Pacar Sewaan

Pacar Sewaan
Rahasia Kelam


__ADS_3

Kemarahan Rendy kepada Biru sudah mencapai puncaknya. Matanya nanar menatap pemuda yang menjadi kekasih putrinya itu. "Keluar! Keluar kau sekarang juga! Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!"


"Papa! Biru tidak salah dan Kiara juga tidak mengerti kenapa Papa tiba-tiba marah! Paling tidak, Papa bisa kasih tau apa yang terjadi!" tukas Kiara yang sudah mulai takut melihat emosi ayahnya.


Rendy hampir tidak pernah marah sehebat itu sepanjang hidup Kiara. Bahkan untuk membentak pun tidak pernah. Maka dari itu, Kiara benar-benar heran, apa yang membuat ayahnya semarah itu kepada Biru.


Kemudian, dia teringat respon yang dia dapatkan saat orang tua Biru mengetahui nama keluarganya. Ada apa sebenarnya? Apakah mereka berdua saling mengenal?


"Om, maaf kalau saya ada salah. Saya pamit dulu, permisi, dan terima kasih jamuannya," kata Biru membungkuk sopan kepada Rendy dan Delia.


"Ya! Jangan datang-datang lagi! Lupakan putriku! Kami tidak mau berhubungan dengan keturunan Bramasta baik masa kini maupun Bramasta yang akan datang! Ya! Ya! Ya! Pergilah!" seru Rendy marah.


Setelah Biru pergi, Rendy menghempaskan tubuhnya di sofa. Dia mencoba mengatur napasnya yang sedari tadi tersengal-sengal karena emosi. Kiara memandangi ayahnya itu dengan tatapan bingung, dia ikut membantu menenangkan Rendy.


"Pa, ada apa sebenarnya, sih?" tanya Kiara.


Rendy menopang kening dengan tangan sambil memijat-mijat pelipisnya itu. "Huft, di mana kau mengenal pria itu?"


Kiara pun menjelaskan awal pertemuannya dengan Biru, tetapi dia tidak menceritakan kalau dia bertemu dengan Biru di sebuah pelayanan jasa penyewaan kekasih.


Dia yakin ayahnya pasti akan lebih marah jika dia mengatakan kalau dia menyewa Biru di sebuah aplikasi berbayar.


Delia memandangi Kiara mencari celah kejujuran di mata anak gadisnya itu sambil tangannya tak henti mengusap punggung Rendy.


"Kau sudah pernah bertemu dengan keluarga laki-laki itu? Papa tidak akan menyebutkan namanya. Papa tidak mau nama terkutuk itu terdengar di bawah atap rumah kita! Tidak! Bertahun-tahun Papa berusaha menghilangkan rasa sakit karena ulah Pria Brengsek itu, tapi kau justru membawa putra pria itu masuk ke dalam sini!" tukas Rendy tersekat.


Kiara ragu apakah dia akan menceritakan pertemuan dengan kedua orang tua biru kepada ayah ibunya ataukah dia harus menyimpan semuanya sendiri.


Gadis itu cepat-cepat mengalihkan pandangannya dan memandang ke arah lain. "Kiara belum pernah bertemu dengan orang tuanya, tapi Kiara pernah datang ke sana,"


Hati Kiara terasa sakit karena telah membohongi kedua orang tuanya, apalagi di saat Rendy baru saja meledak seperti ini.


Dengan takut-takut, Kiara pun bertanya kepada kedua orang tuanya tentang apa yang terjadi antara mereka dengan kedua orang tua Biru.

__ADS_1


"Kiara Sayang, papamu masih memiliki luka yang cukup dalam jadi jangan paksa dia untuk bercerita," kata Delia lembut. Namun, Kiara dapat merasakan pedih pada suara ibunya itu.


Rendy memegang tangan Delia, lalu mengangguk. "Kurasa sudah saatnya Kiara tahu kebenarannya, Ma,"


Wajah Rendy terlihat sangat lelah, tetapi dia menguatkan dirinya untuk dapat bercerita. "Kiara, Nak, dengarkan Papamu ini. Setelah itu, Papa mohon jauhilah keluarga itu dan jangan pernah sesekali kau berhubungan dengan dia lagi,"


"Beberapa tahun lalu, ...." kata Rendy memulai ceritanya.


Pagi hari itu, dua orang pria sedang mengamati pergerakan saham dengan seksama. Tak hanya mereka, tetapi ada beberapa rekan kerja mereka yang sama-sama sedang mengamati grafik warna hijau tersebut.


Dua orang pria yang saling berangkulan tampak mengepalkan tangan mereka dan begitu pasar saham ditutup, mereka berdua bersorak kegirangan.


"Yes! Yeaaah! Kita berhasil!" tukas salah seorang dari pria itu.


"Dirga, kau lihat grafik kita itu terus menanjak sampai puncak! Bagaimana? Aku pribadi menyarankan kita pertahankan angka itu. Minggu depan, jika berhasil tembus rank baru kita lepas," kata teman pria itu.


Pria yang disapa Dirga itu berkacak pinggang. Kedua maniknya terus menatap lurus garis hijau yang kini telah berhenti itu. "Izinkan aku menikmati garis itu dulu, Rendy. Ini seperti keajaiban, beberapa bulan yang lalu, kita mengais modal dan sekarang, dia tumbuh menakjubkan,"


Rendy merangkul pundak Dirga dan menatap penuh haru pada layar videoreon yang ada di depan mereka. Grafik hijau bertuliskan Bramtama Coorp mengungguli beberapa grafik lainnya dan berhenti tepat di angka tertinggi.


