Pacar Sewaan

Pacar Sewaan
Peringatan Bramasta


__ADS_3

"Ma, sepertinya besok kita harus bertemu dengan temannya Biru. Papa tidak mau fokus Biru terdistraksi," kata Dirgantara malam itu.


Setelah memutuskan akan memberikan pesta pertunangan yang dirahasiakan, Dirgantara ingin Biru benar-benar fokus kepada Angeline.


Walaupun terlihat memaksakan atau egois, tetapi menurutnya, apa yang dia lakukan ini demi kebaikan putranya dan juga keluarganya.


Kiara anak yang baik, cerdas, dan cantik. Gadis itu juga memiliki prestasi yang tak kalah membanggakannya dibandingkan dengan Angeline. Saat Kiara pertama kali datang dan berkenalan dengan Dirgantara, pria itu terkesan dengan penampilan serta tingkah laku gadis yang menyandang sebagai mahasiswi terbaik Bright University itu.


Namun sayang, saat Kiara menyebutkan nama keluarganya, sekelumit ketakutan serta perasaan bersalah menghantui Dirgantara. Apalagi mendengar kisah-kisah Kiara, sudah pasti ayah Kiara adalah orang yang pernah Dirgantara kenal.


Sejak saat itu, ingatan Dirgantara kembali ke masa lalunya dan dia akan terbangun dengan peluh membanjiri wajahnya. Itulah sebabnya, sampai kapanpun dia tidak akan merestui hubungan Kiara dengan Biru.


"Yang memiliki nama keluarga Pratama ada banyak, Pa. Mungkin saja ini Pratama yang lain," kata Amanda menghibur.


Namun Dirgantara menggelengkan kepalanya. "Tidak! Aku yakin Kiara adalah putri Pratama yang kita kenal, Ma. Wajahnya mirip sekali dengan ayahnya,"


"Apa ini sebuah pertanda kalau, ...."


"Tidak ada pertanda seperti itu! Yang harus kita lakukan hanyalah menjauhkan anak kita dengan Kiara secepat mungkin! Jangan sampai mereka terlanjur serius!" cetus Dirgantara lagi.


Maka dari itu, mereka berdua memutuskan untuk melakukan pertunangan lebih cepat dan mengikat hubungan antara Angeline dengan putra mereka.


Oleh sebab itulah, Dirgantara berniat untuk menemui Kiara tanpa sepengetahuan Biru. Putra semata wayangnya itu pasti akan marah jika mengetahui yang sesungguhnya.


Melalui asisten pribadinya, Dirgantara berhasil mendapatkan nomor Kiara dan dia segera mengirim pesan kepada gadis itu serta membuat janji dengannya.


"Ma, akhir pekan ini kita akan bertemu dengan Kiara. Dia sudah menyetujuinya. Nanti, Mama saja yang memilih tempatnya, ya," kata Dirgantara.


Sejujurnya, dia sedikit sungkan bertemu dengan Kiara. Akan tetapi, rasa sungkan itu dia alihkan dan dia buang jauh-jauh. Demi ketentraman hatinya dan kebaikan Biru.


Sementara itu, Kiara menceritakan kepada Renatha tentang permintaan Dirgantara yang ingin bertemu dengannya di akhir pekan nanti.


"Orang tua Biru ingin bertemu denganku, Re. Aku sudah menjawab kalau aku akan menemui mereka. Kira-kira, mereka ingin membicarakan apa, yah?" tanya Kiara setelah mereka selesai kuliah.

__ADS_1


Renatha membungkukan tubuhnya sedikit sambil menghela napas. "Huft, sudah kukatakan kalian itu terlalu terbawa perasaan. Andaikan Biru bersikap cuek kepadamu, orang tuanya juga tidak akan serumit ini! Kalian terlalu serius dan terlalu bersungguh-sungguh! Atau jangan-jangan, kalian sudah saling jatuh cinta?"


"Big no! No! No! No! Aku hanya mengikuti apa yang dia minta dan berusaha bersikap profesional saat berada di depan kedua orang tuanya," jawab Kiara santai.


Tak pernah terpikirkan olehnya untuk jatuh cinta kepada Biru. Apalagi kalau dia mengingat bagaimana keluarga Bramasta memperlakukannya.


"Semisal, Ra! Maksudku, apa pun bisa terjadi, 'kan? Segala kemungkinan itu akan ada," kata Renatha.


Kiara terdiam sesaat. Dalam sepekan terakhir ini, memang setiap kali dia memikirkan Biru, jantungnya akan berdebar, dan dia akan senang sekali jika Biru dan dirinya saling berbalas pesan.


Akan tetapi, itu tidak termasuk kategori jatuh cinta, 'kan? Kiara telah membuat peraturan tidak tertulis yang mengatakan kalau dia dilarang jatuh cinta dengan Biru.


"Jangan, Re! Aku tidak mau dan itu tidak boleh terjadi. Katakanlah aku jatuh cinta padanya, maka, aku harus segera membuang jauh-jauh perasaan itu. Pada akhirnya, aku juga yang akan tersiksa, jadi, lebih baik, aku tidak jatuh cinta, 'kan?" jawab Kiara sambil merenung.


"Semoga dan andaikan itu terjadi, ingat saja kata-kata tajam yang sudah dilontarkan oleh orang tuanya, dengan begitu, kau akan membencinya," sahut Renatha lagi.


