
Radit membimbing Almira turun.Senyumnya tertahan melihat gadis yang super galak dan berani menagis tersedu.Radit teringat dulu saat menolong Almira diculik dia pun ketakutan dalam kegelapan.
Radit menyadari benar dia sangat menyanyangi gadis disampingnya yang terus saja mengelapkan hidung basahnya di lengan mantelnya.
Sampailah mereka kantor Prof Daren
Radit menyenggol Almira.
"ayo masuk tapi lap dulu wajahmu"
Almira menurut,menerima sapu tangan berlambang bendera negara yang diangsurkan Radit.
"saputangan juga di bordir merah putih ga keren ga brended"Almira mulai ptotes
Radit mengangguk sambil tersenyum.Menyadari Almira mulai tak tegang lagi
Almira masuk ternyata Prof Daren masih ada diruangannya.
"malam Prof,ini saya serahkan hasil editan saya"Almira menaruh USB di meja prof Daren
Daren melirik
"kau punya nomerku?"
"belum prof"
Daren menyodorkan ponselnya
Almira bergegas melakukan Scan
"pergilah"
"baik prof,terima kasih..selamat malam"Almira segera keluar ruangan
Sesaat Almira melihat2 mencari Radit.Dan merasa lega saat dibawah elefator Radit menunggunya dengan segelas besar coklat panas
Almira tersenyum lebar
"terima kasih"mengambil minuman ditangan Radit
tanpa ditawarkan
__ADS_1
"ayo pulang"ajak Radit
Almira sudah seprti bias berjalan sendiri,dengan bawaannya.
"naik taxi?"Almira bertanya
"sudah jam 24.00,mau sampe jam berapa di apartement."jawab Radit
"ok"
Almira terkejut saat Radit masuk lebih dulu kedalam taksi
"dimana2 woman first"bisik Almira
Radit tersenyum
"aku harus memastikan supir taxi tak membawa wanitaku"bisik Radit
Almira tertegun dia sama sekali tak terfikirkan seperti itu.
"perjalanan sekitan 45 menit,tidurlah"
Radit menatap kedepan,tangannya menahan kepala Almira
"kau turis tuan?"tanya sang driver
"kami akan study di sini Sir"
"dia pacarmu?"
"bukan dia istriku"
"aneh ,tampaknya kau takut menyentuh istrimu sendiri,pasti dia galak."tawa sang driver
"kami muslim,malu jika bermesraan didepan umum sir walau sudah halal"
"benar,beberapa kali aku mendapat penumpang muslim benar2 menjaga rasa malu mereka."
"selamat datang di Danver Sir"
"terima kasih"
__ADS_1
Sesampai didepan apartement Radit mencoba membangunkan Almira tapi sulit sekali.
"tuan bisa tunggu sebentar"
"silahkan"
Radit memasukan laptop almira ke tasnya sedang tas almira dibawanya.Radit segera membopong Almira.
"tampaknya istrimu kelelahan tuan."
"hati2 terkena flu"
Radit mengangguk penuh terima kasih
Untuk sampai dilantai 2 tidak lah sulit bagi Radit
beban Almira di tambah tas dll tak sampaj 60 Kg,sedang dia adalah juara di angkatannya dalam perjalanan dengan senjata lengkap di hutan belantara dan total beban yang di bawa saat itu mencapai 104 Kg.
Pintu dengan mudah dibuka Radit.Segera Radit mengucap salam dan menuju tempat tidur.Merebahkan Almira perlahan segera menaruh barang bawaan mencuci muka dan berganti baju.
Radit coba membangunkan lagi
"dokter..dokter"
Almira tak bergeming
Radit membuka mantelnya,juga jilbabnya pellahan walau sudah beberapa kali melihat wajah Almira tanpa hijab tetap saja Radit harus menahan rasa bergemuruh didadanya
Radit mengecek suhu tubuh Almira ,menarik selimut menutupi tubuh Almira.
Saat akan meninggalkan tempat tidur lengan Almira menahan
"temani aku letnan"
Radit terdiam namun saat Almira malah menyusupkan kepalanya ke dada Radit,ia reflek mendekatkan tubuhnya lagi.
"dokter jangan seperti ini lagi,aku tak sanggup"Suara serak Radit terdengar serak
Almira malah menengadah wajahnya dikeremangan hembusan nafas Almira terasa dekat.
Godaan itu begitu besar namun sebelum Radit berfikir bibir Almira menempel pada bibir Radit.Radit memejamkan mata mengatur debar jantungnya sendiri
__ADS_1