Pacar Sewaan

Pacar Sewaan
Harapan


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian,


Kediaman Rajash Mahendra tampak sangat ramai dan meriah. Rumah dengan bangunan megah dan bernuansa klasik itu dihiasi dengan bunga lili putih serta mawar biru, bunga kesayangan Kiara.


Ya, hari itu adalah hari di mana Kiara dan Kala saling menguatkan komitmen mereka dalam ikatan pertunangan. Tentu saja, moment itu disiarkan dan diliput oleh para wartawan yang sudah berkumpul di kediaman Mahendra.


Rajash pun tampak sumringah dengan balutan tuksedo berwarna putih, dasi kupu-kupu putih, serta sepatu berwarna senada. Dengan merangkul Rendy Pratama, pria itu tersenyum lebar menghadapi para wartawan yang sudah siap dengan pertanyaan mereka.


"Apakah ini termasuk pernikahan bisnis?" tanya salah seorang wartawan.


Rajash tersenyum kembali sambil menjawab pertanyaan itu dengan tegas. "Terima kasih untuk pertanyaannya, tetapi pertunangan ini tidak ada sangkut pautnya dengan bisnis. Saya pribadi sudah mengumumkan kerjasama saya dengan Tuan Pratama jauh sebelum anak-anak kami bertunangan,"


"Tuan, keluarga Brasmata dan Baskara juga mengadakan pertunangan putra putri mereka bulan lalu, apakah fenomena pernikahan anak pengusaha sedang menjamur akhir-akhir ini ataukah pertunangan ini ada hubungannya dengan keluarga Bramasta?" tanya wartawan yang lainnya.


Rendy tampak tak nyaman dengan pernyataan itu. Bagaimanapun juga antara Kiara dengan Biru pernah menjalin hubungan yang cukup serius dan hubungan mereka sudah cukup dekat. Ditambah lagi, dia tak ingin namanya disangkutpautkan dengan Dirgantara.


Namun, Rajash masih tersenyum. Dia mengeratkan rangkulannya yang berada di pundak Rendy. "Hahaha! Ada-ada saja pertanyaan kalian. Tidak ada seperti itu. Mungkin seperti sebuah kebetulan dan kami tidak pernah ada sangkut pautnya dengan keluarga Bramasta, keluarga Baskara, atau keluarga pengusaha lain. Kecuali untuk keperluan bisnis,"


"Sudah! Sudah! Cukup sampai di sana pertanyaan kalian karena sebentar lagi acara akan dimulai. Silakan menikmati acara ini dan hidangan yang telah kami sediakan. Terima kasih," kata Rajash lagi undur diri.


Acara pesta pertunangan itu pun berlangsung dengan cukup khidmat. Tamu yang datang kebanyakan dari kalangan pengusaha. Kiara hanya melihat Renatha dan beberapa teman kantornya, selebihnya dia tidak mengenal sebagian besar tamu.


Saat itu, Kiara tampak sangat cantik dengan gaun berlengan sabrina dan A line berwarna biru. Begitu pula dengan Kala yang mengenakan satu set tuksedo berwarna biru, senada dengan Kiara.


Cincin bertahtakan berlian melingkar indah di jari tengah Kiara. Dia memamerkan cincin itu kepada wartawan saat acara tukar cincin selesai dilaksanakan. Wajah cantiknya tampak semakin cantik di depan kamera yang mengarah kepadanya.


Melihat wajah calon istrinya yang cantik siang itu, Kala tak tahan mengecup kening Kiara dengan mesra sehingga pada akhirnya mereka disoraki oleh para wartawan yang sedang meliput dan mewawancarai pasangan bahagia itu.

__ADS_1


Setelah acara pertunangan selesai, keluarga Pratama kembali ke tempat mereka. Kiara pun diantar oleh Kala ke apartemennya.


"Kalau kau lelah, besok tidak usah masuk kerja tidak apa-apa," kata Kala yang sepertinya enggan melepaskan tangan Kiara.


Kiara mengeratkan tautan tangan kekasihnya itu. "Aku tidak lelah, besok pasti aku akan masuk, kecuali kalau Renatha mengajakku bergosip sepanjang malam mengenai tamu undangan hari ini,"


"Hahaha! Akan kupastikan temanmu itu kekenyangan dan tertidur," kata Kala membalas candaan Kiara.


Lama mereka saling berbincang-bincang di dalam mobil. Mereka membicarakan tentang acara hari itu dan tentang pekerja yang akan mereka hadapi esok hari.


Sampai akhirnya, Kiara pun berpamitan sekali lagi kepada Kala. "Terima kasih untuk hari ini. Ah, tidak untuk hari ini saja, tapi terima kasih untuk segala-galanya,"


"I love you, Kiara. I did everything because I love you," kata Kala.


