
Satu bulan yang lalu,
"Aarrgghh! Kenapa kau memintaku untuk mematahkan kartu sim-ku? Bagaimana aku menghubungi Kiara? Bodohnya aku!" tukas Biru sesaat setelah dia mematahkan kartu sim-nya.
Angkasa hanya menggelengkan kepala menghadapi sahabat kaya rayanya yang sedang dalam pelarian tersebut. Saat itu, Biru yang kabur tanpa membawa apa pun dengan wajah tidak bersalah mematahkan kartu sim-nya sendiri supaya kedua orang tuanya tidak dapat menghubungi dia lagi. Namun, sepersekian detik kemudian dia mengeluh dan mengutuk kebodohannya sendiri.
"Besok pergilah ke gerai ponsel dan minta mereka pulihkan nomormu," kata Angkasa memberi saran.
Dia tidak tega melihat wajah pemuda yang sedari tadi menatap kartu sim yang telah patah menjadi dua bagian itu. "Sudahlah, ayo kita istirahat dulu!"
Biru mengangguk lemah dan seperti seorang anak kecil yang baru saja menemukan sesuatu yang berharga, dia meletakkan kartu sim yang telah patah itu dengan sangat hati-hati di atas bantal, tepat di sisinya.
"Kau akan membawa kartu itu bersamamu?" tanya Angkasa lagi dan Biru mengangguk tanpa bicara, lalu dia memejamkan kedua matanya.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Biru sudah membangunkan Angkasa untuk pergi ke gerai. Pemuda itu sudah rapi dan sudah siap pergi bahkan sudah tercium harum biji kopi yang sudah diseduh memenuhi ruangan apartemen itu.
Angkasa menggeliat lemah, bukan karena guncangan dari Biru, tetapi dari aroma kopi yang sudah menggelitik rongga hidungnya. "Waaaah, harum sekali,"
"Selamat pagi, Angkasa." Biru sudah menyambutnya dengan senyuman lebar yang memperlihatkan gigi-gigi putih hasil veneer di dokter gigi. "Aku membuatkanmu secangkir kopi serta roti panggang durian kesukaanmu,"
Mata Angkasa menatap Biru yang sudah berpakaian rapi, lalu dia melirik ke arah jam dinding yang menggantung di dinding. "Ini masih jam 6 pagi, kau mau ke mana?"
"Gerai ponsel," kata Biru santai.
Angkasa pun tak dapat menahawan tawanya. Dia tertawa terpingkal-pingkal karena tingkah laku temannya itu. "Hahahaha, astaga, Biru! Ingatlah kalau kau sedang kabur dan kau tidak dapat memakai nama Bramasta nanti. Intinya, kau menjadi rakyat biasa yang harus tunduk dan mengikuti peraturan yang ada,"
Raut wajah Biru seakan tertampar oleh tangan raksasa, tiba-tiba saja dia tersadar, dan menghempaskan tubuhnya ke sofa. "Kau benar,"
Selama ini, Biru selalu mengandalkan nama Bramasta untuk mendapatkan segala akses dan kemudahan. Misalnya saja, dia tidak perlu mengantri panjang saat di ATM atau ingin membayar sesuatu. Tinggal sebut nama ayahnya, maka dia akan dilayani dengan sangat baik.
__ADS_1
Begitu pula cara Biru untuk lolos dari jerat peraturan yang menurutnya hanya membuang-buang waktu, dengan santai dia akan mengeluarkan kartu penduduknya dan segalanya akan selesai dalam sekejap mata.
Tak pernah dia bayangkan bagaimana seandainya jika dia benar-benar melepaskan nama Bramasta dari namanya. Mengerikan sekali. Memikirkan hal itu, Biru pun bergidik. "Ooh, aku harus bagaimana, Sa?"
"Menunggu dengan sabar," kata Angkasa sambil menyesap nikmat kopinya.
Karena tidak ada pilihan lain, Biru pun terpaksa menunggu. Ketika sudah waktunya pergi, dengan bersemangat Biru mengajak Angkasa untuk segera jalan ke gerai. Setibanya di sana, dia memakai nama Angkasa dan berhasil mengaktifkan kembali nomor ponselnya dengan memakai kartu sim yang baru.
Setelah urusan perkartuan selesai, dengan sisa yang ada, Biru membeli sebuah ponsel dan segera saja, dia menghubungi Kiara. Namun, berkali-kali dia mencoba, nomor Kiara tidak aktif.
"Lho, kenapa aku tidak bisa menghubungi Kiara? Mengirimkan pesan pun gagal. Apa yang terjadi?" tanya Biru.
Berhari-hari, pria itu menghubungi gadis kesayangannya, tetapi tidak ada jawaban dari Kiara. Tak hilang akal, Biru pun bertandang ke kediaman Kiara, lagi-lagi dia harus kembali dengan hampa.
"Katanya pindah rumah. Masa iya?" kata Biru bermonolog.
Karena tidak terbiasa hidup mandiri dan makan makanan seadanya, imunitas Biru pun semakin menurun, sampai akhirnya pria itu jatuh sakit.
