
Hilangnya Biru membuat Amanda sangat terpukul. Wanita itu juga cukup kesal melihat sikap cuek suaminya dalam menanggapi hilangnya Biru. Menurut Dirgantara, mereka tidak perlu mencari putra mereka. Bahkan pria itu cenderung menantang putranya.
"Aku cuma mau lihat, seberapa kuat dia hidup tanpa kita. Tanpa fasilitas yang kita berikan, tepatnya seperti itu," kata Dirgantara lagi tanpa menaruh perhatian sedikit pun kepada istrinya. "Sudahlah, Ma! Tidak usah dipikirkan! Dia juga sudah mengaku dewasa, 'kan? Biarkanlah!"
Amanda mencebik dan menjejakkan kakinya menahan kesal. "Ish! Papa! Biru bukan cuma anak Mama, tapi anak Papa juga! Kita membuat Biru itu berdua loh, Pa! Tapi cuma Mama yang khawatir!"
Dirgantara pun tertawa mendengar amarah istrinya yang terdengar lucu itu. "Hahaha! Papa juga khawatir, tapi biarkan saja dia berpikir dan mencoba hidup mandiri seperti yang dia mau. Kita lihat, sampai sejauh mana dia akan bertahan,"
Tak lama, mereka dikejutkan dengan suara bel pintu. Amanda segera berlari dan berharap semoga anaknyalah yang kembali. Bahkan dia menghadang pelayan rumahnya yang hendak membukakan pintu. "Bi, biar saya saja yang buka!"
Senyum cerahnya berubah menjadi cibiran dengan cepat saat dia melihat siapa yang datang. Sang tamu pun bingung bukan kepalang. Selama dia bertamu ke rumah itu, tak pernah dia mendapatkan cibiran dari sang empunya rumah.
"Loh, Tante kenapa?" tanya tamu itu.
Dengan serta merta, Amanda memeluk tamunya dan menangis di dalam dekapan tamu wanita tersebut. "Angel, Biru hilang! Tante juga tidak tahu dia pergi ke mana!"
"Apa? Hilang? Hilang ke mana, Tante? Tante sudah lapor polisi atau minta orang untuk cari Biru? Kenapa dia bisa hilang, sih?" tanya tamu bernama Angeline itu.
Pagi hari itu, Angeline, calon tunangan Biru datang untuk menemui orang tua pemuda yang sedang melarikan diri itu. Dia tak pernah tahu masalah apa yang sedang menimpa Biru dan keluarganya.
Amanda menggeleng sambil mengusap air matanya yang daritadi berjatuhan dan tak kuasa dia hentikan. "Om tuh santai sekali, Njel! Tante pusing jadinya!"
Dengan sabar, Angeline menuntun calon mertuanya itu untuk masuk dan duduk sambil menenangkan dirinya. Dia mengusap punggung Amanda, berharap wanita itu akan berhenti menangis dan menceritakan apa yang terjadi dengan Biru.
Selagi menunggu Amanda tenang, Angeline meminta pelayan untuk memberikan teh camomile untuk wanita berambut panjang itu. Kata-kata penghiburan terus keluar dari bibir merah dan mengilap Angeline.
__ADS_1
Sampai akhirnya harapan gadis itu pun menjadi kenyataan. Amanda mulai bercerita bagaimana Biru bisa hilang. "Dia berdebat hebat dengan Om. Entah apa yang dikatakan oleh om-mu itu, tapi begitu kemarin pagi Tante mau membangunkan Biru, dia sudah tidak ada. Yang Tante takutkan itu, dia tidak membawa apa pun, bahkan ponselnya pun tidak, Njel! Coba bayangkan kalau kau ada di posisi Tante. Pasti panik, 'kan?"
Tiba-tiba saja, Angeline mendapatkan sebuah titik terang. Senyumnya menjadi cerah seketika dan dia menepuk pundak Amanda. "Tan, apa mungkin Biru di rumah, siapa itu, gadis yang suka dia ajak datang ke sini? Keira? Kiara!"
Mata Amanda membulat sempurna saat mendengar kabar itu. Dia mengacungkan jarinya dan bergegas mengambil ponselnya. Tak lama, dia sudah kembali dengan riang gembira sambil menenteng ponsel bersimbol apel itu.
Wanita itu pun bersiap menghubungi Kiara, tetapi, Angeline menahannya. "Aku saja, Tan, yang menemui Kiara secara langsung,"
"Oh, iya! Kalau Tante telepon, takutnya dia kasih tahu Biru, ya? Boleh juga idemu itu, Njel!" kata Amanda bersemangat.
Maka, dengan mengantongi izin serta nomor ponsel Kiara, Angeline pun pergi menemui gadis yang masih melakukan sidang skripsinya itu.
