Pacar Sewaan

Pacar Sewaan
Aku Tidak Mau Putus!


__ADS_3

Malam hari itu, Kiara tidak tau bagaimana menggambarkan perasaannya. Gadis itu masih cukup terkejut karena pelukan Biru. Walaupun mereka sedang memainkan peran sebagai sepasang kekasih, tetapi pelukan itu terasa nyata.


Biru memeluk tubuhnya dengan erat sekali, seperti tidak boleh ada siapapun yang memisahkan mereka. Dengan pandangan mata kosong dan jantung berdebar, Kiara masuk ke dalam rumahnya dan Delia ternyata tertidur di sofa.


Perlahan, Kiara membangunkannya. "Ma, bangun dulu, yuk. Pindah ke kamar, di sini dingin,"


Namun sepertinya Delia lelah sekali, dia tidak bergeming saat Kiara menggoyangkan tubuhnya. Kiara kembali berdiri dan mengambil selimut dari kamarnya sendiri dan dia tutupi tubuh ibunya dengan selimut.


Teringat ejekan dari keluarga Bramasta yang mengatakan orang tuanya tidak berusaha keras sehingga mereka hidup dengan tidak layak menurut mereka. Kiara memeluk ibunya dengan erat dan dia meminta maaf dalam hati. 'Maafkan Kiara ya, Ma. Kiara belum bisa bantu apa-apa. Mama sudah menjadi mama yang sangat hebat dan kuat untuk Kiara,'


Tanpa terasa air matanya pun turun dan menetes di atas selimut. Gadis itu cepat-cepat mengusapnya, dia tidak ingin ibunya terbangun dan menemukan dia menangis.


Tak lama, seorang pria masuk ke dalam dan mengejutkan Kiara. "Lho, kok di sini, Nak?"


"Papa baru pulang kerja?" tanya Kiara dan dia membantu ayahnya membawakan tas laptop ayahnya dan mengambilkan air minum untuk pria pencari nafkah tersebut.


"Terima kasih, Nak. Papa tadi ada meeting. Mamamu ketiduran? Kecapekan mungkin, Papa juga mau langsung tidur. Eh, kau sudah makan?" tanya ayah Kiara lagi.


Kiara mengangguk. "Sudah. Papa?"


Ayah Kiara mengangguk sambil tersenyum. "Sudah, Nak. Istirahat, jangan tidur terlalu malam, nanti kau sakit,"


"Ya, Pa," kata Kiara memandangi sosok ayahnya sampai pria berpunggung lebar itu masuk ke kamar.


Rendy Pratama, nama pria itu. Sosok pria yang ramah, pekerja keras, dan bertanggung jawab. Beberapa tahun lalu, Rendy memiliki sebuah bisnis yang cukup berkembang dan dapat dikatakan masuk ke dalam salah satu 5 perusahaan terbesar di Metropole, kota tempat Kiara tinggal.


Mereka sempat merasakan hidup berkecukupan dan selepas lulus sekolah menengah atas, Rendy masih sanggup membiayai kuliah Kiara di Bright University yang terkenal kampus untuk kalangan konglomerat itu.

__ADS_1


Namun karena adanya persaingan bisnis di antara beberapa pengusaha, Rendy terkena imbas atas tuduhan penggelapan dana tanpa bukti, sehingga salah satu perusahaannya terpaksa disegel. Mendengar hal itu, para karyawan mulai panik dan satu per satu mengundurkan diri. Selebihnya, tetap bertahan. Tetapi, karena Rendy mengalami kerugian atas tuduhan tersebut, dia tidak sanggup membayar karyawannya dan terpaksa mengakhiri bisnisnya itu. Saat itulah, segalanya menjadi berubah dengan cepat.


Hal itulah yang membuat Kiara marah kepada kedua orang tua Biru. Mereka berdua tidak tahu bagaimana ayah dan ibunya berjuang hanya untuk bertahan hidup.


Keesokan harinya, di rumah keluarga Bramasta.


Dirgantara menemui Biru yang sedang bermain di kamarnya sambil memegang sebuah foto seorang gadis cantik di tangannya. "Biru, sedang apa? Boleh Papa masuk?"


"Papa sudah masuk. Kenapa minta izin lagi?" tanya Biru ketus tanpa mengalihkan pandangannya dari layar PC.


"Ini Angeline Baskara, yang pernah Papa ceritakan padamu. Cantik, 'kan?" kata Dirgantara lagi sambil menunjukkan foto Angeline tepat di depan wajah putranya.