Kiara mengangguk. Dia sudah menyiapkan segala kemungkinan dan bagaimana cara menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi nanti.


Dengan memakai pakaian formal berupa kemeja polos dengan kerah beraksen pita yang manis dan celana panjang jins berwarna denim, Kiara pun berpamitan kepada orang tuanya.


"Mau ke mana? Kerja?" tanya Delia mencium pipi putrinya.


Kiara menggelengkan kepalanya. "Tidak, Ma. Mau ke tempat Rere, bikin skripsi,"


Hatinya tak nyaman karena membohongi kedua orang tuanya. Rendy segera menghampiri putrinya itu dan menyelipkan beberapa lembar uang kusut. "Pakai saja dan beli apa yang kau inginkan,"


Kiara hendak mengembalikan uang itu, tetapi Rendy menolaknya. "Papa jarang memberimu uang jajan, jadi kali ini kau tidak boleh menolaknya,"


Rasa sesak bergumul di dadanya dan segera saja Kiara memeluk Rendy. "Terima kasih, Pa,"


Setelah berpamitan Kiara pun memanggil taksi dan meminta sopir taksi itu untuk mengantarkannya ke Starlight Mall. Tepat saat itu, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya dan dia melihat nama biru tertera di layar ponsel tersebut.


Pemuda itu menanyakan apa rencana Kiara sore itu. Tiara pun membalas dan mengatakan kalau dia hari itu tidak dapat ke mana-mana karena kedua orang tuanya mengajaknya untuk makan malam bersama.

__ADS_1


("Oke, sampaikan salamku untuk orang tuamu. Have a cheers on your saturday night, Ra,") balas Biru lagi.


Tanpa sadar, Kiara pun tersenyum. Beberapa detik kemudian dia menggelengkan kepalanya dan berusaha menyadarkan dirinya sendiri. "Ehem! Sadar, Kiara! Sadar!"


Untuk mengalihkan pikirannya, Kiara pun mengambil headset dan menghabiskan waktu perjalanannya dengan mendengarkan musik.


Tak terasa, tibalah gadis itu di Starlight Mall. Dia mencari sebuah restoran yang sudah ditentukan oleh Amanda. Beberapa menit kemudian, dia masuk ke dalam restoran Thailand dan dia pun bertanya kepada wanita penerima tamu.


"Reservasi atas nama Bramasta," kata Kiara.


Wanita itu mengangguk dan mengantarkan Kiara ke sebuah bilik yang cukup luas. Di sanalah tuan dan nyonya Bramasta sudah menunggunya.


Kiara membungkuk hormat dan menyapa kedua orang tua itu. "Permisi,"


"Masuklah," balas Dirgantara.


Tak lama setelah Kiara masuk, makanan ala Thailand pun dihidangkan. Mulai dari salad, makanan utama, sampai berbagai macam buah dan puding serta minumannya tersedia di meja itu.


"Saya langsung saja ya, Kiara. Ehem! Seperti kau tau, Biru, anak kami akan kami jodohkan dengan Angeline. Keputusan itu sudah tidak dapat diganggu gugat ataupun dibatalkan. Tapi sejauh ini, Biru sangat sangat tergantung denganmu. Dia selalu memikirkanmu dan selalu menolak Angeline sampai kemarin, akhirnya dia mengajak Angeline berkencan," kata Dirgantara memulai percakapannya.


Kiara mendengarkan dengan seksama. Dia sudah dapat menebak apa tujuan ayah dan ibu Biru ingin bertemu dengannya.


"Tentu saja kami senang. Begitu pula dengan kedua orang tua Angeline. Di hari yang sama, kami memutuskan untuk mengikat anak kami dengan Angeline ke jenjang yang lebih serius. Maka dari itu, kami mohon kepadamu untuk menjauhi Biru. Om dan tante tidak ingin perasaan Biru terdistraksi, jadi menghilanglah dari hidup Biru. Tidak sulit, kok," sambung Dirgantara lagi. "Kau gadis pintar dan kami akui, kau memiliki banyak bakat terpendam. Pasti mudah untukmu mencari laki-laki lain selain Biru,"


Kiara menghela panjang dan tersenyum. "Terima kasih atas pendapat Anda atas saya, Tuan. Saya akan memanggil Anda dengan sebutan Tuan karena saya menghargai status sosial Anda berdua. Begini, tanpa Anda berdua minta pun, saya sudah akan mundur dari hidup anak Anda. Satu hal yang ingin saya sampaikan kepada Anda berdua, saya tidak tahu apa salah saya tapi kata-kata yang pernah ada lontaran kepada saya cukup membuat hati saya sakit. Kalau tidak karena kerendahan hati putra Anda, saya tidak akan datang ke sini untuk menemui Anda berdua,"


"Kami juga minta maaf kalau begitu dan terima kasih sudah mau datang untuk menemui kami," kata Amanda.


"Baik, saya sudah cukup jelas. Jadi, kalau begitu saya permisi dulu. Silakan menikmati makan siang Anda. Permisi," kata Kiara lagi sambil berpamitan dan berjalan keluar dari restoran itu.


Ada rasa sesak dan sakit yang tidak dapat dia jelaskan. Entah kenapa saat mendengar Biru akan bertunangan, hatinya mendadak sangat sedih. Dia pun berlari mencari kamar kecil. Butiran bening yang sedari tadi dia tahan pun keluar seperti derasnya hujan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2