
"Sayang, apa yang ingin kau hancurkan?" tanya Kiara sembari menghampiri Kala yang terlihat gugup dan salah tingkah.
Laki-laki itu meletakkan ponselnya begitu saja dan memeluk Kiara. "T-, tenang saja, Sayang, aku yakin setelah aku menghancurkan itu, kau tidak akan takut lagi saat berendam di malam hari,"
Kening Kiara berkeriut. "Berendam di malam hari? Apa maksudmu?"
"Sarang kecoa, Sayang. Aku menemukan sarang kecoa di bawah bathup dan kau takut kepada mereka, 'kan?" kata Kala berkilah. "Sekarang, kau bisa berendam dengan nyaman, setelah itu, kita akan makan malam bersama. Aku akan menunggumu di bawah,"
Setelah mengucapkan kalimat itu, Kala mengecup pucuk kepala Kiara dan bergegas turun ke bawah untuk menunggu istrinya itu di meja makan.
Sedangkan Kiara, gadis itu berusaha mencari tahu dengan siapa kira-kira Kala berbicara. Dia melihat laptop suaminya itu terbuka dan masih menyala di atas meja, dia pun segera menghampiri laptop tersebut, dan membaca dengan cepat pesan yang terpampang di layar.
"Hmmm, tidak ada hubungannya dengan Biru. Syukurlah," ucap Kiara dalam hati. Dia sempat berpikir, apakah Kala sudah menghapus pesan dan riwayat panggilan? Namun, ternyata tidak ada pesan yang terhapus atau nomor mencurigakan dari daftar panggilan termasuk percakapan yang tadi didengarnya saat dia mengembalikan semua riwayat hapus data di laptop itu.
Tak mau terus mencurigai suaminya, Kiara mencoba melupakan percakapan Kala tadi dan berusaha mempercayai apa yang didengarnya.
Keesokan harinya, Kala bersikap seperti biasa. Tidak ada aktivitas yang mencurigakan saat itu. Mereka pergi ke kantor berdua dan menghabiskan waktu seperti biasa di sepanjang hari itu.
"Rasanya aneh, yah, kita sudah menikah dan masih bekerja bersama," kata Kiara suatu hari.
Kala tersenyum. Mereka baru saja selesai meeting dan sedang merapikan semua data yang mereka pakai. "Makanya, kau di rumah saja. Biarkan aku yang bekerja. Toh, aku tak datang ke kantor setiap hari,"
Sejak pesta pernikahan itu, Rajash menyerahkan kepemimpinan Mahendra Globalindo Corporation ke tangan putranya dan sejak saat itu pula, jabatan Kala pun ikut naik.
"Aku tidak ada kegiatan kalau di rumah. Lebih enak seperti ini. Aku bisa bebas keluar rumah dan menikmati hari-hariku di sini atau bersama dengan Renatha. Lagi pula, berbeda rasanya jika aku bersamamu di kantor dengan di rumah," jawab Kiara setengah menggoda suaminya itu.
Sejak dia memutuskan untuk fokus dengan rumah tangganya, Kiara bisa dengan mudah mencintai Kala. Namun, saat dia teringat Biru, keinginan untuk bertemu dengan pria tersebut selalu muncul di benaknya.
__ADS_1
Suatu hari, Kiara mendapatkan pesan dari seseorang yang mengajaknya untuk bertemu. Dia segera menghubungi Renatha untuk memintanya menemani bertemu dengan seseorang tersebut.
("Batalkan! Jangan bermain api, Ra! Ayolah! Aku juga tidak bisa menemanimu karena pernikahanku sudah semakin dekat. Please, berpikir rasional. Seluruh negeri ini sudah tau tentang pernikahanmu, waraslah sedikit,") ujar Renatha di telepon.
Kiara menghela napas. Terkadang, ada waktu di mana dia lupa pada kenyataan kalau dia sudah menikah dengan salah satu orang terkaya di negeri itu. "Aku lupa. Ya sudah, katakan padaku kalau kau butuh bantuan,"
("Sepertinya kau yang lebih membutuhkan bantuan, Ra! Berjanjilah kepadaku untuk tidak gegabah! Oh, aku harus pergi, sampai nanti,") Renatha kemudian menutup teleponnya dan meninggalkan Kiara terpana dengan pesan yang mengajaknya untuk bertemu itu.
Dia berpikir sejenak dan tak lama, jari-jarinya sudah berlarian cepat di atas keypad ponselnya. Gadis cantik itu sudah memutuskan sesuatu dan kemudian, dia segera menyimpan pesan dari orang itu ke dalam folder yang tak dapat ditemukan oleh Kala.