Namun, tetap saja Biru tak kunjung sembuh. Sedangkan Angkasa, tidak dapat selalu ada untuk menemani Biru yang terbaring sakit.
Suatu malam, Angkasa harus menemui kliennya di sebuah restoran yang berada di pusat kota dan di sanalah dia bertemu dengan Kiara. Dia memohon kepada gadis itu untuk mengajak Biru kembali ke orang tuanya.
"Aku tidak bisa! Biru sudah tidak ada lagi hubungannya denganku, Sa! Lagi pula aku datang ke sini bersama dengan atasa-, ...."
Saat itu kata-kata Kiara terputus karena seorang pria tiba-tiba saja mengatakan dan mengaku kalau dia adalah kekasih Kiara. Akan tetapi, angkasa tidak menyerah begitu saja. Dia tetap meminta Kiara untuk mencoba menghubungi Biru atau dirinya kalau-kalau gadis itu berubah pikiran.
Setibanya Angkasa di apartemen, dia menceritakan pertemuannya dengan Kiara kepada Biru. Mendengar cerita dari sahabatnya, Biru pun segera beranjak dari ranjangnya dan kemudian dia meminjam motor angkasa untuk pergi menemui Kiara.
"Tapi, kau tidak tau dia di mana, 'kan? Lagi pula kau masih sakit! Pakai sedikit otakmu, Biru!" tukas Angkas yang pada akhirnya menyesal karena menceritakan pertemuannya dengan Kiara kepada sahabatnya yang sedang tergeletak sakit itu.
__ADS_1
Wajah Biru yang tampak lelah seakan semakin lelah. "Kau bilang dia di Wonderful Resto, 'kan? Ya sudah, aku akan ke sana!"
Angkasa menggelengkan kepala lalu menahan temannya itu untuk tidak pergi keluar. "Sudah kukatakan, pakai otakmu! Pikirkanlah, apakah jam segini restoran itu masih buka! Cinta boleh, bodoh jangan!"
Satu bogem mentah mendarat di wajah Angkasa. "Ya, aku memang bodoh! Katakan saja dengan lantang kalau aku bodoh! Tapi, jangan pernah sekali pun kau halangi aku untuk bertemu dengan gadis yang kucintai!"
"Pergilah!" kata Angkasa dengan putus asa.
Angkasa sudah mengenal watak Biru yang temperamen dan keras kepala. Sahabat baiknya itu tidak akan mengurungkan niatnya saat dia sudah bertekad untuk melakukan sesuatu.
"Ya, memang aku akan pergi!" kata Biru sambil menyambar kunci motor yang berada di atas lemari pendingin. Kunci itu dia acungkan ke arah Angkasa. "Aku pinjam motormu, besok pagi akan kukembalikan,"
Beberapa saat kemudian, Angkasa sudah mendengar deru laju motor yang semakin lama semakin menjauh. Dia hanya memejamkan matanya dan berharap Biru akan baik-baik saja, paling tidak dia tidak akan pingsan di tengah jalan mengingat suhu tubuhnya masih cukup tinggi.
Namun, ketakutan Angkasa pun menjadi kenyataan. Dengan kondisi yang masih demam dan tanpa menggunakan jaket ataupun lapisan pakaian yang tebal, Biru mengendarai motor dengan kecepatan yang tinggi.
Kepalanya seakan dipukul oleh sesuatu dari dalam sehingga berdentang-dentang dan telinganya terus berdengung seperti ada ribuan lebah yang berkerumun di dalam telinganya.
Biru memegangi pelipisnya untuk menahan rasa sakit. Pandangan matanya kian lama kian kabur, sehingga beberapa kali, dia memejamkan mata kuat-kuat untuk mengusir rasa sakitnya.
Karena tidak fokus dan berkutat dengan kesakitan yang hebat, Biru tidak melihat ada mobil di depannya sehingga dia terjatuh dan tidak sadarkan diri.
Lama Biru terkapar di jalanan malam yang sepi dan dingin, sampai sang pemilik mobil itu keluar, dan menolong Biru. Wanita itu membalikkan tubuh Biru dan sesaat kemudian, dia memekik. "Biru! Mama, ini Biru, Ma!"
Sontak saja, seorang wanita lain keluar dari tempat itu dan segera bersimpuh di sisi putrinya. "Astaga! Ayo, bawa ke rumah sakit! Mana Tuan Sam? Sam! Sammy, bawa pria ini ke dalam mobil, kita harus segera ke rumah sakit!"
Seorang pria berusia sekitar 40-an tahun datang tergopoh dan mendekati ibu dan anak itu. Sesaat dia terkejut melihat Biru yang tergeletak lemah, kemudian, dia menggendong Biru dan memasukkan tubuh pria itu ke dalam mobil sesuai instruksi nyonya-nya.
"Ayo, Njel! Nanti kita terlambat menolong Biru! Mama telepon Amanda dul-, ...."
__ADS_1
Wanita itu mengambil ponsel dari genggaman ibunya, lalu dia menggeleng. "Jangan, Ma. Angeline tau apa yang terjadi, kita bawa saja Biru pulang ke rumah, lalu kita panggil dokter ke rumah. Begitu saja, ya?"
...----------------...