Pacar Sewaan

Pacar Sewaan
Berikan Aku Kesempatan!


__ADS_3

"Biru! Turunkan aku! Kau gila!"


Kiara terus meronta-ronta dalam gendongan pria yang telah merusak hari sakralnya. Sementara itu, Kala terus mengejar mereka tanpa lelah.


Tak hanya Kala tetapi juga petugas keamanan yang bertugas menjaga keamanan acara itu. Karena Kiara yang terus bergerak, dan rasa lelah yang sudah dirasanya, Biru pun tersungkur.


Begitu Biru terjatuh, dua hingga tiga orang petugas keamanan meringkusnya. Sedangkan Kala, dia segera mengamankan gadis yang baru saja sah menjadi istrinya.


"Kau tak apa-apa, Kiara?" tanya Kala sambil menatap wajah Kiara yang pucat pasi. Setelah mendapatkan anggukan dari istrinya tersebut, Kala memeluk Kiara erat di dalam dekapannya. "Oh, aku takut terjadi sesuatu denganmu, Kiara,"


Kiara pun memeluk erat Kala. Dia dapat merasakan degup jantungnya serta degup jantung Kala yang masih berdetak begitu kencang. "Aku baik-baik saja. Aku hanya, aku-, ...."


"Ssttt! Tidak perlu kau lanjutkan, aku antar kau kembali. Syukurlah, pemberkatan tadi sudah selesai. Maaf, aku tidak maksimal menjagamu," kata Kala lagi. Pria itu masih berusaha menenangkan istrinya yang terlihat shock. "Aku antar kau ke Papa dan Mama, setelah itu, aku akan mengurus pria brengsek yang sudah merusak acara kita!"


Tidak ada respons dari Kiara, dia hanya menurut saat Kala menuntunnya kembali ke tempat pesta. Lututnya terasa lemas dan otaknya masih mencerna apa yang baru saja terjadi.


Biru!


Mengapa dia muncul kemblaiy? Bagaimana dia tahu hari ini adalah hari pernikahannya? Darimana pula dia mengetahui tempat ini? Media! Ya, pasti dari berita hari ini! Berita yang disiarkan oleh seluruh media. Apa alasan Biru melakukan hal nekat seperti ini? Bagaimana dengan Angeline? Di mana tuan dan nyonya Dirgantara?


Pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan di benak Kiara. Dahinya terus berkerut-kerut karena berpikir keras dan mencoba memecahkan semua pertanyaan itu.


Begitu mereka kembali ke tempat pesta, Rendy dan Delia segera memeluk Kiara. Mereka menanyakan hal yang sama kepada putrinya tersebut. Sedangkan Rajash, pria tua itu sibuk mengecek keamanan sambil terus meneriaki setiap petugas keamanan.


"Kenapa bisa orang tanpa undangan masuk ke dalam! Bagaimana kerja kalian! Untung saja dia tidak membawa bom! Tapi tetap saja, dia nyaris menculik menantuku! Menantu kebanggaanku! Sialan!" tukas Rajash.

__ADS_1


Suaranya menggelegar terdengar ke mana-mana. Sampai semua orang menoleh ke arahnya dan saling berbisik-bisik. Rajash murka, tentu saja. Tidak sembarang orang bisa datang ke pesta pernikahan putranya tersebut. Dia membuat undangan terbatas untuk acara itu, karena dia ingin acara pernikahan itu dapat berlangsung sakral dan khidmat.


Wajar saja, jika dia marah karena para petugas keamanan bisa kecolongan dengan kehadiran Biru. "Akan kuurus bocah ingusan itu! Brengsek!"


Setelah Kiara dibawa masuk oleh orang tuanya, Kala menemui Biru di salah satu ruangan yang sudah diinstruksikan olehnya untuk mengurung Biru di sana.


"Apa maumu?" tanya Kala tanpa basa-basi. Dia meminta para petugas yang menjaga Biru untuk segera keluar.


Biru mendengus dan menyunggingkan senyumnya. "Kiara! Dia masih mencintaiku, aku sangat yakin itu!"


Satu pukulan keras mendarat di wajah Biru. Pria itu tidak dapat melawan karena kedua tangannya terikat ke belakang. "Brengsek! Kau benar-benar brengsek, Biru! Persis ayahmu! Melarikan diri seperti pengecut dan tiba-tiba datang dengan membawa bencana! Dia istriku!"


"Hahahaha! Cuih!" Biru melemparkan salivanya yang berdarah ke lantai. "Jangan mimpi! Sampai kapan pun, Kiara milikku!"


