Pacar Sewaan

Pacar Sewaan
Tidak Kalah! Belum, ...!


__ADS_3

"Kala, boleh aku keluar?" tanya Kiara. Rayt wajahnya dipenuhi ketegasan dan kemantapan.


Kala yang saat itu berdiri di belakang pintu hanya mendengus dan menundukkan kepalanya. "Boleh aku tau alasanmu, Kiara?"


Seperti yang sudah disebutkan, siang hari itu, seisi gedung Rajash Globalindo Corporation dihebohkan dengan kedatangan Biru yang melakukan pernyataan cinta kepada Kiara dengan cara yang tidak biasa.


Pria tampan itu membawa pengeras suara dan sebuket bunga besar sebagai modal dalam mengungkap perasaan hatinya kepada Kiara. Dia terus menunggu tanpa lelah ataupun malu.


Sementara di atas, Kala menyembunyikan Kiara dan melarang gadis itu untuk turun ke bawah menemui Biru sampai akhirnya, Kiara meminta izin kepada Kala untuk pergi ke lobi.


Kiara tersenyum saat mendengar pertanyaan pria yang kini berdiri menatapnya. "Aku mencintainya. Selama beberapa waktu terakhir ini, aku mengubur perasaan itu tanpa sadar kalau aku masih mencintai dia,"


"Jadi?" tanya Kala, dia tak ingin membayangkan jawaban selanjutnya dari Kiara. "Kau akan menemuinya dengan alasan itu? Bagaimana kalau aku melarangmu dengan alasan yang sama?"


Pria itu tertawa putus asa. Dia bersandar pada pintu dan menengadahkan kepalanya ke atas. "Haha, apa kau tau, aku tidak punya alasan kenapa aku mencintaimu. Yang aku tau, aku hanya ingin selalu berada di dekatmu dan aku tidak suka melihat kau berada di dekat pria manapun. Aku pencemburu. Tapi aku bersikap profesional saat kita sedang berada di lingkungan kantor,"


Mendengar pernyataan Kala, Kiara sedikit bimbang. Keluarga Kala menerima Kiara dengan ramah dan hangat, berbeda sekali dengan sikap yang diberikan oleh tuan dan nyonya Bramasta.


Selain itu, sikap Kala yang terang-terangan dan selalu tiba-tiba sanggup menggoyahkan hati Kiara. Namun, tetap saja Biru enggan turun dari tahtanya.


Dengan perasaan bersalah, Kiara maju menghampiri Kala. Gadis itu mengambil tangan Kala dan menggenggamnya. "Terima kasih karena kau sudah sangat baik padaku, tapi, maafkan aku kalau saat ini, aku belum memilihmu,"


"Aku belum kalah, 'kan? Seperti prinsip pada bisnis, peluang itu akan selalu ada bagi mereka yang pintar melihat celah dan kesempatan. Akan kupakai peluang itu, walaupun kemungkinannya hanyA sebesar sepuluh persen," kata Kala, dia mengecup punggung tangan Kiara.


Tak beberapa lama kemudian, Kala mengantar Kiara menemui Biru di lobi. Dengan menggandeng tangan gadis cantik itu, dia menyatakan kepemilikannya atas Kiara.

__ADS_1


Setibanya di lobi, Biru segera menghampiri mereka berdua dan melepaskan tautan tangan mereka dengan kasar. "Dari sini, dia milikku,"


"Belum! Aku belum menyerah dan aku akan mengambil setiap kesempatan yang ada. Begitu kau membuatnya menangis, aku yang akan datang untuk menampung air mata kesedihannya, akan kuganti tangisan kesedihan itu menjadi tangisan kebahagiaan," desis Kala di telinga Biru. Kata-kata peringatan itu dia ucapkan dengan tajam dan tegas.


Sambil terus memandang manik Kala dengan tajam dan tegas, Biru menarik tangan Kiara dan bertanya kepada gadis itu tentang bagaimana jawaban atas pernyataan cintanya.


Dengan tersipu malu, Kiara mengangguk. "Ya, ayo, kita coba sekali lagi!"


Sontak saja, Biru memeluk Kiara dengan erat, dan mengangkat tubuh mungil gadis itu ke dalam dekapannya. Melihat pemandangan yang menyakiti hatinya itu, Kala berdecih kesal. "Cih! Jangan seperti itu! Ini kantorku!"


Sisa hari itu, dihabiskan oleh Kiara dengan Biru dengan penuh kehangatan. Mereka membuat komiten baru dan kembali menata hubungan mereka dari awal. Kali ini, mereka akan memulainya dengan benar dan sedikit berhati-hati.


Begitu pula dengan hari-hari berikutnya. Mereka berdua nyaris tak terpisahkan kecuali saat masing-masing bekerja. Biru mulai mencoba memasuki Bramtama Coorporation, tetapi dia mempelajari tentang perusahaan itu dari Rendy Pratama. Menurut Biru, ayahnya kurang kompeten dalam mengelola bisnis karena yang ayahnya tahu hanyalah keuntungan besar.


