
Sejak acara makan siang yang memuakkan, Kiara tidak dapat dihubungi. Berkali-kali juga Biru mendatangi rumah gadis itu, tetapi Kiara seperti tidak pernah keluar dari rumahnya. Biru juga menghampiri kampus tempat Kiara kuliah, lagi-lagi Kiara sudah pulang lebih dulu atau tidak ada jadwal kuliah.
Entah bagaimana gadis itu menghindari Biru. Namun, Biru sama sekali tidak dapat melihat atau menemukan Kiara. Pesan atau telepon pun tidak aktif saat Biru mencoba menghubunginya.
Tentu saja Biru kesal dan marah. Dia lampiaskan kekesalannya itu kepada kedua orang tuanya. Dia mengatakan kalau Amanda dan Dirgantara seperti anak kecil yang pamer sedangkan mulut mereka seperti orang yang tidak berpendidikan.
Atas keberaniannya itu, Biru dihadiahi sebuah tamparan dari ayahnya. "Kurang ajar kau, ya! Papa dan mama hanya menuturkan sebuah fakta, bukan omong kosong! Papa dan mama mengakui, kok, kalau pacarmu itu pintar. Perlu kau ingat, Biru, pintar saja tidak cukup untuk membuatmu bertahan!"
Saat itu, Biru tahu ke mana pembicaraan itu akan mengarah. Bisinis! Pernikahan pun pernikahan bisnis hanya demi meraup kepentingan semata. Kedudukan sebuah cinta pun bergeser untuk sebuah keuntungan.
Sudah 3 hari, Biru tidak dapat bertemu atau berhubungan dengan Kiara. Biru bertanya kepada Renatha, satu-satunya manusia yang dikenal baik oleh Kiara. "Halo, Re, Kiara mana? Aku butuh bicara dengannya,"
("Dia sakit!") jawab Renatha galak.
"Sakit? Aku selalu bertemu dengan teman sekelas Kiara dan mereka bilang Kiara ada, kok. Dia tidak pernah absen," ucap Biru menyelidik.
Terdengar suara dessahan napas Renatha dari seberang. ("Bisakah kau pakai hatimu, Kiara butuh menjauh darimu supaya dia dapat menyembuhkan hatinya! Orang tuamu keterlaluan, Bi!")
Biru menundukkan kepalanya. "Aku tau. Justru aku ingin meminta maaf kepadanya,"
("Tidak perlu! Sudah dulu, ya, besok aku ada ujian! Byee!") Renatha menutup ponsel dan mengakhiri percakapannya.
Setelah Renatha menekan tombol matikan di ponselnya, dia melirik ke arah seorang gadis yang sedari tadi memperhatikannya. "Dia lagi, Re?"
Renatha mengangguk. "Siapa lagi? Aku berpikir, sepertinya kalian terlalu terbawa perasaan. Suara Biru tadi terdengar benar-benar mengkhawatirkanmu. Memang ada apa, sih, di antara kalian?"
Kiara belum pernah menceritakan apa yang terjadi kepada sahabatnya itu. Renatha pasti akan kesal dan marah kalau mendengarnya. Bahkan akan meminta Kiara untuk berhenti.
__ADS_1
Saat ini, Kiara sedang menginap di rumah Renatha demi menghindari Biru. 3 hari sudah, dia menginap di sana. Dengan alasan mengerjakan tugas kelompok dan menunggu dosen pembimbing untuk pengajuan skripsi pun berhasil mereka katakan kepada orang tua Kiara.
Karena tak sanggup menanggungnya seorang diri, Kiara akhirnya bercerita tentang orang tua Biru dan Angeline kepada Renatha. Saat bercerita, Kiara terus mengeluarkan air matanya. Luka yang ditorehkan akibat ucapan keji kedua orang tua Biru, kini terbuka kembali.
"Astaga, Kiara! Kalau aku jadi kau, aku pun akan melakukan hal yang sama. Aku akan walk out dan tidak akan mau melanjutkan hubungan gila ini. Walaupun pura-pura, tapi aku bisa merasakan sakit yang kau rasakan, Ra!" ucap Renatha penuh simpati.
Lega rasanya bisa menceritakan semua kesesakan yang kita rasakan kepada teman atau sahabat kita. Itu juga yang dirasakan oleh Kiara. Respon Renatha tidak mengecewakan, gadis itu segera saja mencaci maki keluarga Biru dan menganggap mereka keterlaluan hanya karena kedudukan mereka lebih tinggi.
"Kenapa juga kau tidak mengatakan tentang bisnis ayahmu yang bangkrut karena difitnah oleh rekan bisnisnya sendiri?" tanya Renatha lagi.
Namun Kiara menggelengkan kepalanya. "Untuk apa? Tidak semua aku ceritakan, 'kan? Kecuali kalau aku benar-benar menjalin hubungan serius dengan Biru,"
Renatha mengangguk setuju. "Kau benar, Ra. Tidak semuanya bisa kau ceritakan karena mereka juga belum tentu menerima kisahmu. Kembalikan saja uangnya, belum kau pakai, 'kan?"
