Pacar Sewaan

Pacar Sewaan
Inikah Cinta?


__ADS_3

"Kau benar-benar bodoh, Ra! Hadeeuh! Bisa-bisanya kau termakan janji manis pria. Kau terlalu polos sampai tidak dapat membedakan mana tipuan dan mana yang tulus!" ucap Renatha kasar saat Kiara menceritakan pertemuannya dengan Biru beberapa waktu lalu.


Kiara terdiam. Hari itu, saat Biru mengajaknya untuk berjuang bersama, entah mengapa, Kiara merasa ucapan Biru benar-benar tulus. Selain itu, ada rasa aneh yang Kiara rasakan saat memandang kekasih pura-puranya itu.


Jantung Kiara juga tidak dapat berhenti berdetak setiap kali Biru memegang tangannya dan beberapa hari setelahnya, Biru bersikap manis kepadanya. Mereka benar-benar menjadi seperti seorang teman.


"Biru tulus, kok, Re. Aku bisa merasakan ketulusannya dan aku rasa juga dia berusaha menebus perlakuan orang tuanya dengan berbuat baik kepadaku," kata Kiara membela sosok Biru yang telah bersikap manis kepadanya itu.


Renatha mengerenyitkan keningnya. Raut wajah gadis itu tampak khawatir. "Aku hanya tidak ingin kau sakit lagi, Ra. Mungkin kau tidak akan mendapatkan masalah dengan Biru, tapi bagaimana dengan orang tuanya?"


"Katakanlah, kalian terbawa perasaan dan pada akhirnya saling menyukai, la-, ...."


"No! Akan kubuang jauh-jauh andaikan aku memiliki secuil perasaan seperti itu!" tukas Kiara tegas.


Karena dia sudah mengetahui sifat keluarga Biru, Kiara membuang segala kemungkinan untuk jatuh cinta kepada putra Bramasta tersebut. Memikirkan akan jatuh cinta saja tidak ada.


Walaupun akhir-akhir ini, Kiara merasakan sesuatu yang aneh pada jantungnya hanya pada saat dia bersama dengan Biru, tetapi dia tidak pernah menyimpulkan kalau keanehan itu adalah cinta.


Tak hanya Kiara yang merasakan keanehan seperti itu. Setiap Biru bertemu Kiara, dia merasakan jantungnya seperti diremmas kuat-kuat dan hari ini, dia berniat untuk memeriksakan dirinya ke dokter spesialis jantung dan pembuluh darah.


Sepagian itu, Biru hanya terbaring lemas. Sudah beberapa hari ini dia tidak keluar dari kamarnya sehingga membuat kedua orang tuanya khawatir.


"Kau sakit, Nak?" tanya Amanda. Wanita itu masuk ke kamar Biru dengan membawa baki berisi semangkuk bubur dan susu hangat. Setelah meletakkan baki di atas meja kamar Biru, dia menghampiri anaknya yang menutupi tubuhnya dengan selimut, lalu memegang keningnya. "Suhu badanmu sama dengan suhu badan Mama. Apa yang kau rasakan, Sayang? Pusing, mual, nyeri, sesak, coba kasih tahu Mama,"


"Aku tidak sakit, Ma. Tapi, jantungku yang sakit. Seperti berdebar-debar begitu. Apa aku sakit jantung , ya, Ma? Karena memikirkan Mama dan Papa yang tidak ada hentinya mengagung-agungkan Angeline," kata Biru sekaligus memberikan kalimat sindiran untuk ibunya tersebut.

__ADS_1


Amanda tertawa mendengar sindiran itu. "Huh! Sembarangan! Angeline itu baik, dia juga mengkhawatirkanmu. Selain itu juga dia bisa memasa-, ...."


"Ssst! Aku mau istirahat. Nanti sore aku mau ke rumah sakit, butuh energi. Mama keluar dulu," kata Biru kemudian dia pura-pura memejamkan kedua matanya menghindari tatapan kesal Amanda.


Setelah Amanda keluar, tiba-tiba saja Biru ingin sekali bertemu dengan Kiara tanpa alasan. Dia pun mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada gadis itu.


Dia menunggu dalam ketidakpastian, matanya tertuju pada layar ponselnya, dan tak dia alihkan sedikit pun. Setelah beberapa menit, pesan balasan yang dia tunggu-tunggu pun tiba.


("Sedang bersama Rere, menyusun skripsi. Sepertinya untuk sebulan ke depan, aku tidak bisa ke mana-mana dulu. Kau sedang apa?") tanya Kiara.


Tanpa sadar, sebuah lengkungan indah di bibir Biru pun muncul. Dia mengajak jari jemarinya berlarian dengan cepat di layar ponselnya.


