
Lagi-lagi caci maki yang diterima oleh Kiara sore hari itu. Namun kali ini, diperparah dengan dia yang tiba-tiba diusir sebelum dia selesai mencerna apa yang terjadi.
Kiara luar biasa terkejut mendapat perlakuan seperti itu dari kedua orang tua Biru. Tanpa terasa, air matanya jatuh dan menetes membasahi pipinya. Cepat-cepat dia mengusap keberadaan butiran bening kesedihan itu. Dia tidak ingin, si supir taksi melihatnya menangis.
Berkali-kali Kiara mengusapnya, tetapi butiran-butiran kecil itu terus menetes tanpa henti. Gadis itu pun akhirnya memalingkan wajahnya ke arah jendela dan memaksa pikirannya untuk menikmati pemandangan yang saat ini sedang dia lewati.
Sulit sekali bagi Kiara untuk melupakan tatapan kebencian serta kata-kata menyakitkan dari pasangan Bramasta hari ini.
Beberapa jam yang lalu, di kediaman Biru,
"Papa sama Mama ini kenapa, sih? Omongan kalian itu menyakiti Kiara! Kami tidak seperti itu! Aku mencintai Kuara dengan tulus, begitu juga dengan cinta Kiara kepadaku!" tukas Biru dari dalam kamar.
Ya, saat Kiara dan Biru datang ke kediaman Bramasta, bukan respons hangat yang mereka dapatkan melainkan tuduhan tak menyenangkan serta caci maki yang keluar dari mulut pedas Amanda, ibu Biru.
Biru pun tak tinggal diam, dia menarik ayah dan ibunya untjk masuk ke dalam kamar dan seolah-olah menyidang mereka berdua. Walaupun terkesan tidak sopan tetapi menurut Biru, kali ini kedua orang tuanya sudah kelewat batas.
"Kau tidak perlu membela gadis mata duitan seperti itu, Biru! Buka matamu dan pakai otakmu, dia hanya memanfaatkanmu! Untuk apa dia menjadi pacar sewaanmu? Untuk membatalkan pernikahanmu dengan Angeline?" tuntut Amanda kesal. Dari raut wajahnya tampak sekali kalau wanita itu sangat marah dan geram.
Tak jauh berbeda dengan istrinya, Dirgantara pun terlihat tak percaya dengan berita yang baru saja didengarnya itu. "Tadinya, Papa ingin percaya kepadamu, tapi kami memiliki bukti kalau kaliam hanya berpura-pura pacaran,"
Tentu saja Biru semakin tak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh ayah dan ibunya itu. "Bukti? Bukti apa?"
"Tentu saja bukti transaksimu kepada Kiara! Mama masih simpan," kata Amanda dengan nada tinggi.
Kedua kening Biru mengerenyit. Pria itu sama sekali tak paham apa yang sedang terjadi. "Berikan padaku!"
Amanda keluar dari kamar putranya itu dan dia mencibir sinis saat melewati Kiara dan tak lama, wanita itu masuk kembali ke dalam kamar Biru sambil menunjukkan sebuah foto di ponselnya.
"Ini! Jelaskan pada Mama dan Papa, apa ini?" desak Amanda.
Biru melihat foto yang ada di ponsel ibunya dan jantungnya seketika itu berhenti berdetak. Foto itu adalah foto yang pernah dia tunjukkan kepada Kiara saat dia ingin menyewa Kiara sebagai kekasihnya, tetapi itu sudah lama sekali. Lalu yang kedua, darimana orang tuanya tahu tentang hal ini?
"See? Wajahmu tidak bisa berbohong lagi, Biru! Biar Mama yang bicara dengan Kiara!" cetus Amanda. Dia pun bergegas keluar untuk menemui Kiara.
__ADS_1
Biru berusaha mencegahnya, tetapi terlambat. Amanda dipenuhi oleh rasa marah yang luar biasa sehingga dia tak dapat dihentikan.
"Ma! Mama! Maa, ...!" sahut Biru.
Namun, ibunya itu sudah berdiri di hadapan Kiara dan meminta gadis itu berdiri dengan kasar. "Anakku sudah mengakui perbuatan kotormu! Kalau kau butuh uang, tidak perlu menghambat hubungan orang lain, Kiara! Apa ayah ibumu mengajarkanmu seperti itu? Merusak hubungan orang lain dengan berpura-pura menjadi kekasih anakku dan menggagalkan pernikahannya?"
"Apa kau serendah itu, huh? Apa kau tidak punya harga diri sampai harus menjual dirimu dan mematok harga untuk pemakaian jasamu? Apa saja servis yang kau berikan kepada anakku? Memuaskan dia di ranjang, huh! Awas saja kalau itu kau lakukan!" kata Amanda semakin ketus.
Bersamaan dengan suara Biru yang meninggi kepada sang ibu, air mata Kiara pun sontak saja meluncur tanpa hambatan dari matanya.
"Mama!" tukas Biru.
"Menangislah! Kau mengakui perbuatanmu, 'kan, makanya kau tidak berusaha membela diri! Huh, jadilah wanita yang punya harga diri! Mulai detik ini, jauhi anakku!" kata Amanda tanpa memerdulikan air mata Kiara.
Merasa belum cukup, Amanda mengambil tangan Biru, dan mengusir Kiara dari rumahnya. Lalu, dia menarik Biru dan memerintahkan putranya itu untuk masuk ke dalam kamar.
