Pacar Sewaan

Pacar Sewaan
Tidak Boleh!


__ADS_3

Hari Minggu itu, taman luas milik Rajash berubah menjadi tempat yang sangat indah dengan kursi serta meja bulat yang memenuhi taman itu. Taman yang didominasi dengan warna putih dan biru muda itu tampak ramai dengan orang berlalu lalang tanpa henti sejak pagi tadi.


Di salah satu kamar yang berada di dalam rumah itu terdengar suara panik serta tawa riang yang menyertai suara itu.


Seorang gadis terlihat sangat cantik dan menawan dalam gaun berwarna putih yang memiliki aksen pita menjuntai di belakang gaun itu. Wajah gadis itu tampak tak tenang dan beberapa kali, dia bangkit dari duduknya, serta menepiskan make up yang hendak diberikan di wajahnya.


"T-, tunggu dulu! Aah, maafkan aku!" Gadis itu mengumpulkan oksigen sebanyak mungkin lalu menghembuskannya dengan kasar. Tak lama, dia duduk kembali. "Aku perlu sesuatu untuk tenang,"


Ibu dan sahabat yang melihat gadis itu tampak panik, menghampirinya dan memegang pundaknya dengan lembut. "Kau mau menikah atau balap lari, sih? Dikit-dikit ambil napas, gerak sana, gerak sini, duduk-berdiri, duduk lagi, laku berdiri lagi! Santai sajalah, Ra!"


"Mana bisa aku tenang, Rere! Sebentar lagi, kebebasanku akan musnah, dan Kiara yang dulu akan segera berganti menjadi Nyonya Mahendra! Semakin kupikirkan, aku semakin takut. Padahal tinggal beberapa jam lagi pesta pernikahan kami, tapi rasanya aku tak siap. Bagaimana ini? Aku takut! Bagaimana nanti kalau kami bercerai? Atau ternyata Kala bukan jodohku? Atau aku akan menyandang gelar janda dalam waktu dekat! Aarrghhh! Aku frustrasi jika memikirkan itu!" tukas Kiara, kini, bunga-bunga kecil yang menempel di kepangan rambutnya berjatuhan satu per satu.


"N-, Nona, maaf, Nona, jangan banyak bergerak dulu," kata sang penata rambut sambil kembali menempelkan hiasan bunga putih itu di rambut Kiara.


Kiara mengatupkan kedua tangannya, meminta maaf. Saat ini, dia hanya bisa berusaha untuk memantapkan hati atas keputusan yang sudah dibuat olehnya.


Delia, sang ibu, hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Wanita itu membantu penata rambut untuk merapikan kembali kepangan rambut putrinya.


"Menikah tidak semenakutkan itu, kok, Nak. Mama juga dulu takut, tapi, Mama yakin kalau Mama sudah mengambil keputusan yang terbaik untuk menikah dengan papamu. Takut? Pasti! Selama masih bisa dibicarakan, bicarakanlah dengan suamimu. Mama lihat, Kala bukan pria yang keras dan dia cukup mengerti apa yang ingin kau lakukan. Katakan padanya saat kau tidak nyaman, katakan padanya kalau kau masih ingin memiliki waktu untuk dirimu sendiri atau berdua saja dengannya. Ingat, Ra, menikah itu hanya tentang berbicara. Jadi, komunikasikan saja dengan Kala, Mama yakin, dia akan mengerti," kata Delia lembut kepada putrinya.


Kiara menggigit bibir bawahnya, wajahnya yang cantik, masih terlihat ragu dan cemas. "Kiara takut gagal, Ma,"

__ADS_1


Lagi-lagi, Delia tersenyum. Tangannya kini sibuk mengikat pita gaun Kiara dan merapikan ekor gaun tersebut. "Takut ya silakan, tapi jangan sampai ketakutan itu menghancurkanmu,"


"Tuh, dengerin, Ra! Kau itu overthinking! Dijalanin saja belum, tapi sudah memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi! Santai saja dan anggap saja, kau naik level. Benar, 'kan, Tante?" timpal Renatha meminta dukungan dari Delia yang sekarang terkikik geli karena ocehan teman baik putrinya itu.


"Kau saja belum menikah!" balas Kiara panas.


"Bulan depan, 'kan? Kau yang akan menjadi pengiringku!" sahut Renatha lagi.


Delia tertawa kecil sambil menenangkan dua gadis yang tampaknya siap berdebat panjang pagi hari itu. Setelah mendapatkan pencerahan panjang lebar dari ibu dan sahabatnya, Kiara merasa yakin untuk menikah. Walaupun masih ada seberkas rasa takut yang menggelayut di hatinya, tetapi dia cukup mantap untuk melanjutkan pesta pernikahan ini.


