
Sesaat nomer yang dihubungi tak merespon
Almira mengulangi beberapa kali
Erangan Radit terdengar
Almira mendekati segera
"Letnan"bisik Almira
Sesaat Radit membuka mata berusaha mengeluarkan suara namun telunjuk sang istri menahannya
"sttt"
"katakan nanti"bisik Almira
Radit terdiam mengurungkan ucapannya
Ponsel Almira berbunyi
Almira melirik sesaat
"aku keluar sebentar ya" Almira meninggalkan Radit
"kau harus kesini mas"isak Almira terdengar pelan dibalik pintu
Sebelum sambungan telpon ditutup
Di sebuah ruangan dengan warna dinding hitam seorang pria memutar pematik di tangannya.
Memandang beberapa foto yang tersebar di meja,hanya karena pria di foto itu dirinya tak bisa tidur nyeyak.
Sebuah pistol tergeletak di meja,juga beberapa ponsel usang.Pria itu mengambil salah satu ponsel dan menghubungi seseorang
"bagaimana?"teriaknya
"kau gagal dengan tugas mudah seperti itu?"ponsel di banting dengan keras menyisakan kekesalan pada wajah Pria kulit hitam tersebut.
Dia bergegas berdiri meninggalkan ruangan itu menuju parkiran yang gelap gulita
__ADS_1
Daren menutup sambungan telpon
temannya mengabarkan bahwa benda kecil berwarna hijau itu adalah cip yang bisa menapung data penting dan hanya bisa dibuka dengan otoritas
Daren memandang keluat jendela
Almira benar benar membuatnya terkejut selain gadis pintar dan mandiri yang dapat dilihat olehnya,kecantikan unik Almira pun tak bisa ditutupi dengan hijab yang dipakainya.
Lalu apa sekarang dia mempunyai suami gangster atau mafia hingga penuh misteri seperti itu dimana lukanya sangat aneh"pikir Daren
Almira memasukan USB kedalam poketnya
Seorang pasien melambaikan tangan padanya dikejauhan
Almira membalas dengan senyum
"setidaknya aku masih mampu membuat orang lain tersenyum" Pikirnya lagi
Almira bergegas kembali ke ruangan Radit,dia sudah meninggalkan suaminya selama 5 jam untuk melakukan praktek sesuai jadwal yang ada
Sesampai didepan Nurse station
"nurse bagaimana pasien kamar 220?"
Almira mengangguk dan segera menyimpan beberapa status pasien dimeja
Radit terdiam memandang sekelilingnya
Dia benar2 terbiasa kini dengan aroma rumah sakit.Memandang selang yang menancap di tangannya berwarna pink.
Radit memejamkan mata berusaha memanggil ingatannya kembali namun sia-sia hanya wajah Almira yang tercetak jelas di pikirannya
too..tok
Pintu diketuk pelan
Radit hanya terdiam siaga menatap daun pintu penuh penasaran
Sebuah wajah muncul
__ADS_1
wajah yang sangat di rindunya tampak tersenyum manis
"letnan"Almira segera menghambur ke arah Radit
Radit hanya berusaha tersenyum melihat tingkah Almira
"bagaimana?"
"apa yang kau rasa?"
"kau benar benar sudah kuat duduk?"
"kau mau makan apa,kau sudah tak makan 12 jam"Almira mebrondong pertanyaan dengan raut khawatir
Radit memberi kode agar sang istri mendekat
Almira tanpa curiga mendekat ke arah wajah Radit dan menyiapkan telingannya saat dindengar Radit berusaha mengeluarkan kata
"apa?"
Almira mendekatkan telinganya pada mulut Radit berbisik
"aku baik baik saja"
Almira mendongak matanya yang basah seketika
Radit mengangguk dan memaksakan senyumnya
Almira maju kedepan menempelkan bibir nya pada Radit.Pelan namun sejenak menjadi makin dalam karena mereka saling merindu dan mengkhawatirkan
Radit bwnar benar terbuai Bibir Almira habis di jelajahinya.
Matanya tertutup tak mampu membuka karena rasa nyaman yang ia rasakan.
Almira bergeser menjauhi are perut Radit namun tangan Radit menahnnya.Memaksa Almira menerima semua curahan rindunya.Mereka benara benar kehabisan nafas,saat ciuman itu berakhir Almira hanya mampu menunduk sedang Radit merasakan rasa manis yang tertinggal di bibirnya.
Radit bergerak memeluk Almira
"aku sangat suka berciuman dengan mu"bisik Radit
__ADS_1
"maaf" erang Almira pelan
"jangan pernah bosan melakukan apapun untukku"Radit memper erat pelukannya