
Malam itu, Kiara hanya berpikir kalau atasannya yang berusia 30 tahunan itu hanya sedang mabuk dan tidak sungguh-sungguh saat mengatakan kalau dia ingin menjadikan Kiara sebagai kekasih sungguhannya.
Namun ternyata, ucapan Kala itu tak hanya sekedar ucapan kosong. Keesokan paginya, saat Kiara tiba di ruangan kerjanya, ruangan itu sudah dipenuhi oleh berbagai macam hadiah dan karangan bunga, serta beberapa boneka lumba-lumba berwarna merah muda dan abu-abu.
Kiara membaca kartu ucapan yang ada di salah satu buket bunga mawar berwarna merah muda itu. Kartu itu bertuliskan,
'Aku bisa menghadirkan pelangi di setiap tangismu. Aku bisa memberikanmu secerca sinar mentari di saat gelapmu. Aku bisa membawakan indahnya senja di dalam hidupmu. Keren, 'kan, aku?'
Pesan itu ditutup dengan sebuah emoticon senyum yang sangat menjengkelkan. Namun, mau tak mau isi kartu itu membuat Kiara melengkungkan senyum di wajahnya.
Sejenak dia memandangi hadiah-hadiahnya dan tiba-tiba saja, gadis itu membandingkan Kala dengan Biru. Sejurus kemudian, Kiara menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan bergegas merapikan semua hadiah itu.
Tak lama, seorang karyawan wanita datang. Dia tersenyum dan mengucapkan selamat kepada Kiara. Kiara yang tak tahu menahu tentang apa pun itu bertanya kepada wanita yang sedang menjabat tangannya, "Kenapa kau memberikan selamat kepadaku?"
"Loh, kau tidak melihat berita? Berita tentangmu dan Si Bos sudah muncul di mana-mana. Apa kau tidak tahu?" tanya karyawan itu menyelidik. Wajahnya dipenuhi keraguan dan sepertinya wanita itu tidak percaya kalau Kiara benar-benar tidak tahu apa yang sedang dibicarakan. "Kau dan Bos akan segera bertunangan. Apa kau juga tidak tahu itu, Kiara?"
Kedua alis Kiara saling bertautan dan dia menggeleng perlahan. "Kapan berita itu beredar?"
"Tadi malam," jawab wanita itu, kemudian matanya mengarah kepada hadiah Kiara dari Kala, lalu dia tersenyum. "Ah, kau pura-pura tidak tau saja! Oh, iya, calon suamimu memanggilmu,"
"Heh? Apa yang kau bicarakan Aileen?" tanya Kiara heran sambil memandangi karyawan yang bernama Aileen itu dengan memberengutkan bibirnya.
Merasa membuang-buang waktu, Kiara akhirnya menemui Kala di ruangannya. Perlahan, dia mengetuk pintu ruangan yang terbuat dari kayu kokoh itu. "Permisi,"
Terdengar suara dari dalam yang meminta Kiara untuk masuk. Kiara pun masuk dan memberi salam seperti biasa. "Selamat pagi, Tuan Kala. Ada yang bisa kubantu?"
"Tuan! Tuan! Tuan! Tuan tanah! Sudah kukatakan kepadamu berkali-kali untuk tidak memanggilku seperti itu, Kiara! Kau paham? Ah, oh, mengenai berita itu, kuanggap tadi malam kau setuju, makanya aku langsung menaikkan berita tentang itu," kata Kala dengan suara yang menurun dan bertambah lembut.
__ADS_1
Kali ini gantian wajah Kiara yang mencebik. "Kupikir kau bercanda atau sedang mabuk! Lagi pula, aku belum menjawab! Seenaknya sendiri! Kenapa kau lakukan itu?"
Kala berjalan dan menyandarkan tubuh atletisnya di sisi meja sambil terus menatap Kiara dengan tatapan tajam dan menggoda. "Aku tau, kau tidak akan menolak. Tidak ada salahnya berhubungan dengan salah satu ahli waris perusahaan terbesar di kota, 'kan? Ayahku juga menerimamu. Lalu, tunggu apalagi?"
"Enak saja! Tentu saja aku menolak! Seharusnya kau tanya dulu padaku, jangan kau putuskan sendiri! Cih!" tukas Kiara kesal dan gadis itu pun melipat kedua tangannya di dada.
Napas Kiara turun naik. Dia memikirkan Biru. Baru saja hubungannya dengan pria itu membaik, kenapa harus ada lagi masalah seperti ini?
Selain itu, Kiara juga takut berita ini akan membuat Biru salah paham dan hubungan mereka akan kembali merenggang.
Sesungguhnya, hubungan Kiara dan Biru saat ini hanya sebatas teman yang kembali berjumpa, tidak lebih. Namun, perasaan merekalah yang seolah-olah membuat peringatan kepada satu sama lain, untuk tidak menjalin komitmen kepada orang lain selain mereka sendiri.
