
"Kau harus bertanggung jawab, Biru! Lihat saja apa yang telah kau lakukan!" tukas Dirgantara sambil mendesis tajam.
Pria itu berjalan bolak-balik di depan sebuah kamar bertuliskan VVIP. Sesekali dia melihat ke dalam kamar itu lalu kembali menatap putra tunggalnya yang tampak tak peduli.
Malam itu, Dirgantara dan Rega Baskara yang baru saja selesai rapat mendapatkan kabar dari rumah sakit yang mengatakan kalau putri mereka mengalami kecelakaan tunggal di jalan raya. Sedangkan kecelakaan itu sendiri sedang dalam penyelidikan kepolisian. Mobil yang dikendarai oleh Angeline menabrak pembatas jalan sehingga mobil itu ringsek karena Angeline mengendarai mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Setelah mereka tiba di rumah sakit, pihak kepolisian pun memberitahukan kepada Rega Baskara tentang hasil penyelidikan yang telah mereka lakukan.
"Berdasarkan kamera pengawas yang terpasang di jalan, putri Anda sengaja menabrakan mobilnya ke pembatas jalan dengan kencang," kata salah satu polisi tersebut.
Tentu saja, Rega kesal dan tak terima dengan penjelasan para polisi lalu lintas itu. Tidak mungkin putri tunggalnya segila itu sampai menabrakkan diri ke pembatas jalan.
"Maaf, Tuan Polisi yang terhormat. Rasanya tidak mungkin anak saya melakukan hal seperti itu. Dia sedang berbahagia karena sebentar lagi akan menikah. Coba di cek sekali lagi, mungkin ada orang yang mengancamnya di dalam mobil atau rem mobil itu blong," kata Rega berusaha menyangkal.
Polisi-polisi itu saling berbisik, lalu tak lama, salah satu dari mereka berbicara kembali. "Apakah putri Anda sudah melakukan test urine? Kami harus mengetahui apakah putri Anda saat itu sedang berada di dalam pengaruh obat-obatan atau alkohol,"
Rega tertawa kencang seolah-olah polisi-polisi tersebut baru saja menceritakan sebuah lelucon. "Hahahaha! Apalagi itu, Pak Polisi! Sudah jelas tidak mungkin! Anak saya bersih dari obat-obatan, bahkan kalau dia batuk pilek, kami memberinya herbal alami. Tidak ada racun yang masuk ke dalam tubuh putri kami, Bapak,"
"Maafkan kami kalau tuduhan kami salah, tapi kita bisa lihat hasil test urine putri Anda sebentar lagi," jawab para polisi itu.
Challenge accepted, begitu pikir Rega. Dia yakin sekali, putrinya yang bernama Angeline Baskara itu bersih, sebersih-bersihnya!
Maka dari itu, dia menunggu dengan percaya diri dan saat perawat datang untuk mengambil sample urine Angeline, Rega mempersilakan perawat itu.
Selang 30 menit, hasil test urine pun keluar. Hasilnya sungguh diluar perkiraan Rega serta istrinya. Dalam tubuh Angeline terkandung obat anti depresan yang sudah dikonsumsinya selama beberapa tahun terakhir ini, dan penyebab kecelakaan itu karena Angeline mengonsumsi obat anti depresan itu dalam satu kali tenggak.
__ADS_1
Yuna pun lemas dan jatuh tak sadarkan diri saat dia mendengarkan penjelasan itu dari perawat cantik yang wajahnya menunjukkan empati cukup dalam kepada keluarga itu.
Dua keluarga itu kini menunggu Yuna serta Angeline untuk sadar. Beruntunglah, Angeline tidak mengalami luka parah, hanya kepalanya yang terbentur airbag cukup kencang sehingga harus diperban.
Saat Angeline tersadar, dia mengatakan apa yang terjadi. "B-, Biru memintaku untuk m-, mati saja. A-, aku, ...."
Air mata gadis itu berlinangan di kedua pipinya yang saat itu dipenuhi plester. "M-, maafin Angeline, Pa, Ma. T-, tapi, Angeline masih s-, sayang Biru. Angeline te-, tetap mau menikahi Biru,"
Sontak saja Yuna yang sudah sadar memeluk putrinya dan menemani gadis itu menangis, sehingga akhirnya ruangan itu dipenuhi oleh isak tangis dua orang wanita yang saling berangkulan.
Sementara itu, Dirgantara segera memanggil Biru untuk datang ke rumah sakit saat itu juga dan saat ini, pria itu sedang mengadili putranya.
Biru tak peduli apakah Angeline mati atau tidak, dia juga tidak peduli tentang tanggung jawab atau apa pun itu. Hatinya seakan mati sehingga dia sudah tidak dapat merasakan emosi apa pun.
"Biru! Tunjukkan empatimu! Masuk dan minta maaflah kepada calon istrimu!" titah Dirgantara. Entah bagaimana caranya, tetapi pria itu tetap dapat mendesis dengan nada suara tinggi.