Beberapa hari kemudian, seorang pria duduk dengan cemas di sebuah restoran. Pria itu terlihat sedang menunggu kedatangan seseorang. Beberapa kali, dia menolak waitress yang menawarkan menu kepadanya dengan halus.
Selang beberapa waktu kemudian, dia melambaikan tangan kepada seorang tamu yang baru saja masuk ke dalam restoran itu.
"Kiara!" sahutnya.
Pria itu menggelengkan kepalanya. "Belum. Oh iya, selamat untuk pernikahanmu,"
"Thanks, Sa. Sudah lama, ya, kita tidak bertemu," ujar Kiara lagi.
Pria bernama Angkasa itu mengangguk. Kali ini, dia memanggil waitress dan meminta buku menu kepadanya. Dengan sedikit memberengutkan wajahnya, waitress itu memberikan buku menu kepada Angkasa.
Mereka berdua pun memesan menu yang sama dan setelah memesan, mereka mulai memulai percakapan. Kiara bertanya kepada pria itu tentang maksud dan tujuannya mengundang dia datang ke restoran tersebut.
"Mengenai Biru. Tidak bisakah kau menemuinya? Dia benar-benar menyesal dan semangat hidupnya seperti hilang. Dia tidak tidur, tidak makan, hanya vape saja yang jadi makanan dia sehari-hari," kata Angkasa sambil menggeleng. Nampaknya, pria itu lelah mengurusi sahabat sekaligus atasannya itu.
Kiara memandang tajam ke arah Angkasa. "Minta dia untuk meningkatkan kualitas hidupnya dan temui aku dalam tiga hari ke depan. Di tempat ini saja dan aku akan menemuinya,"
__ADS_1
Seakan tak percaya, Angkasa menyorongkan telinganya ke arah Kiara. "Apa? Kau sungguh-sungguh? Lalu, bagaimana dengan suamimu? Kau sudah menikah,"
"Mana bisa aku membiarkan dia seperti itu, Sa! Bagaimanapun, masih ada dia sedikit di hatiku," kata Kiara dengan nada naik turun.
Gadis itu bersungguh-sungguh saat mengatakan Biru masih berada di dalam hatinya. Dia sendiri juga tidak paham mengapa masih ada Biru di sana, seharusnya pria itu sudah tersingkir begitu Kiara memutuskan untuk menjalin hubungan serius dengan Kala.
Tak beberapa lama, pesanan mereka datang. Mereka makan sambil berbincang-bincang. Mengenai pernikahan Kiara dan Kala, mengenai Angeline, mengenai kedua orang tua Biru, dan mengenai Biru (tentu saja!).
"Saham mereka anjlok, Ra. Satu per satu, bukti kelicikan Dirgantara terkuak. Ayah Angeline pun membatalkan kerjasama dengan Dirgantara dan fia terpaksa menelan kerugian cukup banyak karena sahamnya sudah dia serahkan kepada Dirgantara dan Dirgantara tak bodoh, dia segera memindahkan nama saham dari Baskara menjadi nama perusahaan Bramtama Coorporation," kata Angkasa menjelaskan.
Kiara menghela napas kasar. Dia tidak ingin mendengar kabar tentang kehancuran Biru dan keluarganya. "Angkasa, stop! Aku sudah tau! Ayah Kala sudah pernah membahas hal itu, dan aku tidak dapat membayangkan bagaimana keadaan Biru saat ini. Terakhir aku bertemu dengannya di hari pernikahanku, dia benar-benar, ... Entahlah, I'm speechless,"
Kiara dapat merasakan sakit yang sama dengan sakit yang dirasakan oleh Biru. Dia seolah-olah dapat merasakan pahit dan perih hidup mantan kekasihnya saat itu, hanya dengan melihat sorot matanya.
"Untuk itulah aku datang ke sini," kata Angkasa lagi. "Jadilah kekasih Biru on date. Kau belum lupa, 'kan?"
On date adalah jasa sewa kekasih online. Jasa yang ditawarkan berupa, memberikan pesan singkat dan manis, mengirimkan gambar atau selfi, dan sleep call, atau hanya sekedar telepon-an biasa.
Kiara mengerutkan keningnya. "Maksudmu? Aku berpura-pura jadi kekasihnya lagi?"
Angkasa menggeleng. "Bukan! Hanya sebagai cheerleader saja sampai dia menemukan tujuan hidupnya. Tentu saja, aku akan membayarmu,"
"Bisa habis aku kalau Kala tau," kata Kiara, seketika menolak.
"Rahasiamu aman bersamaku dan aku pastikan, suamimu tak akan tahu rahasia kita ini. Tiga hari, itu waktu yang kau janjikan. Bagaimana?" tanya Angkasa.
...----------------...
__ADS_1