Rendy mengajari Biru banyak hal. Mulai dari dasar hingga sampai ke materi yang tersulit. Biru pun tampak lebih nyaman belajar bersama dengan Rendy. Hampir setiap hari, laki-laki muda itu datang ke kediaman Pratama.


Awalnya Angkasa menolak tetapi lama-kelamaan dia mulai menikmati waktu bersama teman barunya. Semua berjalan lancar dan sesuai dengan apa yang Kiara dan Biru harapkan.


Hingga suatu hari Biru kembali mengajak Kiara untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. "Minggu depan kalau kau ada waktu kosong, orang tuaku mengajakmu untuk bertemu,"


"Heh! Kau tak salah dengar? Mungkin kedua orang tuamu menyebut nama Angeline bukan Kiara," sahut Kiara tertawa gugup. Dirinya sudah tidak pernah mengharapkan lagi akan diterima baik oleh pasangan Bramasta.


Bagi Kiara, dia dapat berhubungan lancar dengan Biru sudah menjadi suatu anugerah terindah untuknya. Dia tidak pernah mengharapkan sebuah hubungan yang serius, seperti pertunangan atau pernikahan. Karena dia tahu kedua orang tua Biru tidak akan pernah menyukai dia. Begitupun sebaliknya.


"Kenapa kau berkata seperti itu? Mungkin saja ada yang ingin dibicarakan oleh kedua orang tuaku denganmu," kata Biru mencoba merayu kekasihnya.

__ADS_1


Kiara hanya tersenyum sambil menggeleng perlahan. "Tidak bisa. Maafkan aku, aku belum siap dan untuk saat ini, aku tidak bisa,"


"Lalu, ingin kau bawa kemana hubungan kita ini?" tanya Biru lagi. "Apa yang kau harapkan dari hubungan kita?"


Hembusan napas terdengar dari Kiara. Gadis itu mengangkat kedua bahunya sambil lagi-lagi menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu. Kita jalani saja sampai sejauh mana hubungan ini,"


Biru merasa tertampar dengan jawaban Kiara tersebut. Dia tahu tidak mudah melupakan apa yang telah dilakukan oleh kedua orang tuanya kepada gadis itu, tetapi menurut biru, Tidak ada salahnya mencoba untuk bertemu.


"Tapi, tidak bisakah kau un-, ...."


"Aku butuh waktu untuk sembuh! Aku tidak tahu berapa lama waktu yang kuperlukan, karena ini terlalu sulit! Berhubungan denganmu, lalu kau menuntutku untuk bertemu dengan orang tuamu kembali, itu semua butuh waktu, Biru!" tukas Kiara yang tiba-tiba meninggikan suaranya.


Biru tercengang. Tak pernah ada dalam bayangannya Kiara bisa semarah ini. Pria itu pun berusaha menenangkan kekasihnya dengan menggenggam kedua tangan Kiara.


"Tapi, ... Aku tidak mengalah dan aku belum kalah. Aku akan hadapi orang tuamu, hanya saja tidak dalam waktu dekat ini," kata Kiara perlahan. "Maafkan aku karena aku emosi dan marah-marah,"


"Aku mengerti, Sayang. Maafkan aku juga kalau aku terlalu memaksamu sehingga kau kesal," ucap Biru lembut.


Sementara itu, Angeline yang mengetahui hubungan Biru dengan Kiara, tak lantas tinggal diam. Wanita muda itu menemui ayahnya dan meminta kerjasama dengan Bramtama Coorporation dibatalkan.


Tentu saja Rega kesal dibuatnya. "Sembarangan! Kita cari cara lain, tapi tidak membatalkan apa yang sudah Papa rencanakan! Lagi pula, Dirgantara tak akan semudah itu menyetujui hubungan mereka. Daripada kau panik, lebih baik kau belajar memegang bisnis Papa. Kau sudah berada jauh di bawah Kiara Pratama!"


Mendengar ayahnya yang terkesan membela Kiara, Angeline semakin kesal. Wajahnya semakin ditekuk seperti kertas lipat, tak lupa hentakan kaki yang sudah menjadi senjata utamanya. "Papa! Kenapa Papa membandingkan aku dengan gadis miskin itu, sih! Sudah jelas sangat berbeda!"


"Buktikan kalau kau tidak kalah darinya, Angeline! Kau anak Papa, putri tunggal Baskara, tunjukkan pada dunia kalau kau seorang Baskara, bukannya malah melempem karena kalah! Konyol!" tukas Rega tajam.

__ADS_1


"Ya, Papa lihat saja, aku tidak akan kalah dari gadis miskin itu! Akan kubuktikan!" seru Angeline tak mau kalah. Dengan mengerjakan kedua kakinya wanita itu pun pergi meninggalkan ruangan kerja ayahnya dan mulai menyusun rencana untuk membalas dendam kepada Kiara.


...----------------...


__ADS_2