Satu tamparan mendarat dengan manis di wajah Biru. Dirgantara kehilangan kesabarannya saat dia mendengar jawaban dari Biru. "Kau! Kurang ajar, kau! Papa tidak pernah mengajarkanmu untuk bersikap kurang ajar seperti itu, Biru!"
"Memang Papa tidak mengajarkan sikap kurang ajar, tapi Papa yang membuat aku menjadi anak kurang ajar! Katakan padaku, kenapa Papa berbohong? Aku merasa dikhianati oleh Papa dan Mama! Kalian memberiku pilihan dan aku memilihnya, tapi apa yang terjadi? Kalian tetap saja memaksakan pilihan kalian kepadaku! Siapa di sini yang kurang ajar?" tanya Biru dengan suara menggelegar.
"Aku sudah lelah, Pa! Tidak salah aku meminta wanita itu untuk mati karena aku terlalu berharga untuk mati, tapi dia tidak! Buka saja otak dan hatinya, akan banyak ular beracun di sana!" sambung Biru lagi. "Dan kalian memaksaku untuk menikah dengan wanita licik berhati ular seperti dia? Huh, aku tidak sudi!"
Lagi-lagi Biru terpaksa menerima pukulan telak di wajahnya sehingga pria muda itu terpelanting. Perlahan, Biru bangun dan mengahadapi ayahnya dengan berani. "Pukul aku lagi, Pa! Ini kurang kencang! Lihat, aku masih bisa bangkit dan berhadapan denganmu!"
Tangan Dirgantara sudah siap memukul kembali, tetapi Amanda datang dan cepat-cepat menahan tangan suaminya itu. "Papa! Sudah, Pa! Mati anak kita nanti, Pa! Mama mohon, sudah, Papa!"
__ADS_1
Amanda memandang Biru dan meminta putranya itu untuk pergi dari rumah sakit. "Pergilah, Nak. Temui kami saat kau dan papamu sudah tenang nanti,"
Biru melemparkan salivanya dengan kurang ajar ke hadapan kedua orang tuanya. "Jangan harap aku akan kembali!"
"Biru!" tukas Amanda. Namun, putra yang digadang-gadang akan menjadi pewaris tunggal itu sudah masuk ke dalam lift tanpa memedulikan kedua orang tuanya.
Di lain tempat, hubungan Kiara dengan Kala sedang berbunga-bunga seperti sebuah taman bunga yang indah. Mereka benar-benar santai menjalani hubungan itu dan tanpa beban.
Kebahagiaan tercetak jelas di wajah mereka berdua. Tak hanya itu, kehidupan Rendy dan Delia pun berubah drastis berkat bantuan dari Rajash Mahendra.
Kedua keluarga itu saling mengundang jamuan makan di akhir pekan bersama putra dan putri mereka. Bukan tidak mungkin, hubungan Kala dan Kiara pun semakin dekat.
Seperti hari itu, Rajash kembali mengundang Rendy serta Delia untuk makan malam di rumahnya. Pria itu telah mendatangkan koki terbaik di negara itu hanya untuk menjamu keluarga calon besannya.
Tak lupa, Rajash juga mengundang Kiara serta putra tunggalnya untuk datang bergabung bersama mereka. Dia ingin membicarakan pergeseran pergerakan saham yang cukup drastis dalam seminggu ini.
"Saham Globalindo naik berkatmu, Rendy. Hebat sekali, aku salut. Cheers," kata Rajash menyanjung kepintaran Rendy dalam mengelola perusahaan sambil mengangkat gelas berisi wine merah.
Delia dan Rendy pun meniru gerakan Rajash itu dan saling membenturkan gelas mereka. Tak lama, Kiara dan Kala pun datang. Mereka memberikan salam kepada semuanya lalu duduk di tengah-tengah para orang tua.
"Apa kalian tahu, saham Bramtama Grup menukik tajam?" tanya Rajash.
Kiara menelan salivanya saat mendengar nama Bramtama disebut. Bramtama Coorporation sudah berganti nama menjadi Bramtama Grup sejak Biru dan Angeline mengumumkan pertunangan mereka.
"Yang aku dengar, intern mereka sedang terguncang. Tunangan putra Bramasta melakukan percobaan bunuh diri dan itu diketahui oleh pers. Hebat media zaman sekarang, ya? Mengerikan, kataku," kata Rajash lagi. "Masih berdasarkan media yang sama, putri Baskara itu mengonsumsi obat depresi. Penyalahgunaan obat. Seram, ya?"
__ADS_1
Kiara mematung dan menegang. Angeline bunuh diri? Kenapa? Apa yang terjadi dengan mereka? Bagaimana dengan Biru? Pertanyaan-pertanyaan itu terus bergaung di dalam kepalanya.
...----------------...