi instruksi


Radit memegang tangan Almira,dan tangan satunya menaruh gelas yang diangsurkan Almira


Mata Almira membulat menatap penuh terkejut


"ada apa dengan tatapanmu?"Radit bertanya menyelidik


"apa maksudmu?"suara Almira berusaha terdengar biasa


Radit mendekat wajahnya


Almira panik,berusaha menjauh


"kau sudah sekuat ini masih ingin dilayani?"protes Almira

__ADS_1


"bukankah hak ku dilayani oleh mu?"Radit memeluk pinggang Almira.Almira menahan laju tubuh Radit dengan tangannya


"jangan seperti ini!"Almira menunduk wajahnya tepat terbenam didada Radit


"aku akan menunggu ceritamu"


"boleh aku memelukmu?"


Almira menarik tubuh Radit melingkarkan tangannya di pinggang Radit dengan erat


Radit tersenyum,walau penasaran dia meredamnya rasa ingin tahu perubahan sikap Almira.Meresapi pelukan hangat mereka


Radit mempererat pelukannya walau Almira tak membalasnya.


Diluar apartement tampak seorang pria bersyal merah menatap kearah jendela didepannya


memasukan kamera yang sejak 1 jam tadi dia gunakan


Mematikan rokok yang baru sebentar dia hisap menuju sebuah motor besar tak jauh dari tempatnya berdiri


Pagi ini terasa dingin menusuk sekali


Almira tampak melipat mukenanya menatap Radit yang masih terlelap.Semalam Radit meminum semua obat yang disiapkan Almira dengan baik.


Almira mendekati sisi ranjang sang suami menatap lekat wajah pria itu,ada rasa rindu akan ciuman panas yang mereka lakukan sebelumnya.


Radit mengeliat pelan


"bangun letnan" Almira menggoyang bahunya pelan


Radit bergeming


Almira menggoyangkan lagi tubuhnya


"ayo sholat dulu"


Radit membuka matanya sayu,dan berusaha bangun Almira membantunya.Radit memeluk pinggang Almira erat


"jangan kau lepaskan ya tubuhku lemas sekali"bisik Radit di telingan Almira

__ADS_1


"asal kau tak macam macam aku akan membantumu"Almira menjawab cepat


Radit mengangguk cepat


__ADS_2