Pacar Sewaan

Pacar Sewaan
Off Date dan Huru Hara


__ADS_3

"Lagi-lagi aku bodoh! Bisa-bisanya aku menyanggupi kemauan Angkasa! Hadeuuh, Kiara ... Kiara!" sahut Kiara dalam hati sambil merutuki kebodohannya yang kali ini dia anggap sudah mendarah daging dalam dirinya.


Namun, bayangan tentang wajah Biru yang sedih dan hancur, membuat Kiara kembali memaklumi keputusan gegabahnya tersebut.


Pada akhirnya, dia mengambil ponsel dan mulai menanyakan kabar Biru. Awalnya, dia terlihat canggung dan beberapa kali menghapus pesan, tetapi setelah sekian lama, dia menekan tombol kirim untuk pesannya itu.


"Hei," begitu bunyi pesan Kiara. Ya, hanya satu kata.


Gadis itu tak perlu menunggu lama, karena beberapa detik kemudian, Biru membalas pesannya. ("I miss you,")


Kiara memutar ponselnya sambil berpikir, apa yang harus dia katakan kepada Biru. Jantungnya berdegup kencang, dja merasa kalau dia mengkhianati Kala dan janji pernikahannya.


Sambil menghela napas, gadis itu kembali melarikan jari-jarinya di atas keypad ponsel. "Hidup dan bahagialah. Aku akan menemuimu lusa,"


Sebuah gambar emoticon tersenyum masuk ke dalam ponsel Kiara disertai dengan ibu jari sebanyak lima buah serta gambar hati. Mau tak mau, Kiara tersenyum. Dirinya larut dalam memori, hingga Kala masuk ke dalam kamar dan mengejutkannya.


"Kenapa kau tersenyum?" tanya Kala seraya memeluk Kiara untuk mendekat. "Apa kau merindukanku?"


Senyum Kiara bertambah lebar. Dia berusaha untuk fokus kepada Kala, suaminya. "Ya, aku merindukanmu,"


Kecupan hangat pun mendarat di bibir Kiara. Entah mengapa, Kiara membuat kecupan itu menjadi sebuah pagutan yang sanggup membangkitkan hasrat dalam diri Kala.


Pria itu segera menjatuhkan Kiara ke atas ranjang. Tak perlu basa-basi, mereka berdua pun tenggelam dalam hasrat panas nan menggelora.


"Kapan kau siap berbulan madu, Sayang? Aku menantikan itu," tanya Kala sambil membelai rambut Kiara dengan lembut.


Kiara yang berada dalam pelukan Kala pun beringsut mendekat. "Minggu depan. Kau ada waktu?"


Jawaban itu terlontar begitu saja dari mulut Kiara. Dia juga tak paham mengapa minggu depan. Ada apa di minggu depan dan kata-kata itu tak bisa ditarik kembali saat dia melihat wajah suaminya yang sumringah dan semangat.

__ADS_1


"Benarkah? Tentu saja aku selalu ada waktu untukmu! Baiklah kalau begitu, ayo, kita belanja untuk membeli semua keperluan bulan madu kita!" kata Kala bersemangat. Namun, tiba-tiba dia terdiam. "Oh, besok ayahku memintaku datang untuk RUPS. Bagaimana kalau lusa?"


Lusa! Itu adalah hari keramat Kiara, dia akan bertemu dengan Biru! "Maaf, Renatha memintaku menemaninya untuk mencoba gaun pengantin serta gaun untuk pengiring pengantinnya. Setelah itu, dia akan mengajakku test food,"


Wajah Kala seketika itu juga berubah menjadi suram. "Ah, dia mau menikah. Kenapa kemarin dia tidak menikah bersamaan dengan kita saja, sih! Ckck! Biar aku protes kepadanya!"


"Jangan! T-, tidak usah! Aku yang mau dan aku yang mengusulkan karena aku ingin membalas budi padanya. Saat kita menikah, dia ikut repot juga. Rasanya tidak enak, jika aku tidak membantunya," kata Kiara berbohong.


Hatinya mencelos saat kebohongan itu dengan mudah keluar menjadi sebuah alasan. Paling tidak, untuk satu minggu ini, dia ingin menghabiskan waktunya bersama Biru. Sampai dia siap melepas Biru untuk orang lain, siapapun itu, dan dia akan fokus ke rumah tangganya.


Niat Kiara itu benar-benar dia jalankan dengan baik. Tidak pernah sekalipun Kala curiga padanya sampai hari ketiga, Kiara dan Biru saling bertegur sapa via online.


Hingga akhirnya, Kiara memutuskan untuk mengajak Biru bertemu di tempat di mana dia menemui Angkasa saat itu. Dengan menggunakan blouse serta blazer berwarna merah muda cerah, Kiara segera bergegas pergi ke restoran tersebut.


Setibanya dia di sana, dia melihat sosok pria berwajah tampan mengenakan kacamata hitam sambil tersenyum ke arahnya. Kiara membalas senyum pria tersebut dan menghampirinya.


