Pacar Sewaan

Pacar Sewaan
Sumpah Setia


__ADS_3

Kiara memaksakan dirinya untuk tersenyum di malam itu. Sulit sekali bersikap normal di saat hati dan pikirannya sedang berkecamuk memikirkan Biru dan Angeline. Apa yang terjadi dengan mereka? Beberapa kali juga, Kala menoleh ke arah gadis itu untuk melihat kekasihnya.


Seusai makan, Kala mengajak Kiara untuk duduk di taman belakang rumah megah itu. Taman belakang rumah Kala sangat luas dan terdapat kolam renang seukuran pulau kecil di tengah-tengahnya.


Mereka duduk di salah satu kursi taman yang diterangi oleh lampu taman yang menyorot dari bawah. "Aah, akhirnya kita berdua,"


Kiara tak merespons ucapan tunangannya tersebut. Dia hanya menatap kosong kolam renang yang beriak kecil. Kala menyugar rambutnya sambil bersiul-siul menyenandungkan sebuah lagu.


"Biru! Binggo! Kau memikirkan dia," kata Kala setelah dia selesai bersenandung. "Aaahh, apakah aku ada di hatimu, Kiara?"


Kiara pun tersentak. Dia tak menyangka Kala dapat menebak isi pikirannya. "Terlihat sekali, ya?"


Pria itu mengangguk. "Sangat,"


"Apakah bagian dia masih besar di hatimu? Sampai kau terus memikirkan dia seperti ini? Ah, aku jadi cemburu," kata Kala lagi sambil tersenyum pahit.


"Kenapa kau cemburu? Seharusnya kau santai saja, kita sudah memiliki komitmen. Apa pun yang terjadi dengan Biru pasti aku tetap memikirkan dia, tapi aku akan kembali kepadamu," kata Kiara menenangkan. Dia memegang tangan Kala dan mengecup punggung tangannya dengan lembut.


Saat itu, Kiara kesal kepada dirinya sendiri. Mengapa dia masih harus memikirkan Biru di saat dia sudah memiliki seorang pria yang baik dan sayang kepadanya. Tak hanya itu, keluarga Kala pun memperlakukannya dengan baik dan hangat. "Dasar Gadis Tak Tahu Diri!" gerutu Kiara dalam hati.


Maka, gadis itu pun mengambil keputusan untuk menyingkirkan Biru dari pikiran dan hatinya. Dia hanya akan fokus kepada masa depannya bersama Kala.


Setelah itu, dia menghabiskan sisa malam itu dengan berbincang-bincang bersama dengan Kala. Mereka membicarakan tentang apa pun yang terlintas di otak mereka.


Tanpa terasa, malam semakin larut. Rajash meminta Kiara untuk menginap di rumahnya. "Menginap sajalah, Kiara. Kalau orang tuamu ingin pulang, silakan. Tapi kau menginap saja di sini. Temani Papamu,"


Delia merasa berat dengan keinginan Rajash, wanita itu memberikan kode kepada Kiara untuk mengurungkan niatnya menginap di sana.


"Maaf, Papa. Kiara sudah berencana untuk menginap di rumah Mama sama Papa malam ini," kata Kiara. Dia menolak permintaan Rajash dengan sopan.


Wajah Rajash sedikit kecewa, begitu pula dengan Kala. Akan tetapi, dia memahami keputusan Kiara serta kedua orang tuanya. "Baiklah, tapi Papa sudah tidak sabar untuk segera meresmikan pernikahan kalian,"

__ADS_1


Setelah beberapa menit menemani Rajash berkelakar, akhirnya mereka bertiga berpamitan. Sepanjang perjalanan, Kiara jatuh tertidur dan begitu sampai, Rendy membangunkan putrinya itu untuk masuk ke dalam.


Keesokan harinya, Kala sudah berada di depan rumah Rendy untuk menjemput Kiara. Kiara yang saat itu masih berpiyama, mempersilakan tunangannya itu untuk masuk ke dalam.


"Kau terlalu pagi, Pak," kata Kiara menyindir.


Kala memeluk kekasihnya dengan erat dan mengecup pucuk kepala gadis itu. "Aku merindukanmu, Sayang,"


Kiara membalas pelukan Kala. Dia dapat merasakan aroma kayu di tubuh tunangannya. "Kau sudah harum, aku masih ileran, hahaha! Aku mandi dulu,"


"Hei, maukah hari ini kita absen bekerja? Kita berlibur saja ke suatu tempat, aku ingin menghabiskan waktu seharian berdua denganmu. Bagaimana?" tanya Kala dalam bisikan.


Jantung Kiara berdegup kencang. Ini pertama kalinya Kala mengajak berkencan. Selama ini, mereka tidak pernah ada waktu untuk berkencan. Biasanya, acara berdua mereka hanya makan siang atau makan malam bersama. Untuk berpergian keluar, sama sekali belum pernah mereka lakukan.


