Pacar Sewaan

Pacar Sewaan
Marah


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Biru yang baru saja kembali dari luar memanggil-manggil ayahnya dengan setengah berteriak. Napasnya memburu dan wajahnya terlihat sangat kesal. Entah apa yang membuat laki-laki itu tampak begitu marah sore hari itu. “Papa! Papa! Aku ingin bicara denganmu!”


Amanda yang hendak bepergian keluar dari kamarnya sambil memakai anting berliannya. Bersamaan dengan itu, Dirgantara pun keluar dari ruangan kerjanya dengan wajah berang dan tampak sekali terganggu dengan teriakan putra tunggalnya tersebut.


“Hei! Kau ini kenapa berteriak-teriak seperti orang kesurupan! Jangan kampungan begitu dan jaga sikapmu, Biru!” tukas Dirgantara kesal. Wajah pria itu sudah sama merahnya dengan putranya. Mereka berdua memiliki temperamen yang sama dan kesabaran mereka hanya setipis tissue terbelah tujuh.


Tanpa memikirkan sopan santun atau adab, Biru mengacungkan jari telunjuknya ke arah ayahnya dengan tangan bergetar. “Harusnya Papa yang jaga sikap! Papa sudah membuat orang lain terpuruk! Setelah itu Papa hancurkan orang itu sampai berkeping-keping!”


Mendengar ucapan Biru, Amanda terkejut dan secara tak sadar tangannya melayang ke pipi putranya itu. “Apa yang kau bicarakan, Biru? Ini ayahmu dan kami orang tuamu, tidak pantas kau berbicara kasar seperti itu pada ayahmu!”


“Kami bahkan tidak mengerti apa yang kau bicarakan! Kau datang dan tiba-tiba saja marah serta menuduh ayahmu seperti itu! Percuma saja kami membesarkan dan mendidikmu dengan baik, jika hanya karena satu orang gadis, kau bisa berubah seperti ini!” kata Amanda lagi.


Wanita itu tidak pernah marah seperti ini sebelumnya apalagi sampai memukul. Dia tidak habis pikir mengapa putranya bisa sampai semarah itu dan dia bisa menduga ini ada hubungannya dengan Kiara Pratama. Karena wajah Dirgantara menegang dan suaminya itu tidak sanggup melakukan pembelaan apa pun atas tuduhan dari putra semata wayang mereka.

__ADS_1


Ya, Biru memang tidak pernah tahu masalah apa yang terjadi antara keluarga mereka dan keluarga Kiara Pratama. Selama bertahun-tahun saat itu mereka memutuskan untuk pindah rumah dan memindahkan kantor pusat Bramtama Coorperation ke lain tempat. Nama Bramtama tetap disematkan sebagai nama perusahaan sebagai tanda kalau Dirgantara dan Rendy sempat sedekat itu dan sampai kapanpun, perusahaan itu akan dimiliki oleh mereka berdua, kendati Dirgantara sudah melakukan kesalahan yang cukup fatal.


Tanpa berbicara pun, Biru sudah dapat menebak jika ayahnya bersalah. Dia tidak menyesal ataupun merasa sakit hati karena Amanda telah menamparnya. Sebaliknya, dia semakin mendesak kedua orang tuanya untuk mengakui dan meminta maaf serta mengganti kerugian yang dialami oleh keluarga Pratama.


“Kau tidak mengerti, Nak,” kata Dirgantara lemah. Pria itu menghempaskan tulang-tulang belakanganya ke sofa dan menghela panjang.


Saat itu, untuk pertama kalinya Biru melihat kerutan tua di wajah ayahnya yang sebelumnya tidak pernah dia perhatikan. Namun, bukan berarti dia tidak bisa menyerangnya. ”Apa yang aku tidak mengerti, Pa? Apa Papa tahu kalau Kiara adalah anak Rendy Pratama sehingga Papa dan Mama memintaku untuk menjauhi dia? Lalu, apakah kalian sengaja memberikan ujaran kebencian pada Kiara supaya dia tidak mau menjadi kekasihku? Itukah rencana kalian? Apakah Angeline terlibat dalam rencana busuk kalian ini?”