Ya, Kiara sedang menjalani sidang skripsinya di hari itu. Jangankan kabar tentang Biru, dia bahkan tidak tahu berita apa yang sedang trending akhir-akhir ini. Setelah memutuskan hubungannya dengan Biru, Kiara berusaha untuk fokus dengan skripsinya.
Selain karena memang dia harus, gadis itu juga membutuhkan pengalihan untuk rasa sakitnya. Pertemuan terakhirnya dengan Biru, yaitu saat dia menceritakan kisah tentang ayahnya dengan ayah Biru.
Sidang hari itu pun dapat ditaklukan Kiara dengan mudah. Dia menjawab pertanyaan serta mempresentasikan tesisnya dengan baik. Para dosen serta penguji memandang kagum ke arahnya.
Setelah selesai, mereka semua mengucapkan proficiat kepada Kiara dan tanpa menunggu lama, mereka mengumumkan kelulusannya detik itu juga.
Keluar dari ruang kelas, senyum lebar menghiasi wajah cantiknya. Dia menghela napas lega sambil berteriak untuk melepaskan penat dan rasa tegangnya.
Namun, gadis itu tidak segera pulang. Dia menunggu Renatha yang memiliki jadwal sidang yang sama dengannya. Sambil menunggu, dia memeriksa ponselnya sekaligus ingin mengabarkan kepada Rendy tentang sidangnya hari itu.
Belum sempat dia menghubungi ayahnya, dia melihat notifikasi panggilan tak terjawab sebanyak 15 kali. "Banyak sekali. Siapa dia?"
__ADS_1
Kiara pun memeriksa pesan di ponselnya. Dia mengerutkan keningnya saat melihat ada pesan dari nomor yang tadi menelponnya. Tak lama, jari-jarinya sudah berselancar di atas keypad ponselnya.
Maka, dia mengirimkan pesan kepada Renatha dan bergegas pergi menemui sang pemilik nomor misterius itu. Di depan kampusnya sudah menunggu sebuah mobil mewah berwarna merah dan seorang wanita cantik dengan pakaian tak kalah mewah dengan mobilnya.
"Apa keperluanmu datang ke sini?" tanya Kiara kepada wanita muda itu.
"Masuk!" jawab wanita muda sambil mengedikkan kepalanya ke arah mobil yang dia bawa.
Karena tak ingin ribut, Kiara mengalah, dan menuruti kemauan wanita muda yang angkuh itu. Saat keduanya sudah berada di dalam mobil, wanita muda itu membuka pertanyaannya.
"Di mana tunanganku? Jawab jujur! Aku tidak akan menghukummu kalau kau memberikanku di mana Biru!" tanya wanita itu dengan nada memerintah.
Kiara mengerutkan keningnya. "Biru? Mana aku tahu. Aku sudah tidak bertemu dengannya sejak hampir seminggu yang lalu dan kami sudah putus! Aneh sekali kalau kau bertanya kepadaku di mana tunanganmu, 'kan?"
Wanita muda mengerucutkan bibirnya dan mendengus kesal. "Huh! Dia hilang! Ke mana dia akan pergi kalau tidak bersamamu? Aku tidak percaya kalau kalian sudah putus! Kenapa dia kabur tanpa membawa apa pun? Pasti kau menyembunyikannya! Mengakulah!"
"Astaga, Angeline! Aku tidak ada waktu untuk menyembunyikan Biru! Waktuku tidak banyak, tidak seperti kalian yang memiliki banyak waktu sampai-sampai ada waktu untuk kabur dari rumah! Mohon maaf, tapi waktuku sangat sangat berharga! Hentikan mobilnya, please," jawab Kiara kesal.
Walaupun sebenarnya hatinya mengkhawatirkan Biru, tetapi dia tetap bersikap santai dan tidak peduli di depan Angeline. Dia tidak mau merusak rencana pertunangan Biru dengan Angeline. Lagi pula, masa lalu kelam ayah mereka, tidak bisa membuat mereka bersatu sampai kapanpun.
Angeline menghentikan mobilnya dan sebelum Kiara turun, dia memberikan peringatan kepada gadis pintar itu. "Hei, jika Biru menghubungimu, beritahukan kepadaku! Setelah itu, pergilah dari hidup kami dan jangan pernah muncul lagi di hadapan calon suamiku! Paham?"
Tanpa menjawab, Kiara segera turun dari mobil mewah itu dan menutup pintu mobilnya dengan kasar.
"Aku bahkan tidak pernah mengejar-ngejar calon suamimu itu, Brengsek! Hei, Otak, bekerjasamalah dneganku, hancurkan Biru yang ada di hatiku!" gumam Kiara dalam hati.
__ADS_1
...----------------...