Pacar Sewaan

Pacar Sewaan
Cerita Biru


__ADS_3

"Bisakah kau menjelaskan kepadaku, apa yang terjadi sampai kau kabur seperti ini?" tanya Angkasa setelah Biru tenang. "Karena ini bukan gayamu sekali, Bi. Biasanya, kau tidak akan kabur, kau akan menghadapi masalah yang ada di depanmu dengan berani,"


Biru menenggak minuman beralkohol yang dibelikan oleh Angkasa tadi. Isi kepalanya seakan tumpah dan meluber ke mana-mana seperti sebuah gelas yang terus dialiri oleh air.


"Orang tuaku menggila, Sa!" jawab Biru singkat, lalu kembali menenggak botol minumannya sambil mengambil segenggam kacang dan memasukannya ke dalam mulut dalam satu lemparan.


Angkasa tertawa. Yang dia tahu, orang tua Biru memang keras dan Biru sering terlibat pertengkaran juga perdebatan panjang dengan kedua orang tuanya, terutama dengan Dirgantara.


Namun sepertinya, kali ini yang terparah sepanjang Angkasa mengenal Biru. "Ada hubungannya dengan Kiara, Bi?"


Biru mengangguk. "Tidak hanya Kiara, tapi keluarga Kiara. Aku baru tahu kalau ayahku sebrengsek dan sepengecut itu! Selain itu juga, masih saja memaksaku untuk menikah! Bayangkan saja, anggap saja kita lagi bertukar posisi, kau tau segala kebusukan yang pernah dilakukan oleh ayahmu, dan karena ulah ayahmu itu, gadis yang sedang kau kencani terpaksa hidup dalam keterbatasan selama bertahun-tahun. Belum selesai sampai di situ, kedua orang tuamu benar-benar membuat mental gadismu hancur karena segala ejekan dan cacian mereka, padahal, karena merekalah hidup gadismu menjadi seperti itu!"


"Sekejam itu? Apa kau tidak mencari tahu dari sisi lain? Maksudku, kau hanya mendengar dari sisi Kiara, 'kan?" tanya Angkasa bijaksana.


Dengusan kesal keluar dari Biru. Wajah pria tampan itu seakan muak dengan kedua orang tuanya. "Ayahku mengakuinya, Sa,"


"Itukah yang membuatmu sampai kabur tanpa membawa apa pun?" tanya Angkasa lagi.


Biru menggelengkan kepalanya. "Ada yang lebih parah dari itu. Begini, ...."


Sehari sebelum kepergian Biru,


Suasana pagi itu di kediaman Dirgantara Bramasta, tepatnya di meja makan, tampak begitu tegang. Kedua pasang mata saling bersitatap tajam, seakan ada aliran listrik bertegangan tinggi yang keluar dari bola mata mereka.


"Jadi, apa maumu, Anak Muda?" tanya Dirgantara.


Putra tunggalnya yang bernama Biru balas menatapnya tanpa gentar sedikit pun. "Selesaikan urusan Papa dengan Pratama, setelah itu, aku akan menuruti semua kemauan Papa!"

__ADS_1


Dirgantara tertawa terbahak-bahak, sementara seorang wanita yang duduk di sebelahnya terlihat khawatir. Wanita itu tak berdaya dalam usahanya memisahkan perdebatan yang terjadi antara ayah dengan anak tersebut. "Sudah! Sudah! Di depan kita ada makanan, lho! Pa, sudahlah! Makan dulu!"


Tangan itu mengusap-usap punggung Dirgantara supaya pria yang wajahnya sudah sangat merona itu dapat menurunkan emosinya. Tanpa melepaskan usapan di punggung Dirgantara, wanita itu menoleh ke arah putra mereka. "Biru, bawa sarapanmu dan makanlah di kamar sampai kemarahan ayahmu mereda!"


"Kenapa sih, Ma, Papa itu selalu egois? Semua selalu berpusat pada Papa! Apa aku tidak ada di pikiran Papa sama sekali?" tuntut Biru.


Yang membuat suasana tegang di pagi itu adalah ide gila Dirgantara yang menginginkan Biru untuk bertunangan dengan Angeline.


Pesta pertunangan yang pernah mereka rencanakan, akan benar-benar dilaksanakan kurang dari seminggu lagi. Sedangkan Biru, tentu saja dia menolak mentah-mentah rencana itu. Namun, Dirgantara tetap memaksa hingga terjadilah keributan itu.


Biru sama sekali tidak mengerti mengapa ayahnya bisa sangat egois dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Mengapa kebahagiaan putranya tidak pernah dia prioritaskan?


Kondisi mental Biru sedang tidak baik-baik saja. Pemuda itu merasakan berbagai macam perasaan dalam satu waktu. Patah hati, sedih, kesal, marah, bingung, semua menjadi satu di dalam hatinya.


Sementara Dirgantara, pria itu terus bersikeras untuk tetap menikahkan putranya dengan Angeline, putri tunggal keluarga Baskara.