"Kau mengkhawatirkan Biru? Setahuku hubungan kalian sudah berakhir? Dia juga sudah tinggal seatap dengan Angeline selama sebulan ini. Kenapa kau tidak ikut move on?" tanya Kala seakan membaca pikirannya.
Kiara hanya menghela napas panjang. Gadis itu juga tidak tahu harus menjawab apa, yang jelas perasaannya untuk Biru masih terpatri di hatinya.
Sontak saja, Kala menyunggingkan senyumnya lebar. "I knew it! Kau mulai suka padaku!"
"Sembarangan!" ucap Kiara. Dia melayangkan tangannya ke pipi Kala, berniat untuk mencolek pipi pria itu. Namun, dengan cepat Kala menangkapnya.
Wajah Kiara pun merone merah bak bunga mawar yang baru mekar. Dia berusaha untuk melepaskan tangannya dari cengkeraman Kala, tetapi Kala menggenggamnya erat.
"Aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku, Kiara. No matter what," kata Kala sambil mengecup punggung tangan Kiara dengan lembut.
Cepat-cepat Kiara mengibaskan tangannya dan berjalan keluar sampai kemudian dia berhenti lalu memutar balik tubuhnya. Dengan wajah masih seperti kepiting rebus, dia membacakan jadwal hari itu kepada Kala yang tersenyum puas.
"Oke, thank you. Siapkan materinya dan, Kiara! Bersiaplah, besok di sini," kata Kala iseng sambil menunjuk bibirnya sendiri.
__ADS_1
Sepanjang hari itu, Kiara dibuat salah tingkah oleh Kala. Berita tentang status hubungan mereka sudah tersebar luas membuat para rekan serta klien bisnis mereka, menggodanya dan mendesak mereka untuk segera melangsungkan pernikahan.
Ditambah lagi, sikap Kala yang menurut Kiara manly sekali dan berhasil mengusik ketenangan hati Kiara. Selama ini, hanya ada Biru yang bertahta di sana dan kali ini, Kala seolah menerobos masuk dan mengguncang Biru serta berusaha menjatuhkan sosok Biru dari singgasana hati Kiara.
Kiara berusaha menenangkan hatinya seharian itu, supaya tidak terjadi gonjang-ganjing dan pertengkaran di dalam sana. Berkali-kali, gadis itu terlihat menghela napas dan menatap Kala dari ekor matanya.
"Ehem! Aku tau aku keren. Terima kasih karena kau mulai memperhatikanku. Ups, siapa di sana?" kata Kala setelah mereka pulang dari kantor dan melihat Biru bersama dengan Angeline sudah menunggu mereka di lobi kantor.
Mata Kiara pun segera berlari ke arah Biru. Pria itu menghampiri mereka dengan tergesa-gesa dan tiba-tiba saja, Kala jatuh tersungkur karena Biru mendaratkan pukulannya di wajah pria itu.
"Take down berita itu!" desis Biru.
Angeline memekik putus asa. Wanita itu seperti ingin memisahkan pria-pria yang sedang bergelut, tetapi dia lebih ingin mempertahankan rok pendeknya tetap di tempatnya.
"Biru! Apa-apaan kau?" tanya Kiara tajam. Gadis itu segera membantu Kala untuk berdiri dan mendorong Biru menjauh.
Wajah Biru seakan tertampar mendengar pembelaan Kiara untuk Kala. Dia mengacungkan jari telunjuknya ke arah Kiara. "Kau membelanya? Jadi, kabar itu benar, Ra? Kau akan menikah? Lalu, tadi malam itu apa? Kau beri aku sebuah harapan palsu yang kosong, kau mengajakku terbang tinggi ke langit dan kau hempaskan aku ke tanah seketika itu juga! Apa kau balas dendam kepadaku, huh!"
Entah bagaimana caranya Kiara menjelaskan kesalahpahaman ini kepada Biru. Dia hanya tidak suka melihat Biru memukul Kala, tetapi di saat yang sama, dia juga harus menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi.
Tiba-tiba saja, Angeline tersenyum licik. Dia merasa seolah sedang berada di tengah-tengah pertunjukan. "Pilih saja Kala, Gadis Miskin! Mahendra sudah jelas-jelas akan menaikkan status sosialmu walaupun dia tidak sekaya Biru, tapi paling tidak, kau bisa sejajar denganku,"
Kiara menyipitkan matanya dan tanpa sadar, tangannya menampar pipi mulus Angeline. "Tutup mulutmu dan tak usah kau campuri urusanku!"
Setelah merasa puas, dia menggandeng lengan Kala dan mengajaknya pergi dari situ. Hatinya panas karena melihat Angeline masih mengekori Biru. Benar kata Kala, kalau Biru sungguh-sungguh mencintainya, dia harus bisa menjauh dari Angeline!
...----------------...
__ADS_1