Tak perlu diminta dua kali, Kiara segera memanggil taksi, dan pergi dari rumah itu. Maka, di sinilah gadis itu saat ini, menangis di dalam mobil berwarna kuning yang melaju membelah petang dengan kecepatannya.
Setibanya di apartemen, Kiara segera turun, dan duduk termenung di halte bis yang ada di depan apartemen tempat dia tinggal. Dia tidak ingin masuk ke dalam karena dia tidak siap mendengarkan penghakiman dari sahabatnya.
Kiara pun tenggelam dalam kesedihannya, sampai dia tidak menyadari seseorang datang, dan menyapanya. "Hei, Kiara! Kiara! Woi! Hei, Kiara!"
Tak sabar, seseorang itu menyentuh pundak Kiara dan sedikit menggoyangkannya. "Woi! Kau tidak mati, 'kan?"
Kiara terkesiap dan mengusap kembali kedua pipinya yang lengket karena air mata. "K-, Kala,"
Kala menghela napas lega. "Huft, kupikir kau mati. Tatapanmu kosong, tidak menyahut saat dipanggil, dan kau bersandar lemas di sana, semua orang pasti akan menyangka kau mati, pingsanlah paling tidak,"
Kiara tidak tersenyum ataupun menanggapi candaan Kala. Melihat sekretaris pribadinya tampak frustrasi, Kala duduk di sisi Kiara dan menepuk bahunya sendiri. "Bersandarlah di sini. Aku pinjamkan bahuku untukmu,"
Namun, Kiara tak bergeming. Dia tetap tidak bergerak, hingga akhirnya Kala tak sabar dan menarik lengan Kiara untuk memaksanya bersandar di bahu lebarnya. "Aarggh! Kelamaan! Mumpung gratis, satu menit lagi akan berbayar!"
Kiara pun pasrah. Kini, mereka berdua duduk beratapkan sepi walaupun jalanan di hadapan mereka ramai oleh lalu lalang kendaraan.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Kala mengajak Kiara untuk berbicara. "Hei, aku tidak tau apa masalahmu atau apa yang terjadi padamu. Tapi, maukah kau bersenang-senang bersamaku malam ini?"
"Aku tidak akan memaksamu untuk bercerita, paling tidak, aku bisa menemani malam kelabumu. Aku tidak ingin membaca berita besok pagi tentang seorang sekretaris yang bekerja di Rajash Globalindo Corporation ditemukan gantung diri di kamar apartemennya. Jadi, sebagai bos yang baik, aku menawarkan waktuku untuk kau habiskan," sambung Kala lagi.
Sudut bibir Kiara akhirnya membentuk sebuah senyuman dan gadis itu mengangguk kecil. "Oke, tapi aku tidak akan sebodoh itu. Tidak ada yang bisa membuatku mengakhiri hidupku,"
"Good. So, let's go!" ajak Kala.
Malam itu, Kala benar-benar menghibur Kiara dan berhasil membuat gadis itu tersenyum dengan segala kelakar dan kekonyolannya.
"Kau sudah makan? Aku rasa belum karena wajahmu pucat. Aku akan mengajakmu ke tempat makan favoritku, tenang saja, bukan restoran fancy, kok," ucap Kala tersenyum karena dia sudah melihat kepanikan di wajah Kiara.
Benar saja, Kala mengajaknya untuk makan di restoran tenda kecil yang cukup ramai di pinggir jalan. Kiara pun tersenyum kembali. "Kupikir, kau tidak bisa makan di sini. Apa kau yakin perutmu akan baik-baik saja makan di sini?"
"Hahaha! We'll see," kata Kala tertawa.
Mereka pun masuk ke dalam restoran itu dan menikmati sajian makanan yang dihidangkan oleh pemilik restoran tersebut. Ternyata, Kala sudah biasa mengunjungi restoran pinggir jalan ini, karena sang pemilik serta pegawai mereka mengenal Kala dengan baik.
Seusai makan, Kala mengajak Kiara untuk membeli es krim di food truck di sebelah restoran itu. Dia memberikan Kiara es krim cokelat dan es krim rasa kopi untuk dirinya sendiri.
"Bagaimana perasaanmu? Wajahmu sudah berwarna lagi, tapi kebodohanmu belum muncul, tandanya kau belum baik-baik saja," tanya Kala sambil menjillat es krimnya.
Kiara meringis kesal. "Sialan! I'm fine dan thanks to you, Kala. Untuk malam ini dan untuk ini,"
Kala menahan rasa bangganya. Sambil berjalan menyusuri taman yang berada tak jauh dari kumpulan warung-warung tenda itu, Kala mengajak Kiara untuk duduk di salah satu kursi taman.
"Kiara," kata Kala.
Kiara yang sedang asik menikmati es krim sambil memandangi seisi taman pun menoleh ke arah Kala dan tiba-tiba saja, pria itu mengecup bibirnya.
"Jadilah kekasih sungguhanku, Kiara. Ini bukan permintaan tapi perintah. Aku tidak tahan melihatmu sedih seperti tadi. Ayolah, jadi kekasihku saja! Aku bisa menjamin kebahagiaanmu sampai kau tua nanti," ucap Kala dengan tegas.
Wajahnya seakan bersinar di bawah temaram lampu taman dan tatapan matanya tajam seolah-olah mengunci manik Kiara. Perlahan, detak jantung Kiara berdegup membentuk sebuah alunan irama musik yang indah.
__ADS_1
...----------------...