Bramtama Coorporation adalah perusahaan kecil yang sedang berkembang yang bergerak di bidang investasi saham. Mereka memainkan saham dengan baik dengan tujuan meraup keuntungan sebanyak mungkin dari perusahaan lain yang telah mereka kalahkan.


Pemilik Bramtama Coorporation tak lain tak bukan adalah dua orang sahabat bernama Dirgantara Bramasta dan Rendy Pratama. Bramtama Coorporation sendiri adalah gabungan dari kedua nama mereka, Bramasta dan Pratama.


Impian kedua orang pria itu adalah memperluas jaringan mereka dan membuat perusahaan raksasa yang sanggup bergerak di semua sektor bisnis.


Rendy dan Dirgantara sudah memiliki istri dan anak. Rendy memiliki seorang putri, sedangkan Dirgantara memiliki seorang putra.


Usia anak mereka puntak terlalu jauh, hanya terpaut 3 tahun. Istri-istri mereka pun saling mengenal dengan baik dan tak jarang mereka selalu berkumpul bersama-sama.


Setelah kemenangan mutlak itu, di tahun-tahun ke depan, Bramtama Coorporation mulai menanjak dan melebarkan sayap mereka. Mereka mulai memasuki berbagai macam sektor bisnis dan mulai menguasai sektor tersebut.


Pundi-pundi keuangan mereka pun mulai menumpuk dan mereka membagi saham mereka menjadi dua bagian untuk saling mengembangkan kekuasaan mereka sesuai kemampuan dan minat masing-masing.

__ADS_1


Suatu hari, seseorang mendatangi Dirgantara dan dia menawarkan kepada pria itu untuk memberikan sahamnya secara cuma-cuma dengan syarat dia harus melepaskan Rendy dari perusahaan Bramtama.


Namun saat itu, Dirgantara menolak dengan tegas syarat itu. "Tidak bisa! Pratama adalah bagian dari perusahaan ini, dari nama perusahaan ini seharusnya kau sudah tahu, 'kan? Bagaimana mungkin aku melepaskan dia!"


"Lagi pula, perusahaan kami sudah cukup besar dan kami sudah mendirikan cabang di mana-mana. Tetapi tetap saja, Bramtama adalah pusat kami," sambung Dirgantara lagi.


Pria itu menawarkan sejumlah uang dalam jumlah fantastis. Tentu saja Dirgantara tergiur. Tak hanya uang, tetapi juga kekuasaan dan beberapa perusahaan yang akan dia dapatkan jika dia mengambil tawaran tersebut.


"Bayangkan keuntungan yang kau dapatkan, Bram," kata orang itu.


Dirgantara menggigit bibirnya. Di kepalanya diam-diam dia menghitung berapa keuntungan yang akan dia dapatkan. Namun di sisi lain, dia harus mematikan Rendy supaya saham pria itu jatuh dan dapat dia lepaskan. "Ya, aku rasa Pratama juga akan kuat jika sendiri,"


Maka, Dirgantara pun mulai menyusun skenario untuk menendang Rendy dari perusahaan bersama milik mereka tanpa memikirkan apa yang akan terjadi jika dia melepas Rendy dari daftar kepemilikan saham.


Secara diam-diam, Dirgantara menjual saham-saham bernilai kecil milik Rendy kepada perusahaan besar yang menawarinya kerjasama tersebut, hingga saham Rendy bernilai nol.


Saat pasar saham dibuka, betapa terkejutnya Rendy saat grafik hijau miliknya terus menurun hingga titik nol. "Apa yang terjadi pada grafikku? Apa kau tau sesuatu?"


Dirgantara mengajak Rendy berbicara berdua di kantor mereka. "Aku tidak dapat menyelamatkanmu, Kawan. Hanya ada satu cara, lepaskan saham 50% yang masih kau pegang di perusahaan ini, untuk membantumu bangkit kembali,"


Rendy pun menelan mentah-mentah usulan Dirgantara dan saat dia melepaskan saham terbesarnya kepada Dirgantara, saat itu juga, satu per satu perusahaan miliknya mengalami kebangkrutan karena nilai sahamnya terus jatuh dan Rendy sama sekali tidak mempersiapkan itu. Apalagi dana yang dia miliki sudah dia serahkan semuanya kepada Dirgantara.


Keesokan harinya, Dirgantara mengumumkan kerjasama barunya dengan seorang pengusaha ternama dan menyatakan kalau dia sudah tidak bekerjasama lagi dengan Pratama.


Sejak saat itu, Rendy tidak bisa menemui Dirgantara ataupun keluarganya. Pria itu pun dilarang datang ke kantornya sendiri, Bramtama Coorporation.


"Dirgantara! Apa yang kau lakukan, Bodoh! Kalau kau ingin pergi, seharusnya kau bisa pergi tanpa menghancurkanku! Ganti nama perusahaan itu!" tukas Rendy sambil berteriak di depan lobi. Dia tidak peduli kepada semua orang yang memandang ke arahnya.


Cerita itu ditutup dengan tarikan napas panjang dan tatapan mata kosong dari Rendy. "Begitulah, Nak. Papa sudah ikhlas, hanya saja, hati Papa masih sakit jika mengingat kejadian itu,"


Kiara segera memeluk ayah dan ibunya itu. Mereka bertiga pun saling berpelukan dan menangis. Saat itu, Kiara dapat merasakan pedih dan sakit yang dirasakan oleh ayahnya.


Malam itu, Kiara menghubungi Biru melalui pesan singkat. Beberapa kali jemarinya terlihat menghapus dan membatalkan pesan itu. Sampai pada akhirnya, dia berhasil mengirimkan pesan hanya dalam 3 kata.

__ADS_1


"Ayo, kita putus!"


...----------------...


__ADS_2