Biru menggelengkan kepala. Dia menengadah dan menatap Kala yang berwajah galak saat itu. "Ckckck, Kala ... Kala. Dia memang milikmu, tapi hatinya? Apa kau tau bagaimana hati Kiara? Pernahkah kau bertanya mengapa dia tiba-tiba memilihmu?"


Tak mau membuang waktu dengan berdebat, Kala pun melepaskan tali yang mengikat Biru. "Pergilah dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku atau Kiara,"


"Boleh aku bertemu Kiara? Hanya untuk meminta maaf kepadanya," tanya Biru.


"Five minutes! No more!" tukas Kala dengan wajah kesal.


Dia segera pergi ke kamar untuk menemui Kiara yang masih didampingi oleh kedua orang tuanya serta Rajash. Kala mengatakan kalau Biru ingin bertemu dengannya. "Kalau kau tidak mau, tidak apa-apa, Sayang,"


Delia menggenggam tangan putrinya dan meremmasnya lembut sembari mengangguk. Kiara mengambil pergelangan tangan Kala. "Boleh aku bertemu dengannya?"

__ADS_1


Kala mengangguk pasrah. "Silakan. Waktumu hanya lima menit, Sayang. Ini masih hari pernikahan kita dan pesta tetap akan dilanjutkan,"


Tak lama, Kiara pun sudah berada di dalam ruangan bersama dengan Biru. Mereka berdua saling bertatapan tanpa bicara. Lama mereka berdua berada dalam keheningan, hanya terdengar deru halus napas mereka.


"Ehem! Jadi? Kau sudah menikah?" tanya Biru akhirnya.


Kiara mengangguk. "Aku tak mungkin menunggumu. Setelah pesan terakhir yang kau kirimkan kepadaku, esok harinya muncul berita pertunanganmu dengan Angeline. Apakah aku harus menunggumu? Menunggu undangan darimu baru aku diperkenankan untuk menikah?"


"Setiap hari, ada saja berita bahagia tentangmu dan Angeline. Aku memutuskan, aku akan bahagia juga dan saat itu, Kala yang sanggup merekatkan kembali hatiku yang sudah hancur karenamu," balas Kiara. Suaranya tegas dan berani. Ya, dia akan mengeluarkan semua emosinya pada pria itu hari ini juga. "Lalu, terakhir aku mendengar Angeline kecelakaan dan pernikahan kalian dipercepat! Saat itu, masih pantaskah aku mengharapkan janjimu? Tidak, pikirku! Aku harus maju dan membuang bayang-bayangmu,"


"Berita itu bohong, Ra! Mereka mengarang berita itu sehingga tampak aku dan Angeline bahagia, nyatanya, aku menderita! Keluargaku menipuku! Aku tetap mencintaimu, kalau tidak, untuk apa aku datang ke sini hari ini dan menculikmu?" tanya Biru lagi.


Pria itu pun menceritakan segalanya, mulai dari bagaimana ayahnya memberikan dia pilihan. Bagaimana dia merasa dikhianati oleh keluarganya. Bagaimana kisah sebenarnya yang terjadi sampai Angeline mengalami kecelakaan dan bagaimana dia melarikan diri dengan bantuan Angkasa.


"Itu yang terjadi! Percayalah padaku!" kata Biru mempertegas kalimatnya.


"Apa yang akan kau lakukan jika aku percaya kepadamu?" tanya Kiara. Gadis itu menyipitkan matanya, memandang tajam pada pria yang ada di hadapannya.


Biru tak percaya dengan apa yang didengarnya. Entah sejak kapan Kiara bisa setegas ini? Apa yang terjadi saat ini, diluar ekspektasinya. Dia membayangkan Kiara akan menangis haru atau memeluk atau menyambut kedatangannya dengan hangat. Namun, yang dia temui adalah Kiara yang jauh lebih tegas dan berani.


"Kau percaya padaku?" Biru kembali bertanya.


Kedua bahu Kiara terangkat. "Entahlah. Semua rasaku sudah menghilang untukmu, Biru. Aku hanya ingin mengatakan kepadamu, kalau saat ini, aku sudah hidup bahagia. Aku mengharapkan kebahagiaan untukmu juga,"


"Pergilah!" sambung Kiara lagi.

__ADS_1


Biru memeluk Kiara dengan kasar. "Ikutlah denganku, Ra! Aku akan menyembuhkan lukamu. Izinkan aku menggenapi janjiku dan biarkan aku untuk kembali mengisi hatimu. Kumohon, berikan aku kesempatan satu kali lagi,"


...----------------...


__ADS_2