Biru menepis tangan ayahnya dan melempar foto itu begitu saja ke sembarang arah. "Aah, Papa! Jangan menghalangi!"


Melihat kelakuan putranya, Dirgantara mencabut steker listrik dan tak sampai 1 detik, PC yang sedang asik dipandangi Biru berubah menjadi gelap.


"Kau mulai kurang ajar, Biru! Papa hanya ingin kau berpikir betapa jauhnya perbedaan di antara pacarmu dengan Angeline! Semalaman Mama dan Papa melihat foto-foto serta media sosial Angeline, dan Papa semakin tertarik kepadanya!" kata Dirgantara dengan suara cukup tinggi.


"Papa saja yang menikahi Angeline kalau begitu. Papa yang tertarik, 'kan?" kata Biru santai.


Apa pun yang terjadi, Biru sudah bertekad untuk tidak melepaskan Kiara. Dia tidak ingin menikah atau berpacaran dengan siapa pun.


Ya, Biru tidak ingin memikirkan hal-hal besar seperti itu. Usaha Oke Cupid yang baru saja dia rintis dengan Angkasa, sahabatnya, dia rahasiakan dari Dirgantara. Sifat Dirgantara yang tidak dapat menerima pendapat berbeda dari Biru, membuat pemuda itu sungkan untuk berkonsultasi dengan ayah serta ibunya.


Belum lagi sifat mereka yang suka memandang remeh pada orang lain yang berstatus lebih rendah dari mereka, membuat Biru semakin tertutup. Itulah sebabnya, Biru enggan berbicara dengan kedua orang tuanya.


"Aku sudah bilang, aku sedang jatuh cinta pada Kiara! Aku tidak mau Angelina, Angelica, Angelo, atau siapalah itu! Aku cuma mau Kiara, titik!" tukas Biru mendorong ayahnya untuk keluar kamar.

__ADS_1


Tak menyerah begitu saja, Amanda yang kini mendekati Biru di kamarnya. "Cobalah, satu kali saja, Sayang,"


Biru menghela napas panjang. Dia tampak lelah melihat ayah ibunya terus memaksa untuk bertemu dengan Angeline. "Buat anak kok coba-coba sih, Ma! Biru, 'kan, anak Mama!"


Amanda tertawa kering. "Hahaha! Anak Mama suka lucu, deh. Tapi mau bertemu dengan Angeline, 'kan? Nanti Mama atur waktunya,"


"Tidak!" tolak Biru.


Lelah dengan semua desakan, Biru menyambar kunci mobil dan hendak pergi. Namun, Dirgantara merebut kunci mobilnya dari tangan Biru.


"Papa!" tukas Biru. Emosinya perlahan naik.


"Duduk! Papa dan mama ingin bicara denganmu!" titah Dirgantara keras.


Karena tidak ada pilihan lain, Biru menuruti kemauan Dirgantara dan duduk di ruang keluarga. Televisi yang tadi menyala pun dimatikan dan membuat wajah Amanda kecewa.


"Katakan kepada kami, di mana kau mengenal Kiara?" tanya Dirgantara.


"Kampus," jawab Biru singkat. Toh kedua orang tuanya juga tidak pernah peduli tentang kehidupan kampusnya dan jawaban itu terlontar begitu saja dari mulut Biru.


"Kampusmu atau kampus dia? Papa sudah mengecek ke Bright University dan benar nama Kiara Pratama terdaftar di sana sebagai mahasiswa dengan lulusan terbaik. Papa juga sudah mengecek perusahaan tempat ay-, ...."


"Papa tidak pernah mengecek apakah aku bahagia atau tidak? Papa juga tidak pernah mencari tau, apa yang sedang terjadi denganku? Kenapa tiba-tiba sekarang Papa jadi perhatian sekali kepadaku? Lagi pula, kenapa harus memeriksa kehidupan seseorang sampai seperti itu? Papa sudah melanggar batas!" tuntut Biru.


Dia tidak menyangka perdebatan tentang tidak ingin dijodohkan justru semakin membuka sifat kedua orang tuanya, terutama ayahnya.


Saat ini, Biru merasa sangat bersalah kepada Kiara karena telah menyeret gadis itu untuk masuk ke dalam hidupnya yang rumit. "Mau Papa periksa berkali-kali pun, aku tidak mau putus dari Kiara! Saat ini, Kiara adalah alasanku untuk hidup!"

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2