"Mau, tidak?" tanya Kala lagi karena Kiara tidak menjawab pertanyaannya.


Sesuatu yang panas menjalar di wajah Kiara, dia segera melepaskan diri dari pelukan Kala. Ya, wajahnya merona kemerahan. "Ehem! Aku mau saja. Kau mau ke mana?"


Kala memberengutkan bibirnya dan mengangkat kedua bahunya. "Aku belum tahu, tapi kita jalan saja,"


Tak lama, mereka sudah berada di dalam mobil Kala. Seluruh jadwal meeting serta janji temu di reschedule oleh Kiara dengan alasan, keperluan keluarga.


Awalnya, Kiara takut ayah Kala akan marah. Namun ternyata, sambutan Rajash diluar dugaan Kiara. Pria tua itu tertawa senang. "Hahaha! Wah, sudah kutunggu-tunggu berita kalian berkencan. Ya, ya, ya! Bersenang-senanglah dan bawakan aku cucu! Hahahaha!"


"Papa!" tukas Kiara dan Kala bersamaan, tetapi sepertinya ayah Kala itu tidak mendengar sentakan mereka berdua.


Seusai meminta izin dari Rajash, mereka berdua terdiam. Suasana di dalam mobil berwarna hitam itu menjadi hening, hanya terdengar suara musik yang diputar dengan volume kecil.


"Wah, pendinginnya kurang dingin ini!" kata Kala sambil membuka jendela.


Begitu pula dengan Kiara. Gadis itu tak habis pikir, apa yang ada di dalam kepala calon mertuanya sampai bisa meminta mereka untuk membawa pulang seorang cucu.

__ADS_1


"Ayahmu, benar-benar," ucap Kiara tersipu.


"M-, maaf," kata Kala gugup.


Setelah perjalanan selama satu jam mereka tempuh, akhirnya mereka sampai di sebuah tempat. Kala tersenyum kepada Kiara dan menelengkan kepalanya. "Kau bisa?"


"Tentu saja," kata Kiara bersemangat.


Tadinya, dia bingung ke mana Kala akan mengajaknya. Ternyata ke arena ice skating. Mereka pun menyewa sepatu roda serta alat pelindungnya.


"Aku sudah lama sekali tidak mencoba bermain ini. Kurasa, aku kehilangan kemampuanku," kata Kiara saat dia sudah berdiri di atas es.


Namun, Kala menuntunnya dan meluncur bersamanya. "Jangan lepaskan tanganku sampai kau yakin kau bisa meluncur sendiri,"


Kiara mengangguk. Dia menggali seluruh memorinya tentang aktivitas ice skating itu. Dengan bantuan Kala, perlahan-lahan, Kiar mulai mengingat nikmatnya meluncur di atas es dan bergerak mengikuti irama musik yang mengalun.


Satu demi satu jari, Kiara lepaskan dan dia menutup matanya untuk merasakan terpaan hawa dingin yang menyapa lembut wajahnya.


Tiba-tiba saja, di dalam kepala Kiara mengalun musik yang lembut dan indah. Kiara mulai mengerakkan tangannya dengan gemulai dan dia mulai meluncur dengan gerakan yang sempurna.


Tak lama dia membuka matanya kembali. "Kala, lihat aku!"


Sambil berkata demikian, Kiara melakukan putaran sebanyak tiga kali dan ditutup dengan lompatan dramatis yang sangat indah.


Kala menyambut tubuh Kiara dan meluncur bersamanya. Bagaikan profesional, mereka berdua meluncur dengan indah tanpa memedulikan orang-orang yang melihat mereka.


"Kiara!" ucap Kala tiba-tiba. Dia melepaskan tangannya dan memutari Kiara, dan berlutut di depan gadis itu.


"Kiara, maukah kau menikah denganku?" kata Kala. "Aku tau rencana pernikahan itu ada, tapi, aku ingin mendengar dari mulutmu langsung. Aku mencintaimu, Kiara. Maukah kau menghabiskan sisa hidupmu bersamaku?"


Tanpa kejutan, tanpa persiapan, Kala melamar Kiara di tengah-tengah arena ice skating. Kiara terpana dan tak tahu harus bagaimana. Mereka memang akan segera menikah, tetapi Kala tidak pernah melamarnya dengan semanis dan semendadak ini.

__ADS_1


Gadis itu menatap Kala dan sosok Biru dengan wajahnya yang sedih seolah datang dan menatapnya dengan tatapan sendu. Kiara memejamkan matanya kuat-kuat dan dia meminta Kala untuk berdiri. "Bodoh! Kita sudah pasti akan menikah, 'kan? Berdirilah dan peluk aku! Aku juga mencintaimu, Kala,"


...----------------...


__ADS_2