Namun, usulan istrinya itu tidak berhasil mempengaruhi Dirgantara. Alih-alih menjawab, dia justru tertawa serta mencemooh putranya sendiri. "Biarkan saja dia! Laki-laki itu tidak boleh cengeng dan manja! Papa akuin, Papa salah di masa lalu, tapi, hidup ini tidak berhenti, 'kan? Kita tetap harus menatap ke depan! Sedangkan anakmu memintaku untuk memperbaiki kesalahanku itu dan minta maaf pada Pratama!"


"Huh! Gila!" tukas Dirgantara menutup ocehannya.


Amanda hanya diam. Dirgantara memang tipe pria yang keras dan sedikit egois. Namun kali ini, dia tidak dapat mendukungnya, karena bagaimanapun juga, Biru adalah anaknya dan laki-laki muda itu terlihat tidak baik-baik saja.


"Biar aku yang bicara dengan anakmu!" kata Dirgantara.


Maka, sebelum Amanda bisa mencegahnya, Dirgantara sudah melesat masuk ke dalam kamar putra mereka. Seluruh ruangan di rumah Dirgantara dipasangi pengedap suara, sehingga suara sebising apa pun, tidak akan terdengar sampai keluar.


Tujuan dibuatnya ruangan seperti itu adalah untuk menjaga privasi sang pemilik ruangan. Baik itu di setiap ruangan tidur, ruang keluarga, ruang tamu, maupun ruang kerja dan di pagi menjelang siang itu, Dirgantara masuk ke kamar putranya, lalu menguncinya dari dalam.

__ADS_1


"Biru, Papa ingin bicara denganmu," kata Dirgantara yang segera duduk di sebuah sofa nyaman berlengan.


Biru tidak menjawab. Saat ini, dia sedang kesal kepada ayahnya itu. Ayah yang dianggapnya egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri.


"Papa tidak memaksamu untuk menikahi Angeline saat ini. Artinya, Papa akan memberikanmu satu pilihan lain," kata Dirgantara lagi. "Lanjutkan kuliahmu, ambillah gelar Doktor, dengan begitu, kau akan melupakan Kiara serta masalahnya,"


Bukannya terhibur, Biru justru semakin berang dan marah mendengar kata-kata ayahnya itu. "Selalu keinginan Papa! Lagi-lagi kemauan Papa! Papa yang atur! Kenapa Papa tidak pernah membiarkan aku yang mengaturnya? Kenapa Papa tidak bertanya apa yang aku mau?"


Dirgantara tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Untuk apa Papa bertanya padamu? Papa sudah tau, kau ingin Kiara dan kau ingin Papa minta maaf pada keluarganya, lalu kalau Papa sudah melakukan apa yang kau mau, kau mau apalagi?"


"Merestui hubungan kalian? Lalu menikahkan kalian, begitu?" sambung Dirgantara lagi.


Mendengar pertanyaan konyol dari ayahnya, Biru hanya tertawa. "Aku sudah dewasa, Pa. Kalau Papa percaya kepadaku, sudah dari dulu-dulu, Papa berikan aku program internship itu. Tapi apa? Papa terus menunda program itu! Karena Papa tidak percaya padaku, Papa takut! Bahkan Papa takut kalau aku melakukan kesalahan dan Papa akan bangkrut! Iya, 'kan? Karena Papa melihat, aku tidak memiliki potensi untuk itu dari dulu, karena itu, Papa bekerjasama dengan Om Rega untuk memperkuat perusahaan Papa! Begitu, 'kan?"


Entah bagaimana kata-kata itu keluar dari mulut Biru. Tetapi, karena dia sudah berpikir ke situ, kini dia paham mengapa ayahnya begitu mudah terbujuk oleh Rega Baskara di masa lalu.


Rendy merupakan pria yang pintar, Dirgantara pun mulai merasa terancam jika Rendy berada di pihaknya. Ya, dia takut ditinggalkan, sehingga begitu ada tawaran menggiurkan yang datang kepadanya, Dirgantara meninggalkan Rendy lebih dulu, sebelum dia benar-benar ditinggalkan.


Secara perlahan, Biru menuturkan hipotesanya itu pada Dirgantara yang seperti mati kutu karena terdesak hanya dengan kata-kata dari Biru.


"Kalau Papa diam berarti tebakanku benar! Aku tidak butuh pria pengecut untuk menjadi ayahku! Akan aku buktikan kepada Papa, aku sanggup berdiri di atas kakiku sendiri!" kata Biru dengan penuh tekad.


Setelah itu, dia mengakhiri ceritanya kepada Angkasa. Sahabatnya itu berusaha mencerna dan mengerti tentang inti dari permasalahan Biru dan keluarganya.


"Terus, apa rencanamu?" tanya Angkasa.


"Aku hanya punya Oke Cupid, aku membutuhkan bantuanmu dan Kiara untuk mengembangkan itu. Sambil terus mencari bukti kebusukan ayahku," jawab Biru, kedua maniknya menatap tajam membayangkan ayahnya akan mengakui perbuatan jahatnya pada keluarga Pratama.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2