Dirgantara menggelengkan kepalanya lemah. “Angeline tidak ada hubungannya dengan ini. Hanya saja ayah Angeline adalah rekan Papa yang membuat Pratama tersingkir. Kami, Papa dan Baskara, sudah berjanji sejak lama kalau kami akan menjodohkan kalian berdua untuk memperluas bisnis kami,”


Sejak mereka berdua bergabung, Rega menyetujui gagasan Dirgantara untuk memindahkan kantor pusat Bramtama Coorporation ke pusat kota dan menjadikan perusahaan itu sebagai perusahaan terbesar di kota itu. Sejak saat itu pula, Dirgantara mengganti semua kontaknya demi menghindari Rendy yang saat itu masih mengejarnya menuntut sebuah penjelasan.


“Jadi, apa yang dikatakan oleh Kiara benar? Kalau Papa adalah seorang Pria Penghianat yang brengsek dan pengecut, begitu? Itulah yang dikatakan oleh Tuan Pratama kepada Kiara! Saat ayah Kiara mengetahui aku adalah anak papa, sikapnya berubah menjadi dingin sama seperti sikap Papa kepada Kiara!” kata Biru masih dalam posisi menyerang. “Aku menerima dengan ikhlas perlakuan Tuan Pratama kepadaku, tapi aku tidak pernah menerima dengan baik apa yang telah Papa dan Mama lakukan kepada Kiara! Apa salah dia? Apa salah ayahnya sampai kalian mencaci mereka seperti itu dan sekarang, aku sudah tau alasannya, kalian menutupi sikap pengecut serta rasa bersalah kalian kepada keluarga mereka!”

__ADS_1


Suasana di rumah megah itu kini diliputi keheningan yang mencengangkan dan entah kenapa terasa dingin. Tidak seperti rumah pada umumnya yang dapat memberikan kehangatan kepada tuannya. Amanda tampak ingin menangis dan menderita, riasannya seakan sudah tidak berfungsi lagi, begitu pula dengan perhiasan yang dipakainya.


Biru menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Perasaannya kini campur aduk. Dia tidak ingin membuat orang tuanya tersudut seperti ini, tetapi apa yang dilakukan oleh orang tuanya itu memang salah dan dia tidak dapat tinggal diam begitu saja. Apalagi, mereka sudah menorehkan luka yang teramat dalam di hati Kiara.


“Aku mungkin tidak mengerti, tapi aku berharap Papa dapat menemui ayah Kiara dan meminta maaf kepadanya. Selain itu,kembalikan apa yang sudah menjadi hak mereka, Pa,” kata Biru menyuarakan pendapatnya.


Namun, Dirgantara tertawa sambil menggelengkan kepalanya. “Kau benar-benar masih kecil, Biru. Apa yang akan terjadi kalau aku mengembalikan saham itu pada Pratama? Dia akan menggilasku dan membuatku bangkrut. Dia cerdas, Nak. Kau lihat saja Kiaramu itu, kau lihat bagaimana cerdasnya dia! Mahasiswi terbaik yang dimiliki oleh Bright University, seperti itulah ayahnya. Apa kau siap hidup miskin?”


Biru terdiam. Selama ini, secara tidak langsung dia sudah menikmati setengah dari uang keluarga Pratama. Dia pun merasa jijik dan bersalah. Andaikan dia tahu masalah ini lebih cepat, dia tidak akan merasa buruk sekali seperti ini.


“Pertunanganmu dengan Angeline tetap akan berjalan sesuai rencana. Untuk kasus Pratama, baik Papa maupun Baskara sudah menutupnya sejak lama. Apa yang sudah berlalu, biarlah berlalu, dan jangan kau ingat lagi. Begitulah hidup akan tetap berjalan,” sambung Dirgantara lagi.


Sontak saja Biru beranjak dari sofa nyaman tempat dia duduk tadi. Wajahnya menatap kedua orang tuanya dan tiba-tiba saja dia merasa mual. “Baru kali ini aku merasa menyesal telah menjadi bagian dari keluarga Bramasta! Dengan senang hati akan kulepaskan nama itu dari namaku!”

__ADS_1


Setelah itu, dia masuk ke dalam kamarnya dengan membanting pintu. Terdengar suara berisik dari kamar tersebut. Amanda menangis sesenggukan dan Dirgantara tampak semakin tenggelam dalam perasaan bersalahnya.


...----------------...


__ADS_2