
Radit memejamkan matanya saat luka dipingangnya dibuka.Tampak area lukanya basah pada daerah tengah juga tampak memerah.
Daren menatap tajam
"ada yang tak beres dengan lukanya"
Almira mendekat dan mengangkat tangan
"aku benar benar merawat luka nya dengan baik prof"
Daren menekan ujung pinset ke pinggir luka yang terbuka itu
"Prof tolong beri anastesi dulu"Almira panik dan reflek memegang lengan Radit.
Radit menatap Almira dan jelas sekali rasa khawatir di wajah cantik istrinya mampu membuat desir bahagia di hatinya
"aku bisa menahannya,tenanglah"suara Radit terdengar tegas
Almira menatap dengan mata berkaca
Daren tetap melanjutkan tindakan medisnya
"aku tidak memberimu anastesi karena kulit mu bereaksi menjadi merah"
Almira dan Radit serentak memperhatikan luka yang terbuka itu
"tahanlah sebentar!"Daren dengan cepat menusukkan pinset berujung kecil ke dalam luka Radit dan menarik dengan cepat
Sebuah benda kecil berwarna hijau terambil.Radit tampak sangat pucat darah warna merah pekat mengalir cukup deras
"cepat tekan"Darren mengintruksikan pada perawat yang berdiri terdiam
Segera Almira sigap mengambil kassa dan menekan luka itu
__ADS_1
"lepaskan,kau pasang aksen infus segera!"Daren memerintahkan dengan keras
Perawat menggantikan Almira menekan luka
Almira segera mengambil alat infus dan mencari akses di lengan Radit.
"akralnya dingin dokter"Almira berbisik
"cepat pasang sebelum syock"Daren berkata pelan
"Radit tetap sadar buka matamu"Almira berbisik ditelinga Radit sambil menatap penuh khawatir saat Radit hanya terdiam
"loading seluruh cairan infus secepatnya!"Daren memberi instruksi sambil terus mencari sumber perdarahan
Keringat mulai membasahi dahi Daren,dia kesulitan menangani luka Radit yang darahnya terus merembes keluar.
"dalam 1 menit ini jika aku tak bisa menghentikan perdarahannya kita dorong ke ruang operasi"Daren memberi instruksi.
Daren terus berusaha mencari sumber perdarahan
"prof tampaknya kena arteri"Almira berbisik
Daren mengangguk
"kau yang kerjakan,tanganku kram"Seru Daren cepat berdiri
Almira sedetik terdiam dan langsung terduduk di tempat Daren
Radit tampak makin lemah,hanya mampu terdiam menghirup oksigen yang terpasang di wajahnya,matanya terpejam hanya bisa berdoa dalam hati
"ah kasiannya kau Radit,ke negeri orang malah menjemput nyawa bahkan kau belum benar benar menjadi suami"
dan semua menjadi gelap
__ADS_1
Sesuatu yang dingin terasa di area lengan Radit, dan sesuatu ditusukkan dilengannya terasa makin dalam dan perih.Radit sangat ingin melawan tapi dia benar benar tak punya tenaga,sesuatu yang hangat menyentuh pipinya terasa sangat nyaman mampu menghilangkan nyeri di lengannya
Radit masih belum mampu membuka matanya namun suara orang berbincang makin terdengar riuh.Sebuah tepukan lembut terasa dipipinya
"Letnan bangun"
Beberapa kali tepukan itu terasa namun Radit benar benar tak berdaya
"biarkan dia istirahat "Daren berseru cepat
Almira berdiri dan memberi salam
"terima kasih banyak Prof"ucapnya tulus
Daren hanya menatap dingin dan terus memeriksa luka diperut Radit
"temui aku di ruang diskusi"serunya ketika meninggalkan ruangan
Almira mengangguk
"baik Prof"
Perawat di belakang Prof Daren memberi kode agar Almira bersemangat
Almira memberikan senyum tulusnya
Sesaat Almira menatap Radit
mendekati tubuh suaminya pelan
mengenggam tangan Radit pelan.Almira benar benar terhanyut dengan pikirannya sendiri.
Almira bergegas menuju ruang diskusi mengikuti Prof Daren
__ADS_1