Pacar Sewaan

Pacar Sewaan
Galau


__ADS_3

"Menunda honeymoon? Kenapa, Sayang? Kita sudah merencanakan segalanya dari jauh-jauh hari, lalu sekarang, kau minta tunda! Aku tidak marah, aku hanya-, ...." tukas Kala keesokan harinya.


Jadwal mereka setelah pesta pernikahan dilangsungkan adalah berbulan madu. Destinasi tempat serta segalanya sudah dipersiapkan sesuai dengan kemauan Kiara. Oleh sebab itu, Kala sedikit kesal karena tiba-tiba saja Kiara meminta untuk menunda acara mereka tersebut.


Kiara hanya tertunduk. Gadis itu tidak berani menatap wajah pria yang baru sehari menjadi suaminya itu. Sejak pertemuannya dengan Biru kemarin, entah mengapa, hatinya goyah.


"Biru! Karena pria brengsek itu, 'kan? Come on, Kiara, we've married! Jangan katakan, kalau hatimu goyah? Aku tidak tau apa yang terjadi di antara kalian selama lima menit itu, tapi kalau dia membuatmu goyah, sesuatu yang besar telah terjadi! Benar atau tidak?" desak Kala dengan nada tinggi. Untuk saat ini, sulit rasanya bersikap tenang.


Laki-laki itu mengusap wajahnya dengan kasar. Dia berkacak pinggang dan menghela napas panjang. "Kenapa dia bisa membuatmu goyah?"


"Dia cinta pertamaku, dia kisah awalku, dia harapan pertamaku, dan aku juga tidak paham apa yang terjadi. Tapi, melihat dia seperti itu, aku-, ... Aku iba dan hatiku tersentuh," kata Kiara. "Aku tau kita sudah menikah dan aku tidak pernah ada niat untuk meninggalkanmu, Kala. Percayalah," sambungnya lagi.


Dalam lubuk hatinya, Kiara meminta maaf kepada Kala karena telah berbohong. Ya, saat ini hatinya terbagi. Entah bagaimana Biru sukses merasuk ke dalam hatinya. Kiara pun tak percaya kalau pria itu berhasil mengobrak-abrik kemantapan hatinya dengan mudah.


Semalaman dia telah memikirkan permintaan Biru dan tiba-tiba saja, keinginannya untuk berbulan madu, sirna begitu saja.

__ADS_1


"Maafkan aku," ucap Kiara lemah. Saat ini, perasaan bersalah menggelayuti hatinya.


Kala hanya terdiam memandangi sosok gadis yang kini sudah menjadi istrinya tersebut. Dia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. "Baiklah. Kali ini, aku percaya kepadamu. Tapi, aku berharap, semoga kau tidak pernah mengkhianatiku, Kiara,"


Kiara berjalan menghampiri Kala dan memeluknya. "Tidak akan pernah, Sayang. Aku mencintaimu lebih dari apa pun dan siapa pun,"


Satu buah kecupan manis mendarat di pucuk kepala Kiara. Kemudian, Kala membalas pelukannya dengan erat. Dia berharap, dapat mempercayai apa yang baru saja diucapkan oleh istrinya itu.


Saat ini, sulit sekali untuk percaya kepada Kiara. Pria itu yakin, Biru telah mempengaruhi istrinya. Rasanya, ingin sekali dia membuang Biru ke tempat yang jauh, luar angkasa mungkin, atau menghanyutkan pria itu ke lautan yang paling dalam.


Bayangan liar yang terus bermunculan di kepala Kala, sedikit banyak membuatnya terhibur dan membantu pria itu untuk meredamkan amarah serta emosinya.


"Siap, Bos!" jawab pria berjanggut dan berkacamata hitam itu mengangguk.


Sementara itu, Kiara mengadukan isi hatinya dan rasa galaunya kepada Renatha. Wanita itu merengek dan sesekali mengeluarkan air matanya.

__ADS_1


"Kau gila, Ra! Kau sudah menikah, kenapa bisa goyah? Aku tak tau apa yang kau lihat dari Biru Sialan itu! Kalau aku menjadi kau, aku tidak akan pernah mengajak pria manapun berkunjung ke hatiku," kata Renatha tajam.


"Dia cuma singgah sebentar, Re! Singgah sebentar tanpa berniat untuk menetap!" balas Kiara tak mau kalah.


Gadis itu bersikeras mengatakan kalau dirinya tak akan terpengaruh oleh hasutan atau kata-kata Biru. Pernikahannya bahkan belum menginjak usia 24 jam. Dia menundukkan kepalanya saat mengingat pernikahan dan komitmen yang sudah dia utarakan bersama Kala.


Ada sepersekian bagian dam hatinya yang menyesali pernikahan itu. Kenapa dia harus menikah dengan Kala? Mengapa Biru harus muncul saat dia memakai gaun pengantin? Mengapa dia terlalu terburu-buru mengambil keputusan untuk menikah? Aarrgghh, pertanyaan-pertanyaan itu semakin lama semakin membuatnya merasa bersalah dan membenci dirinya sendiri.


"Ra, tenanglah! Pikirkan baik-baik, buka hati dan pikiranmu! Lalu, ambillah keputusan saat kau tenang," kata Renatha lagi, menghibur Kiara yang raut wajahnya tampak frustrasi. "Aku tidak tau pelet apa yang dipakai oleh Biru sampai kau bisa hancur seperti ini, Ra! Kumohon, sadarlah, Kiara, sebelum segalanya benar-benar hancur!"


Kiara sadar apa yang diucapkan oleh sahabat baiknya itu benar. Namun, keinginannya saat ini hanyalah ingin bertemu dengan Biru, lagi, lagi, dan lagi. Dia ingin berada di samping pria itu dan tidak ingin berpisah sedetik pun dengannya.


Kali ini, Kiara berusaha mengambil alih alter egonya dan kembali fokus kepada Kala. "Kau benar, Re. Aku tidak boleh terpengaruh atau aku akan hancur,"


Dengan anggapan sudah menguasai kembali dirinya, Kiara pun kembali ke rumah dengan perasaan cukup tenang sampai ketika dia mendengar Kala berbicara kepada seseorang.

__ADS_1


"Hancurkan saja, aku tidak ingin dia muncul kembali!"


...----------------...


__ADS_2