Tak lama, pintu pun diketuk. Seorang pria berbadan tegap dan bersuara dalam muncul dari balik pintu. Dia tercengang melihat Kiara dan segera saja, dia menghampiri gadis itu dan mendekapnya erat.


"Anak Papa cantik sekali hari ini. Sepertinya, Papa berat untuk melepasmu, Nak. Ah, bagaimana ini, Ma? Papa jadi cengeng?" kata pria itu menahan haru.


Kiara mendekap erat kedua orang tuanya. Mau tak mau, bendungan air matanya terbuka dan mengalirkan cairan putih bening di kedua pipinya. "Apa Kiara tidak usah menikah saja? Kita pulang saja, yuk!"


"Jangan ngaco!" tukas Rendy menjauhkan tubuh putrinya. "Papa senang kau akan tinggal dengan orang lain. Tidak ada lagi yang harus Papa nasihati untuk makan atau tidur! Kala akan menggantikan Papa nanti, semoga dia bisa menjadi pengingat yang baik untukmu,"


Akhirnya, Kiara pun selesai. Gadis itu sudah siap untuk berjalan menuju pelaminan. Sebelum pesta, mereka akan mengadakan pemberkatan pernikahan. Di mana sumpah dan janji setia akan dikumandangkan di hadapan Sang Penguasa serta saksi pernikahan.


Rendy sudah memberikan lengannya untuk Kiara. "Siap? Katakan saja kalau kau sudah siap! Kita bisa berbincang-bincang sampai altar nanti,"

__ADS_1


Kiara mengangguk dan memasukkan lengannya di lengan ayahnya. "Aku tau, aku akan selalu punya tempat untuk pulang,"


"Selalu! Beritahukan kepadaku kalau Kala menyakitimu atau Rajash mencampuri kehidupanmu," kata Rendy.


Kiara menunduk. Gadis itu mengulum senyum sambil menyembunyikan air mata dari ayahnya. Sebentar lagi, nama Pratama yang tersemat di belakang namanya akan berganti menjadi Mahendra. Dia akan menjadi istri dari seorang Kalandra Mahendra, pewaris tunggal Rajash Globalindo Corporation. Sebuah titel berat yang akan disandangnya dalam beberapa menit.


Sambil menikmati alunan musik dari Pachabell, Rendy membesarkan hati Kiara serta mengajak putrinya itu untuk bercanda.


Akhirnya, tibalah mereka di depan altar. Di mana Kala dan Rajash sudah menunggu. Dengan berat hati, Rendy nenyerahkan Kiara kepada pemuda itu. "Kala, jika kau sudah tidak mencintainya, kembalikan saja dia padaku. Jangan sakiti dia apalagi sampai menjatuhkan air matanya. Dia adalah putriku, sampai kapan pun, dia tetap seorang putri bagiku. Jaga dan sayangi dia melebih aku menyayangi dia,"


Setelah mengucapkan permintaan itu, Rendy memeluk Kala dan merelakan putri kecilnya bersama dengan Kala yang segera menyanggupi permintaan Rendy tersebut.


Tak lama, serangkaian acara pembukaan pemberkatan pernikahan pun dimulai. Satu demi satu ritus pembuka berhasil mereka lewati, hingga sampailah mereka untuk saling mengucapkan sumpah perkawinan.


Walaupun gugup, Kala dan Kiara berhasil mengikrarkan sumpah mereka di hadapan saksi dan Tuhan. "Apa yang sudah dipersatukan oleh Tuhan, tidak dapat dipisahkan oleh manusia. Dengan ini, Kalandra Mahendra dan Kiara Pratama dinyatakan sebagai sepasang suami istri. Kedua pengantin dipersilakan saling memberi salam,"


Kala pun membuka veil yang menutupi wajah Kiara. Dengan lembut, pria itu mendaratkan sebuah kecupan manis di bibir Kiara. Sorak sorai dari para tamu undangan memenuhi taman belakang itu.


Di tengah riuhnya suasana pemberkatan, tiba-tiba saja seseorang datang dengan membawa speaker besar yang pernah dipakainya. "Aku keberatan! Aku keberatan dengan pernikahan ini! Tidak boleh! Kiara Pratama, tidak boleh menikah dengan siapa pun selain denganku!"


Dengan cepat, dia menarik tangan Kiara dan membopongnya keluar dari taman itu sambil berlari.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2