
Radit melirik jam tangannya
Sudah jam 21.30,rapat koordinasi baru saja selesai.Dia ragu apakah Almira masih di Rumah Sakit atau sudah pulang.Saat istirahat betapa terkejut Radit saat menemukan alat2 Sanitary pak untuk di gunakan di toilet,karena toilet diluar negeri sangat jarang menggunakan Air.Radit tersenyum dan merasa kangen dengan sang istri yang ternyata sangat perhatian.
"kau mau ikut kami ke Pub bro?"Kim tentara asal korea mengajaknya
"tidak terima kasih,istriku menungguku."tolak Radit sopan
"kau sudah menikah?"tawa Kim pecah
Radit mengangguk dan pergi meninggalkan kelas.
Iseng2 dia mengaktifkan GPS yang ada di Almira.Sesaat kemudian terlihat koordinat posisi Almira di Rumah Sakit.Radit segera bergegas keluar dan menuju stasiun bawah tanah.
Hujan mulai turun saat Radit mulai keluar dari stasiun.Berjalan ke arah jalan utama dan menyebrang.
Sementara Almira benar2 kelelahan betapa tidak,sejak siang ia belum sempat mengisi perut.Pencarian jurnal dan pembagian jadwal shift serta orientasi ruangan dengan lahan yang sangat luas membuat dirinya sangat kelelahan
Untuk sholat pun dia mencuri2 waktu.Ditambah rasa tidak suka yang ia rasakan dari sekelilingnya.Dulu saat kuliah di Belanda dia tidak terlalu merasakan diskriminasi ditambah ada keluarga dari Bunda makan dia benar2 merasa tidak sendiri.Hanya Radit temannya itu yang ada dipikiran Almira saat ini.
"kalau kau punya waktu untuk berkhayal baiknya kau masuk tim penelitiku."Prof Daren berkata penuh penekanan
Almira ingin menolak namun sebuah form tanda tangan sudah di angsurkan dihadapannya
"baik prof terima kasih."Almira berkata pelan.
Akhirnya mereka boleh pulang.Almira bergegas merapihkan buku dan berkas2nya.
"kau,jangan pulang dulu,edit laporanku untuk presentasi besok"Daren menyerahkan USB dihadapan Almira
"maaf prof jam berapa harus saya selesaikan?"
"saya akan istirahat di kantor saya"Daren menjawab santai
__ADS_1
kruk..kruk.
Almira menunduk,Daren hanya melirik sekilas
"baik Prof ,saya selesaikan sekarang"Dia kembali duduk dan membuka laptopnya
"bagus,jangan beracting kamu lemah"Daren berkata sambil berlalu
Almira hanya mampu menahan air mata yang sudah ada di pelupuk mata
Ternyata Prof Daren sengaja mengajak di kelompoknya agar dapat menyiksanya.
Saat semua sudah pulang hanya tinggal Almira berkutat dengan bahan presentasi.Tiba2 datang seorang cleaning service
"nona silahkan dimakan."
Almira menatap 1 potong besar roti double coklat dan secangkir kopi latte hangat
"terima kasih ,tapi ini dari siapa?"
Almira segera meminum Kopi latte hangatnya dan menggigit roti coklat dengan semangatnya.Dia bersemangat sekali mengerjakan tugasnya.
Sementara Radit mencoba nelpon Almira namun tak bisa,pesan pun hanya ceklis satu yang terlihat.Radit mencoba naik namun di halangi satpam
"anda mau kemana?"
"saya ingin bertemu istri saya"
"pasienkah?"
"bukan mahasiswa kedokteran "Radit menjelaskan
"maaf 3 lantai diatas tertutup bagi tamu untuk saat ini anda hanya boleh menunggu di sini."
__ADS_1
"lagipula orang asia tidak mungkin ada di lantai atas"tawa security bersama temannya
Radit hampir terpancing namun ditahannya
Dia mencoba mencari cara agar bisa bertemu Almira.Sesaat dia melihat jalur evakuasi.Mengendap2 memasuki tangga darurat dan berlari menuju lantai atas.
Almira menarik nafas,rotinya sudah tandas sejak tadi apalagi kopinya.Namun perut ya maaih saja bernyanyi
"dasar orang indo ga makan kalau ga ketemu nasi" runtuknya dalam hati
"Alhamdulillah..done"Almira segera mengecek sekali lagi dan segera mensavenya.
Agak berlari dia menuju kantor Prof Daren namun baru memencet tombol lift lampu tiba2 mati
"aaah"Almira kaget saat lorong jadi gelap dan tiba2 ada cahaya senter
"miss mohon gunakan tangga untuk turun!"suara Security memerintah
Almira terkejut dan segera mencari tangga darurat dan menuruni dengan tergesa gesa
Ketika menginjak kan kaki 1 lantai dibawah tiba2 terdengar derap kaki dari bawah.Almira begitu ketakutan.Tubuhnya lemas,dia benar2 takut akan kegelapan.
buk..buk..semua yang Almira pegang jatuh bersamaan dengan tubuhnya yang lemas.matanya sudah berair dan akhirnya terisak.
Tiba2 cahaya ponsel meneranginya
"dokter..dokter tak apa?"suara Radit makin membuat pecah tangis Almira
Radit berjongkok mendekati sang istri
tiba2 Almira memeluknya erat menumpahkan rasa yang dia tahan sejak tadi
huaa..huaa..
__ADS_1
tangis Almira lepas semua
Radit hanya mematung dalam pelukan erat Almira