
"Ra! Kiara! Tolong jelaskan padaku, kenapa kau meminta putus? Baru satu bulan, Ra. Aku sudah sesayang itu kepadamu, paling tidak, tolong jelaskan alasannya!" tukas Biru keesokan harinya.
Sejak Kiara mengirimkan pesan kepadanya dan meminta putus, Biru sulit untuk menghubungi Kiara. Datang ke kediaman kekasihnya pun, dia diusir oleh Delia. Sampai akhirnya, semalaman dia menunggu di depan rumah gadis itu hingga gadis itu keluar rumah untuk berangkat kuliah.
Biru segera keluar dari mobil dan mengejarnya. Namun, Kiara tetap acuh, seolah tidak mendengar suara orang yang memanggilnya.
"Kiara! Ra! Kenapa, sih? Ra, ayolah!" tukas Biru masih mencoba untuk membuat gadis yang dicintainya itu bicara.
Akan tetapi, berkali-kali juga Kiara menepiskan tangannya dan tetap berjalan menjauhi Biru. Sampai pada akhirnya, Biru kesal, dan nenghadang langkah gadis yang hari itu tampak manis dengan mengenakan kemeja putih serta rok midi sepanjang lutut dan sepatu kets.
"Aku butuh bicara denganmu! Sekarang!" kata Biru, matanya mengunci manik Kiara dan langkahnya siaga mencegah Kiara untuk melangkah.
"Aku ada bimbingan skripsi, tidak ada waktu untuk bicara denganmu, Bi!" kata Kiara tegas.
Biru tidak mau mengalah, yang menarik tangan Kiara dan memaksanya untuk masuk ke dalam mobil. "Aku akan mengantarmu dan selama itu, tolong jelaskan kepadaku apa maksud pesanmu tadi malam!"
Ya, malam itu Kiara memang mengirimkan pesan kepada Biru dan mengatakan kalau sebaiknya mereka mengakhiri hubungan mereka yang baru seumur jagung.
Setelah ayahnya menceritakan tentang alasan mengapa dia menbenci keluarga Biru membuat hati Kiara sakit, pedih, kecewa, tetapi di sisi lain, dia sudah terlanjur mencintai Biru dan tidak ingin berpisah dengan pria itu.
Namun, dia juga tidak ingin terus berhubungan dengan keluarga Bramasta yang telah mengkhianati ayahnya dan membuat mereka hidup dalam kesulitan selama lebih dari 5 tahun terakhir ini.
Hatinya sakit setiap kali dia mengingat betapa ibunya harus berjuang dengan keras demi mendapatkan uang tambahan dan sakit di hatinya bertambah kala Kiara teringat ucapan orang tua yang Biru yang mengatakan kalau kedua orang tuanya tidak bekerja terlalu keras sampai mereka tidak sanggup memberinya pakaian bermerk untuk Kiara.
Padahal keluarga Bramastalah yang membuat hidup mereka menjadi susah seperti sekarang. Sampai kemarin, Kiara berjuang melupakan kalau Biru adalah anggota Bramasta dan berkat perjuangannya itu, Kiara sanggup memberikan rasa sayang kepada putra tunggal Bramasta.
Sekarang, dia tidak tahu ke mana dia harus membuang rasa sayang itu. Apalagi saat ini, Biru tepat berada di sampingnya dan menuntut penjelasan darinya.
__ADS_1
"Katakan kepadaku, apa yang terjadi, Ra? Aku tidak mau putus darimu," tanya Biru yang sudah setengah mendesak Kiara karena sedari tadi, gadis itu hanya diam dan menatap ke depan.
Kiara berdeham. "Aku tidak dapat menceritakan padamu apa yang sesungguhnya terjadi. Maksudku belum, karena aku harus mencari tau tentang sesuatu,"
"Apa itu?" desak Biru lagi tak sabar.
Namun, Kiara menggelengkan kepalanya lalu kembali terdiam. Dia tidak ingin menangis di depan pria yang dicintainya itu. Maka dari itu, Kiara selalu melihat ke arah lain dan menghindari tatapan mata Biru.
Setibanya di kampus, Biru kembali bertanya kepadanya. "Jadi, kau tetap tidak mau bercerita kepadaku dan tetap akan memutuskan hubungan kita?"
Untuk pertama kalinya sejak pagi tadi, netra mereka saling bertemu, dan serta merta, Kiara memeluk Biru dengan erat, seakan tidak ingin terlepas dari pelukan itu.
