Pacar Sewaan

Pacar Sewaan
Aku Mau Menikah


__ADS_3

("Kiara, maafkan aku karena tidak sempat berpamitan denganmu. Sebenarnya, aku masih ingin bersamamu, tapi keadaanku tidak memungkinkan untuk seperti itu. Semoga, ketika aku kembali nanti, aku masih bisa berharap kalau kita bisa bersama,")


Pesan itu diterima oleh Kiara seminggu setelah dia tidak bertemu dengan Biru. Ya, selama seminggu lalu, Biru seperti hilang ditelan bumi. Tanpa kabar dan tanpa berita apa pun.


Namun rasa kehilangan Kiara kepada Biru tak berlangsung lama, karena ayah Kala, Rajash Mahendra datang ke kediaman orang tuanya dan meminangnya.


Tentu saja hal itu membuat kedua orang tua Kiara terkejut, apalagi saat itu, Kiara sedang tidak ada di sana. Segera saja, Delia menghubungi putrinya yang sedang bersama Angkasa di kantor Oke Cupid.


"Waduh! Tuan Mahendra datang ke rumah? Usir saja, sih, Ma! Suka mengada-ada itu si Kala! Aarrghh, Kiara ke sana sekarang, deh!" ucap Kiara kesal.


Suara Delia terdengar bingung dan sedikit geli mendengar jawaban dari Kiara. "Ra, yang datang itu bukan hanya anaknya tapi ayahnya juga datang. Ya, sudah, kau cepat datang ke sini, ya. Mama akan meminta mereka menunggumu,"


"Heh! Serius! Baiklah, Kiara jalan sekarang! Kiara tutup ua, Ma," balas Kiara lagi dan dia sekarang menutup panggilan dari ibunya tersebut. Kemudian tanpa membuang waktu, cara berpamitan kepada Angkasa dan menceritakan apa yang sedang terjadi di rumahnya saat itu.


Respons Angkasa sama seperti Kiara. Pria itu menggelengkan kepalanya sambil berdecak kagum memandang Kiara. "Kau hebat! Bisa-bisanya sampai dibuat rebutan seperti ini,"


"Apanya yang rebutan! Sudahlah, aku pamit dulu. Minggu depan aku ke sini lagi. Thanks, Sa," ucap Kiara, lalu dia segera bergegas keluar dari kantor berwarna merah muda tersebut.


Saat tiba di rumah kedua orang tuanya, Kiara segera mengucapkan salam kepada Rajash dan Kala. Walaupun dia memandang Kala dengan tajam setajam sebilah pedang, tetapi gadis itu tetap berusaha untuk tersenyum.


"H-, halo, Tuan Mahendra," kata Kiara memberi salam kepada Rajash dan Kala.


Rajash tampak terkesima melihat kedatangan Kiara, gadis yang ditunggu-tunggunya sedari tadi. "Ah! Hahaha, ini putriku, huh? Maafkan ayah mertuamu yang senang memberimu kejutan, hahaha!"


"Hahahaha, iya, Om," kata Kiara tersenyum pahit. Lalu, dia mengambil posisi duduk di antara keduanya.

__ADS_1


"Apa itu yang kau pakai?" tanya Kala melihat kaus kuning dengan bentuk hati besar berwarna merah muda di depannya yang bertuliskan Oke Cupid. "Pakaian macam apa itu? Kau daritadi berkeliaran dengan pakaian seperti itu?"


Kiara tersenyum lagi, kali ini senyum kesal. "Oh, hahaha. Aku bekerja membantu temanku menjalani bisnisnya,"


Rajash menarik pundak Kiara dengan cukup kencang, sehingga gadis itu nyaris saja terjatuh. "Gadis pintar! Cepat-cepatlah kau menikah dengan putraku dan lupakan sejenak pekerjaanmu,"


"Ah, soal itu, .... Hahaha! Aduh, bagaimana, ya? Hahaha!" ujar Kiara sambil tertawa kering. Ekor matanya menatap Kala yang seolah-olah menikmati moment tersebut. Entah bagaimana, wajah pria itu tampak berseri-seri.


"Oke! Berarti, kita hanya tinggal menentukan tanggalnya saja. Bagaimana, Tuan Pratama? Setuju? Oh, masalah saham. Anda tidak perlu khawatir, tunjuk saja mana perusahaan yang kau inginkan dan kembangkanlah perusahaan itu sesuai dengan passionmu," kata Rajash bersungguh-sungguh.


Rendy tertawa dan tersipu. Sesuatu yang sudah lama dia impikan, kini ada di depan matanya. Namun sayang, mengapa impian itu datang bersamaan dengan pinangan putrinya? Lantas, apa yang akan terjadi jika kedua putra dan putri mereka memutuskan hubungan ini? Rendy memandang Delia, menatap wanita bermata sayu itu dengan bimbang.


