Ordinary Man

Ordinary Man
Mengadu


__ADS_3

Sesaat nomer yang dihubungi tak merespon


Almira mengulangi beberapa kali


Erangan Radit terdengar


Almira mendekati segera


"Letnan"bisik Almira


Sesaat Radit membuka mata berusaha mengeluarkan suara namun telunjuk sang istri menahannya


"sttt"


"katakan nanti"bisik Almira


Radit terdiam mengurungkan ucapannya


Ponsel Almira berbunyi


Almira melirik sesaat


"aku keluar sebentar ya" Almira meninggalkan Radit


"kau harus kesini mas"isak Almira terdengar pelan dibalik pintu


Sebelum sambungan telpon ditutup


Di sebuah ruangan dengan warna dinding hitam seorang pria memutar pematik di tangannya.


Memandang beberapa foto yang tersebar di meja,hanya karena pria di foto itu dirinya tak bisa tidur nyeyak.


Sebuah pistol tergeletak di meja,juga beberapa ponsel usang.Pria itu mengambil salah satu ponsel dan menghubungi seseorang


"bagaimana?"teriaknya


"kau gagal dengan tugas mudah seperti itu?"ponsel di banting dengan keras menyisakan kekesalan pada wajah Pria kulit hitam tersebut.


Dia bergegas berdiri meninggalkan ruangan itu menuju parkiran yang gelap gulita

__ADS_1


Daren menutup sambungan telpon


temannya mengabarkan bahwa benda kecil berwarna hijau itu adalah cip yang bisa menapung data penting dan hanya bisa dibuka dengan otoritas


Daren memandang keluat jendela


Almira benar benar membuatnya terkejut selain gadis pintar dan mandiri yang dapat dilihat olehnya,kecantikan unik Almira pun tak bisa ditutupi dengan hijab yang dipakainya.


Lalu apa sekarang dia mempunyai suami gangster atau mafia hingga penuh misteri seperti itu dimana lukanya sangat aneh"pikir Daren


Almira memasukan USB kedalam poketnya


Seorang pasien melambaikan tangan padanya dikejauhan


Almira membalas dengan senyum


"setidaknya aku masih mampu membuat orang lain tersenyum" Pikirnya lagi


Almira bergegas kembali ke ruangan Radit,dia sudah meninggalkan suaminya selama 5 jam untuk melakukan praktek sesuai jadwal yang ada


Sesampai didepan Nurse station


"nurse bagaimana pasien kamar 220?"


Almira mengangguk dan segera menyimpan beberapa status pasien dimeja


Radit terdiam memandang sekelilingnya


Dia benar2 terbiasa kini dengan aroma rumah sakit.Memandang selang yang menancap di tangannya berwarna pink.


Radit memejamkan mata berusaha memanggil ingatannya kembali namun sia-sia hanya wajah Almira yang tercetak jelas di pikirannya


too..tok


Pintu diketuk pelan


Radit hanya terdiam siaga menatap daun pintu penuh penasaran


Sebuah wajah muncul

__ADS_1


wajah yang sangat di rindunya tampak tersenyum manis


"letnan"Almira segera menghambur ke arah Radit


Radit hanya berusaha tersenyum melihat tingkah Almira


"bagaimana?"


"apa yang kau rasa?"


"kau benar benar sudah kuat duduk?"


"kau mau makan apa,kau sudah tak makan 12 jam"Almira mebrondong pertanyaan dengan raut khawatir


Radit memberi kode agar sang istri mendekat


Almira tanpa curiga mendekat ke arah wajah Radit dan menyiapkan telingannya saat dindengar Radit berusaha mengeluarkan kata


"apa?"


Almira mendekatkan telinganya pada mulut Radit berbisik


"aku baik baik saja"


Almira mendongak matanya yang basah seketika


Radit mengangguk dan memaksakan senyumnya


Almira maju kedepan menempelkan bibir nya pada Radit.Pelan namun sejenak menjadi makin dalam karena mereka saling merindu dan mengkhawatirkan


Radit bwnar benar terbuai Bibir Almira habis di jelajahinya.


Matanya tertutup tak mampu membuka karena rasa nyaman yang ia rasakan.


Almira bergeser menjauhi are perut Radit namun tangan Radit menahnnya.Memaksa Almira menerima semua curahan rindunya.Mereka benara benar kehabisan nafas,saat ciuman itu berakhir Almira hanya mampu menunduk sedang Radit merasakan rasa manis yang tertinggal di bibirnya.


Radit bergerak memeluk Almira


"aku sangat suka berciuman dengan mu"bisik Radit

__ADS_1


"maaf" erang Almira pelan


"jangan pernah bosan melakukan apapun untukku"Radit memper erat pelukannya


__ADS_2