"Maaf, aku masih mencintaimu, Bi, tapi keadaan mengharuskan kita untuk tidak saling bertemu. Selain itu, aku sedang berusaha untuk membencimu. Ternyata susah sekali membencimu," kata Kiara suaranya tersekat. Gadis itu sadar air matanya akan segera jatuh, maka, dia cepat-cepat mengusap matanya dan memeluk Biru lebih erat lagi. "Kumohon, biarkan aku memikirkan ini dulu sendiri. Jika sudah saatnya dan aku sudah siap, aku akan mendatangimu. Kalau kau bersedia, tunggulah aku,"
Biru melepaskan pelukan Kiara dan mengunci kedua netra berkaca-kaca milik gadis itu. Perlahan, dia mengecup benda kenyal sang gadis dan memagutnya lembut. "Sampai kapan pun, aku akan menunggumu, Ra,"
Setelah selesai, dia segera menunggu Renatha yang masih mengikuti mata kuliah hingga sore hari nanti. Dia sudah menceritakan kepada sahabatnya itu kalau antara dia dan Biru sudah tidak memiliki hubungan lagi.
Tentu saja, Renatha terkejut dan dia berjanji untuk menghibur Kiara sepanjang hari ini. Untuk itulah, Kiara menunggu gadis itu untuk menagih janjinya.
Tak beberapa lama kemudian, Renatha setengah berlari menghampiri dan memeluknya. "Ra, are you oke?"
Kiara pun tersenyum dan tertawa mendapatkan perhatian manis dari sahabatnya itu. "I'm oke, Re. Thank you, finally, aku bisa tertawa sejak semalam. Kau lihat mataku? Aku sudah seperti panda, 'kan?"
"Sangat! Ayo, aku akan mentraktirmu! Katakan saja kau ingin menghilang ke mana?" tanya Renatha sambil merangkul pundak Kiara dan mengajaknya berjalan keluar.
"Tempat karaoke," jawab Kiara.
__ADS_1
Renatha mengangguk dengan bersemangat menyanggupi permintaan sahabat baiknya itu. Mereka pun pergi dengan berjalan kaki, karena kampus tempat mereka kuliah tidak jauh dari Starlight Mall.
Setibanya di sana, mereka segera mereservasi ruangan karaoke dan segera masuk ke dalam ruangan temaram tersebut.
Untuk membalas kebaikan Renatha, Kiara memesan makanan serta minuman untuk mereka berdua dan dia juga mempersilakan Renatha memilih lagu terlebih dahulu.
"So?" tanya Renatha setelah dia berhasil menyanyikan satu buah lagu.
Kiara menceritakan segalanya dengan lancar. Mulai dari saat dia memperkenalkan Biru kepada kedua orang tuanya, reaksi ayahnya yang serupa dengan reaksi yang diberikan oleh ayah Biru, dan cerita ayahnya tentang kelicikan yang dilakukan oleh Dirgantara Bramasta sehingga mereka mengalami kebangkrutan dan hidup seadanya seperti saat ini.
"Aku tidak marah karena perubahan dalam hidupku. Aku marah karena apa yang telah dia ucapkan tentang orang tuaku. Padahal karena dialah, hidup kami menjadi seperti saat ini!" kata Kiara sambil tersenyum pahit.
Butiran air matanya berjatuhan dan gadis itu tidak berusaha untuk menghapusnya. Hanya di depan Renathalah, dia bisa menjadi dirinya sendiri.
"Ra, Biru tau?" tanya Renatha.
Kiara menggelengkan kepalanya lemah. "Tidak akan ada yang berubah walaupun dia mengetahui apa yang terjadi. Dia hanya akan marah kepada orang tuanya, hanya itu, 'kan?"
Renatha menggeleng. Gadis itu menatap Kiara lekat-lekat, wajahnya berubah menjadi serius. "Akan ada yang berubah, Ra. Biru bukan pria yang akan memandang masalah ini dengan sesaat, percayalah. Beritahukan saja alasan mengapa kau ingin putus darinya."
"Paling tidak, kau bisa mendapatkan informasi dari ayahnya Biru. Kau jadi memiliki dua pandangan," kata Renatha lagi.
Kiara terdiam sesaat, dia merenungkan usulan dari sahabatnya itu. "Kau benar. Baiklah, setel, ...."
"Sekarang! Hubungi Biru sekarang dan katakan kau menunggunya di kampus besok selesai kau sidang! Besok kau sidang, bukan? Rock them all, Girl!" kata Renatha memberikan semangat.
Air mata dengan berbagai macam perasaan terus berjatuhan dari sudut mata Kiara. Dia mengangguk dan memeluk sahabatnya itu sekali lagi. "Thank you, Re,"
__ADS_1
...----------------...