Perlahan, dia mendekati Kiara dan mendaratkan sebuah kecupan hangat di benda merona gadis itu. Ya, itu adalah ciuman pertama Kiara dari Kala.


Mungkin, semua ini berawal dari Kiara yang melihat berita dan mendengar kabar tentang Biru dan Angeline yang bertunangan di luar negeri. Memang hubungan Kiara dan Biru hanya sebatas teman, tetapi dia merasa sesak saat mengetahui kabar tersebut.


Maka detik itu juga, gadis itu memutuskan untuk memaksa Biru turun dari tahta di hatinya dan melemparkan segala yang berhubungan dengan pria muda tampan itu keluar.


Saat ini, dia berharap hubungannya dengan Kala akan baik-baik saja dan Kala-lah yang akan menjadi pelabuhan cinta terakhirnya.


Berbeda dengan Kiara yang sedang berbahagia karena merasa keputusannya untuk membuang Biru dari hidupnya merupakan keputusan yang tepat, Biru sama sekali tidak tampak bahagia.


Pria itu baru saja membanting ponselnya hingga ponsel itu terbelah dua. "Sialan!"


Pekikan Biru terdengar sampai ke telinga seorang wanita yang sedang asik mematut diri di depan cermin. Dia segera berlari menemui tunangannya itu.

__ADS_1


"Sayang, kau kenapa? Ada masalah?" tanya wanita itu.


Alih-alih menjawab, Biru memandang sang wanita dengan tatapan penuh kebencian. Dia mengacungkan jarinya tepat di wajah cantik wanita itu. "Kau! Andaikan kau tidak ada, Angeline! Aku tidak akan berada di sini dan terjebak denganmu! Kau menghancurkanku!"


Wanita bernama Angeline itu menggelengkan kepalanya, wajah cantiknya terlihat cemas dan takut. "Apa maksudmu, Sayang? Apa salahku? Aku tidak pernah menghancurkanmu atau menghancurkan siapa pun,"


Air mata wanita itu melelah dengan cepat. Pundaknya sudah naik turun karena terisak-isak. Dengan jari-jarinya yang lentik, Angeline berusaha menghapus air matanya.


"Percuma! Mau kau menangis sampai air matamu kering dan alis matamu keriting, aku tidak akan pernah peduli padamu! Aku tidak pernah mencintaimu, paham! Entah apa yang dilihat oleh ayah dan ibuku sampai memaksaku untuk menikahimu!" gerutu Biru kesal.


Wajar saja jika pria itu merasa kesal dan dijebak oleh keluarganya sendiri. Awalnya, Dirgantara memberikan dia sebuah pilihan, apakah dia akan melanjutkan pendidikannya di luar negeri atau menikah dengan Angeline.


Mencari jalan aman, Biru memilih untuk pergi ke luar negeri. Toh, dia yakin Kiara akan menunggunya. Cepat atau lambat, mereka berdua akan bersatu. Setidaknya begitulah pikiran Biru.


Namun tiba-tiba saja, Angeline beserta kedua orang tuanya dan orang tua Biru datang menghampiri Biru yang saat itu sedang magang di salah satu perusahaan milik Dirgantara.


Saat itu, Angeline datang dengan menangis sesenggukan dan mengaku terlambat datang bulan. Tentu saja, Biru sangat kesal dan marah mendengar pengakuan Angeline. Akan tetapi, kedua orang tua mereka justru menyambut kabar itu dengan antusias dan meminta putra dan putri mereka untuk segera menikah.


Dengan paksaan itu, Biru tidak dapat menolak. Maka, pesta pertunangan pun dilangsungkan dan diberitakan ke seluruh negeri.


Sedikit pun, Biru tidak tersenyum saat pesta itu berlangsung, bahkan dia terang-terangan mengacungkan jari tengahnya ke kamera saat beberapa wartawan mewawancarainya.


Kendatipun demikian, Biru masih percaya kalau Kiara tetap mencintainya. Hingga berita pertunangan Kiara dengan Kala dia ketahui.


"Apa kau tau kesalahanmu? Karena kau ada! Hanya itu kesalahanmu, Angeline! Aku membencimu hingga ke tulang-tulang dan mengalir di setiap inci pembuluh darahku! Sampai aku ikut membenci kedua orang tuaku sendiri! Ya, itu karena kau!" tukas Biru bersungguh-sungguh. Seakan belum puas, dia memincingkan kedua matanya dan mendesis di telinga Angeline. "Aku berharap kau tidak ada, menghilang lah dari hidupku entah bagaimana caramu! Aku setengah berharap, kau mati!"


Setelah mengucapkan hal itu, Biru pun pergi meninggalkan Angeline yang mematung tak berdaya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2