Delia menggenggam hangat tangan suaminya. Dia tersenyum dan mengangguk. Seakan paham apa yang dimaksud oleh belahan jiwanya tersebut, Rendy mengeratkan genggamannya dan mengangguk juga.


"Begini, Tuan Mahendra, saya senang sekali dengan tawaran Anda. Kedatangan Anda beberapa waktu yang lalu terkesan luar biasa sekali untukku. Anda seperti mengantarkan mimpi yang sudah lama saya idam-idamkan sejak lama, Tuan," kata Rendy merasa terhormat. "Namun, saya harus menolak tawaran Anda. Bisnis dan pernikahan itu tidak bisa disamakan. Mereka berdiri sendiri-sendiri. Saya tidak mau, putri saya mempertahankan hubungan yang tidak dia kehendaki hanya karena dia ingin saya bertahan di perusahaan milik Anda. Hidup saya biarkan saya yang mengatur, begitu pula dengan hidup putri saya. Saya bebaskan dia memilih apa yang menurutnya terbaik untuk hidupnya, bukan untuk hidup saya,"


"Semua anggapanmu tentang pernikahan dan bisnis, aku setuju dengan itu. Satu hal yang harus kau tau, apa pun yang terjadi nantinya dengan anak-anak kita, tidak akan berpengaruh terhadap jabatanmu, kecuali kalau kinerjamu buruk dan kau menyebabkan kerugian di perusahaanku," sambung Rajash lagi, kali ini dikatakan dengan bijak olehnya.


Rendy dan Delia seketika menatap Kiara yang segera mengangkat kedua alisnya. Mereka berdua sudah menyerahkan keputusan di tangan Kiara. Sama seperti pasangan Pratama, Rajash pun menjauh dari Kiara serta Kala, dan meninggalkan mereka berdua untuk berdiskusi.


Setelah kepergian para orang tua, Kala menyikut lengan Kiara dengan kasar. "Lalu, apa jawabanmu?"


"Jawaban apa?" Kiara balik bertanya.


"Ya, itu tadi!" tukas Kala tak sabar.

__ADS_1


Kiara mengangkat kedua bahunya sambil mencebik. Tak ada di dalam benaknya kata bertunangan apalagi menikah. Selaim itu, dia baru saja mengakhiri hubungannya dengan Biru, rasa-rasanya, dia belum siap untuk kembali menjalin sebuah hubungan.


"Aku tidak tahu. Tapi, apa ayahmu serius dengan ayahku?" tanya Kiara.


Kala merasa, Kiara lebih tertarik dengan kedua ayah mereka dibandingkan dengan hubungan mereka berdua. Dia pun memberengutkan bibirnya. "Cih! Aku bertanya tentang kita, bukan tentang ayahku atau ayahmu!"


Manik Kiara kini seakan mengunci Kala, kedua netra mereka saling bertumpu. "Kau ingin jawaban jujur dariku?"


Kala mengangguk cepat.


"Aku sedang menunggu waktu. Waktuku untuk berdamai dengan diriku sendiri dan waktuku untuk sanggup berdamai dengan seseorang yang membenciku. Apakah aku akan membencinya juga atau benci itu akan menguap dan menghilang? Begitulah," jawab Kiara berterus-terang.


Gadis itu memutuskan hubungannya dengan Biru dengan alasan yang sama. Dia ingin menjauh dan tak ingin membenci kedua orang tua Biru lebih dalam lagi, karena itu dia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Biru.


Mendengar jawaban Kiara, Kala terdiam, dan tidak dapat mengeluarkan kata-kata lagi. Hingga pada akhirnya, hari itu Rajashlah yang berhasil meminang Rendy sebagai rekan bisnis barunya.


Itulah yang dialami oleh Kiara setelah seminggu kepergian Biru. Saat ini, dia terpana menatap ponselnya dan menatap layar ponsel itu seakan ponsel itu bertanggungjawab atas perasaan yang dia rasakan saat ini.


Seminggu setelah kabar dari Biru dia dapatkan, tiba-tiba saja sebuah berita mengejutkan datang ke hidupnya. Hari itu adalah hari Minggu, di mana Kiara dan Renatha akan menghabiskan waktu dengan berbaring dan bermalas-malasan di apartemen mereka.


Saat itu, Renatha sedang membuat sarapan di dapur dan bertanya apa yang ingin Kiara santap di pagi itu. Namun, saat dia menolehkan kepalanya ke arah Kiara, dia melihat hadis itu terdiam dan terpaku pada layar ponselnya.


"Ra, Kiara! Woi! Kau mau apa untuk sarapanmu? Waffle, nasi goreng, sereal, roti bakar, atau lainnya?" tanya Renatha.


Kiara menoleh dan saat itu, cairan bening bergulir dari ekor matanya. Dia terisak dan suaranya tercekat. "R-, Re, aku mau menikahi Kala!"

__ADS_1


"Heh!" sahut Renatha terkejut sambil menggenggam erat spatula di tangannya yang terbungkus mitten.


...----------------...


__ADS_2