Kemudian, dia kembali mengulangi hal yang tadi dia lakukan. Menatap layar ponselnya yang perlahan menjadi gelap sampai suara berdenting lemah berbunyi dan layar itu menyala kembali.


("Sakit? Sakit apa? Kupikir orang kaya tidak bisa sakit. Ya sudah, istirahat saja. Lagi pula aku harus mulai mengetik. Semoga cepat sembuh.") balas Kiara secara singkat dan padat.


Karena kesal, Biru meminta kepada supir pribadinya untuk mengantarkan dia ke rumah sakit. Dirgantara serta Amanda meminta Biru untuk memanggil dokter ke rumah. Namun, Biru tidak mau dengan alasan, dia ingin menghirup udara segar setelah berhari-hari berada di dalam kamar.


Tak lama, tibalah Biru di rumah sakit. Pemuda itu bahkan meminta kursi roda untuk menopang tubuhnya. "Aku tidak kuat jalan, Pa. Kurasa jantungku lemah,"


Dengan patuh, supir pribadi Biru itupun mengambil kursi roda untuk majikan kecilnya itu. Lalu, dia mendorong Biru hingga sampai di depan ruangan dokter. Karena mereka sudah membuat janji dan sang dokter juga kenal baik dengan Dirgantara, Biru pun dapat segera masuk tanpa mengantri.


Dokter pria dengan usia berkisar di atas 60-an tahun itu bertanya apa keluhan Biru. Pemuda itu pun menjelaskan apa yang dia rasakan.


Dokter itu mengangguk-angguk sambil mengetik keluhan pasiennya di sebuah PC dan kemudian, dia meminta perawat untuk membaringkan Biru di ranjang rumah sakit.

__ADS_1


Setelah Biru berbaring, dokter itu memeriksanya dengan stetoskop. Pemeriksaan itu dia lakukan berulang-ulang hingga dia yakin apa yang sebenarnya diderita oleh pasiennya.


"Suster, tolong siapkan EKG! Kita akan mengecek ritme jantungnya," kata Dokter itu.


Dengan cekatan, perawat pendamping itu memasang elektroda di dada, kaki, dan lengan Biru. Setelah terpasang, Dokter meminta Biru untuk bernapas seperti biasa. "Bernapas saja seperti biasa. Supaya saya bisa melihat apakah jantungmu mengalami kelainan atau tidak,"


Setelah 10 menit, perawat itu melepaskan semua kabel dari tubuh Biru dan dokter membacakan hasil pemeriksaan kelistrikan jantungnya.


"Apa yang sedang kau pikirkan kalau jantungmu terasa sesak?" tanya Dokter itu.


Biru berusaha mengingat-ingat. Kiara! Setiap kali dia memikirkan Kiara, jantungnya berdebar-debar dan dia akan merasa sesak. "Ehem! Seorang teman,"


Dokter itu pun tersenyum. "Temanmu seorang gadis?"


Dengan wajah memerah, Biru mengangguk perlahan. Senyum di wajah dokter bernama dr. Alex itu semakin lebar. "Dari hasil pemeriksaan tadi, jantungmu dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Mereka berfungsi dengan normal,"


"Tapi, kenapa berdebar kencang sekali? Bisa saja aku mengalami takikardia," kata Biru seakan tak terima dengan hasil pemeriksaan itu.


"Kau boleh pergi ke rumah sakit lain dan melakukan pemeriksaan yang sama. Jawabannya pasti hanya satu, jau sedang jatuh cinta, Tuan Bramasta," kata dr. Alex lagi, masih sambil tersenyum.


Biru menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin! Gadis yang sedang kita bicarakan di sini adalah temanku dan kami sedang terlibat bisnis. Aku sebagai klien dan dia penyedia jasa! Ada-ada saja, Dokter, hahaha!"


"Memangnya ada yang salah dengan itu? Dulu, istriku adalah anak pemilik kost saat aku sedang menyelesaikan pendidikanku dan nyatanya kami menikah," kata dr. Alex lagi. "Pasienku yang lain sudah menunggu. Aku hanya akan memberikan vitamin dan sedikit saran untukmu. Nikmati saja perasaanmu saat ini dan jangan sekali-kali kau menyangkalnya. Semakin kau sangkal, perasaan itu akan semakin besar. Itulah cinta,"


Biru pun keluar dari ruangan dokter itu seperti orang kehilangan akal sehat dan kewarasannya. Dia menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Tidak mungkin! Tidak mungkin ini cinta! Hahaha! Aneh sekali dokter itu, apa hari ini April Mop? Hahaha!"

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2