Kiara menggelengkan kepalanya. Hati gadis itu mencelos. Uang itu sebenarnya akan dia pakai untuk membelikan ayahnya sepatu, celana panjang baru, dan kemeja baru, tetapi dia tidak sanggup jika harus berpura-pura lebih lama.
Renatha memberikan persetujuannya melalui dua ibu jari serta senyuman manis di wajahnya. "Kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk bercerita padaku ya, Ra,"
Akhirnya, Kiara mengirimkan pesan kepada Biru untuk bertemu besok, setelah jam kuliah selesai. Keesokan harinya, mobil Biru sudah terparkir rapi di parkiran kampus Bright University sejak pagi.
Laki-laki itu bahkan mengucapkan selamat pagi kepada Kiara dan Renatha saat kedua gadis itu baru sampai di kampus. "Morning, Ra,"
Kiara hanya mengangguk singkat dan menarik sahabatnya untuk segera pergi menjauh. Hari itu, Kiara hanya memiliki 2 mata kuliah sedangkan Renatha 3 mata kuliah. Gadis itu pun mengirimkan pesan kepada Renata meminta doa dan dukungan dari sahabatnya untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang terjadi antara dirinya dengan Biru.
("Good luck, Sist,") balas Renatha singkat.
Jam kuliah terakhir pun tiba, Kiara sengaja membuang waktu dan memperlambatnya dengan melakukan hal-hal yang tidak perlu. Sampai akhirnya, dia benar-benar harus menemui Biru yang sudah menunggunya sedari pagi.
__ADS_1
"Hei," sapa Kiara sambil mengetuk kaca mobil Biru.
Cepat-cepat Biru keluar dari mobilnya dan membukakan pintu supaya Kiara dapat masuk. Mereka berdua terdia untuk beberapa saat di dalam mobil.
"Ehem! Aku akan mengembalikan uangmu. Belum kupakai sepeser pun. Maaf kalau aku tidak bisa menyelesaikan pekerjaanku. Ini terlalu berat untukku," kata Kiara dengan suara tercekat.
Namun, Biru memegang kedua tangan Kiara sambil menggelengkan kepalanya. "No! Aku minta maaf mewakili orang tuaku dan Angeline sialan itu, Ra! Jangan berhenti, kumohon. Aku membutuhkanmu,"
Kiara menghela napas dan menyingkirkan tangan Biru dari pangkuannya. "Membutuhkanku untuk? Aku berterima kasih karena kau menguatkanku di saat orang tuamu menjatuhkan mentalku, tapi tetap saja menimbulkan luka berbekas yang tak akan mudah hilang,"
Sekali lagi, Biru meraih tangan Kiara dan hendak menggenggam tangan itu. Namun lagi-lagi, Kiara menjauhkannya. "Kita bukan pasangan sungguhan, Bi. Tapi, sakitnya sungguhan,"
"Aku minta maaf. Maafkan aku. Maafkan kedua orang tuaku! Tapi, aku tidak ingin selesai denganmu. Ayo, kita berjuang bersama!" desak Biru.
Kali ini, dia tidak hanya membicarakan soal tujuan akhir rencananya, tetapi ada hal lain yang lebih penting dibandingkan pembatalan pernikahannya dengan Angeline.
"Tidak harus seperti itu, 'kan? Maksudku, Angeline tidak seburuk itu dan tidak ada salahnya kau mengenal dia lebih dekat. Sama seperti kita, kau bisa berteman denganku sampai saat ini padahal sebelumnya kau sudah bersumpah untuk tidak ingin bertemu ataupun berurusan denganku lagi. Lakukan hal yang sama dengan Angeline," kata Kiara. Gadis itu sudah benar-benar menyerah. Dia tidak mau lagi orang tuanya direndahkan oleh orang asing yang bahkan tidak akan dia temui lagi nantinya. "Aku juga minta maaf kalau aku tidak dapat meneruskan pekerjaanku,"
Biru menggeleng. Sifat anak tunggalnya mulai muncul, begitu pula dengan egonya. "Tidak! Kau tidak boleh mundur, Ra! Aku akan selalu ada di sampingmu, maka dari itu, jangan menyerah! Aku benar-benar membutuhkanmu,"
Kiara memandang manik jernih Biru. Kini, kedua netra itu saling bertemu dan bertumpu. Ada sesuatu yang lain yang Biru rasakan saat ini, begitu pula dengan Kiara.
Waktu seakan berhenti dan dalam keheningan yang canggung itu, perlahan detak jantung mereka mulai memenuhi ruangan sempit itu.
"Ra, aku rasa aku tidak bisa tidak bertemu denganmu. Sesuatu di dalam diriku menuntutku untuk selalu melihatmu. Kenapa begitu, Ra?" tanya Biru memecah keheningan itu.
...----------------...
__ADS_1