
Radit segera mengambil ponsel Almira ,menghubungi sesorang dan segera menutup sambungan telpon
"Kapten ,bisakah kau membantuku?"
"apa yang kau butuhkan?"
"bantu aku menganti baju Almira dengan piyama lengan pendek dan memakaikan jilbab padanya"
Akmal mengangguk pelan
Mereka berdua bekerjasama merapihkan Almira.
Radit benar benar bertahan menatap tubuh kekasihnya tak berdaya,Menahan betapa sangat ingin dia memeluk Almira
Akmal menepuk punggung Radit
"jangan bilang kau belum pernah melihat tampang adikku tanpa jilbab"ledeknya
"siap ,memang belum pernah Kapten"
"maafkan aku,aku berdosa,lancang melihatnya"
Radit bergumam pelan namun cukup didengar oleh Akmal
Akmal melongo dan mengelengkan kepala heran
"aku harus melapor pada Bang dewa ,kenapa adikku di jodohkan dengan tentara bodoh "batinnya
Sesaat kemudian terdengar ketukan di pintu
"biar ku buka"Akmal melesat keluar kamar
Sementara Almira tampak bergerak pelan
"dokter"
"apa yang dirasa"
Radit bertanya dengan rasa khawatir dan sedih
"tanganku nyeri "Almira memejamkan mata
Radit mengenggam tangan Almira pelan
pintu kamar terbuka
Prof Daren memasuki kamar dengan canggung,tapi wajah khawatirnya tak bisa di sembunyikan
"apa yang terjadi?"
Daren menarik kerah baju Radit
"kau...kau trouble maker"teriaknya
__ADS_1
Tinju Daren hampir menyentuh wajah Radit yang pasrah menghadapi kemarahan Daren
Akmal menahan tangan Daren
"tahan emosi anda tuan"
"pria di depanmu adalah ipar ku"Cengkraman Akmal membuat Daren terdiam
"tolong obati adikku"
"tolong,itu yang penting sekarang"
"please"suara Akmal memohon
Daren menepis tangan Akmal,mendekati Almira
menarik nafas sejenak
"bantu aku menelungkupkan tubuhnya"
Akmal menarik Radit
mereka berdua menelungkupkan tubuh Almira
Akmal menahan kesedihan saat memegang bahu sang adik ,baru tersadar adiknya lebih kurus dari terakhir mereka bertemu
Radit menahan kepala Almira
Tangan Almira melingkar lemah pada pingang Radit.
"luruskan tanganmu"Daren menarik pelan tangan kanan Almira.
Daren menaruh seperangkat alat untuk tindakan jahit di nakas sebelah tempat tidur
"apa memang perlu dijahit Prof?"suara Almira terdengar pelan
"hanya 3 jahitan,bukan perkara besar"ucap Daren bergetar
Melihat lukanya cukup dalam pasti ini disebabkan benda logam sangat tajam,pikiran Daren benar benar kacau
Daren bersiap menjahit luka di lengan bagian dalam Almira
"tahan aku akan memberi suntikan anastesi"Daren menusukkan perlahan ke kulit Almira
Almira bergerak dan tangan kiri yang melingkar pada pinggang Radit mencengkram sebentar
Daren menyelesaikan dengan mudah dan cepat
"selesai"
Almira dibaringkan dengan nyaman
Daren menarik peralatannya dalam sebuah baskom
__ADS_1
"Isme tolong bant nona ya"Radit memberi instruksi pada Isme yg menunggu di pintu kamar
"baik tuan"
Isme mendekati Almira,namun Almira menarik ujung kemeja Radit
"aku takut,jangan pergi Letnan"
Radit terenyuh
"aku disini bersama Isme"
Isme segera merapihkan selimut dan membantu Radit membuat Almira nyaman.
"Isme tolong obatnya"Radit menunjuk pada nakas
Isme memberikan beberapa butir obat pada Radit
"Tuan,saya akan bawa pakaian kotor keluar "
Radit mengangguk
Saat Almira berhasil meminum obat ditangan Radit wajahnya mengeryit
"kenapa?"
"pahitkah?"Radit menahan senyum melihat wajah yang akan selalu dia rindukan
Almira mengangguk namun tetap memejamkan matany
Radit benar benar tak tahan
Mendekati wajah Almira dan mengecup dalam bibir pucat itu
Almira terkejut membuka mata ,mata mereka saling bertatapan dalam
Saat Radit melepas bibirnya Almira dengan lembut memajukan wajahnya.Dan entah dari mana ide itu Radit otomatis memanggut lagi bibir gadis didepannya
Wajah Almira benar benar terasa panas,bibir Radit hanya menempel dan menekan keras diatas bibir Almira
Mata Almira tertutup sepenuhnya
Sementara
Akmal dan Daren terdengar berbincang diruang tamu,dan nampaknya obrolan mereka menjadi lebih seru
Radit menjauhkan dari wajah Almira yang segera tertunduk dalam dekapan Radit.
Radit memeluk erat Almira
mencurahkan rasa sayang dan khawatirnya
"Radit segera kemari"teriak Akmal gusar terdengar dari luar kamar
__ADS_1