Biru menundukkan kepalanya. "Demi kau, gunung vulkanik pun akan aku daki,"


Tak lama, mereka sudah asik mengobrol seperti sepasang kawan lama. Tembok yang membentang di tengah mereka, seakan sudah rubuh dan hancur. Mereka terlihat lebih nyaman dan santai.


Biru menanyakan apa rencana Kiara je depannya. Kiara pun menjawab kalau dia akan pergi berbulan madu dengan Kala minggu depan.


"Kenapa? Kupikir kau akan meninggalkan dia, Ra!" sahut Biru. "Lalu, apa maksudmu dengan semua ini? Ratusan pesan manis yang kau kirimkan kepadaku, apa maksudnya itu?"


"Aku tidak ingin melihatmu terpuruk! Aku ingin kau bangkit dan angkat kepalamu kembali! Jangan menyerah dengan hidupmu, Biru!" balas Kiara tegas. "Kau tau selamanya kita tak akan pernah bisa bersatu!"


Biru menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi makan dan melipat tangannya. "Orang tuaku sudah menerima ganjarannya! Aku yakin, mereka akan menerimamu, Ra!"


Kiara menggelengkan kepalanya. Mana boleh mereka seperti itu! Mana boleh orang tua Biru berubah menjadi baik kepadanya! Tidak, di saat dia sudah menjadi istri orang lain! "Lupakanlah! Hari ini hari pertemuan kita yang terakhir, setelah itu, kita lanjutkan hidup kita masing-masing!"

__ADS_1


"No! Aku mau kau! Jika aku harus melanjutkan hidupku, itu hanya denganmu! Kalau kau menolak, aku akan tetap menjalani hidupku seperti ini! Ayolah, Ra, tinggalkan Kala dan menikahlah denganku," desak Biru. Pria itu tampak seperti kehilangan akal, dia menggenggam erat kedua tangan Kiara.


"Biru, kumohon, jangan seperti ini. Kau tau kita tidak bisa kembali. Aku mencintai suamiku," kata Kiara tercekat. Gadis itu berusaha menahan laju air matanya supaya tidak jatuh dan mengalir.


Kata-kata cinta yang baru saja dia ucapkan seakan hampa dan tak berarti. Saat itu, dia sadar, kalau dia masih mencintai Biru. Itu sebabnya dia ingin Biru bangkit dan kembali seperti dulu. Itu pula sebabnya, dia menunda bulan madunya, dan itu pula yang membuat Kiara berbohong dan melakukan segala hal yang beresiko hanya untuk Biru.


Seolah membaca pikiran Kiara, Biru menggeleng. "Tidak! Kau mencintaiku, Ra! Kau masih mencintaiku! Kembalilah, Ra, kembalilah padaku!"


Saat itu, serombongan orang masuk ke dalam restoran. Salah seorang dari rombongan itu melihat mereka berdua dan menghampiri meja keduanya. "Kiara? Sedang apa kau di sini?"


Pria itu pun melihat kedua tangan Kiara yang saling bertautan dengan tangan Biru. Tanpa pikir panjang, dia memberikan bogem mentahnya, tepat di wajah Biru. "Sudah kukatakan kepadamu berkali-kali untuk menjauh dari istriku!"


"Kala!" tukas Kiara dan dia menahan tangan suaminya yang sudah siap untuk meninju kembali.


Biru meringis. "Dia yang menemuiku, dia yang mengajakku bertemu,"


Sambil berusaha berdiri, Biru melemparkan ponselnya ke arah Kala. "Baca saja pesan-pesannya. Istrimu masih mencintaiku, Kala! Akuilah kekalahanmu,"


Kiara berusaha merebut ponsel itu. Namun sayang, Kala justru semakin mencurigainya. Tanpa mengecek kebenaran yang diungkapkan oleh saingan bisnis sekaligus saingan cintanya itu, Kala sudah dapat menebak siapa yang memulai pertemuan itu lebih dulu.


"Katamu kau pergi bersama Renatha? Kenapa kau membohongiku? Tiga hari kemarin, kau membuatku jatuh cinta lagi, lagi, dan lagi, Kiara. Kenapa? Kenapa kau berbohong?" tanya Kala dengan suara pelan, sangat pelan.


Kiara terisak. Dia merasa sangat bersalah dan berdosa kepada Kala. Seharusnya, suaminya itu, menampar atau membentaknya saja, mungkin dia akan merasa lebih baik.


"Maaf, aku hanya ingin dia bangkit dan tidak terpuruk lagi," isak Kiara. Dia tak berani mengangkat wajahnya dan menatap mata Kala.


"Lalu? Apa hubungannya denganmu? Sampai kau mengorbankan bulan madu kita, terlalu! Kita bicara di rumah! Aku akan pulang lebih dulu dan jangan ikuti aku! Aku takut akan memukulmu atau bahkan membencimu, Kiara!" kata Kala dingin, lalu, dia berlalu meninggalkan Kiara yang masih terisak di meja makan restoran itu.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2