Pacar Sewaan

Pacar Sewaan
Back Street


__ADS_3

"Aku tidak bisa menerima cintamu,"


"Tidak bisa!"


"Tidak bisa!"


"Tidak bisa!"


Kata-kata itu terus terngiang-ngiang di telinga Biru. Bagaimana bisa Kiara menolaknya bahkan memintanya untuk tidak lagi saling bertemu? Mana bisa dia tidak bertemu dengan Kiara! Penolakan Kiara membuatnya semakin penasaran kepada gadis itu.


Setelah patah hati malam itu, dia memanggil Angkasa untuk menemaninya menghabiskan malam. Angkasa pun tak habis pikir mengapa Kiara bisa menolaknya. "Dia bukan gadis biasa, Bi. Coba kalau kau mengungkapkan cintamu pada Angeline, atau siapa itu gadis yang sempat dekat denganmu itu, pasti mereka akan menerimanya dengan senang hati,"


Biru memesan minuman beralkohol tinggi untuknya dan untuk Angkasa. Pemuda itu sudah menenggak habis satu gelas penuh minuman yang tergolong keras tersebut. Wajahnya memerah dan bicaranya juga sudah mulai meracau.


"Tapi, aku cinta, Sa! Aargghh! Ini pasti karena Dirgantara Sialan itu!" kata Biru keras. Karena pengaruh alkohol, dia tidak dapat mengontrol bicaranya. Apa yang dia pikirkan, itu yang akan dia keluarkan. "Aku belum pernah menemukan gadis seperti Kiara! Awalnya kupikir dia kampungan, tapi semakin aku mengenalnya, dia semakin berkelas! Dia memang tidak menyukai hal-hal feminim, Sa. Waktu itu aku memaksanya untuk berjalan anggun dengan sepatu hak tinggi sampai tungkai kakinya lecet. Jahat sekali aku saat itu, Sa,"


Biru menangis sesenggukan sambil memeluk Angkasa. "Sa, hatiku sakit sekali, Sa! Aku perlu ke rumah sakit dan dirawat entah sampai kapan. Aku butuh dokter cinta,"


Angkasa mendengus menahan tawa. Efek alkohol pada sahabatnya memang membuat Biru berubah menjadi melankolis. Padahal biasanya, pemuda itu memiliki kesan cuek dan dingin, jadi terkadang Angkasa bingung bagaimana menghadapi Biru yang sedang mabuk.


Masih di malam yang sama, Kiara pergi ke rumah Renatha untuk menceritakan apa yang terjadi. Namun sejak gadis itu menginjakkan kaki di rumah Renatha, belum ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.


Kiara masih terkejut dan terguncang karena pengungkapan cinta yang tiba-tiba itu. Tak pernah dia berpikir kalau Biru memiliki perasaan lebih dari seorang teman kepadanya.


"Re, Biru menyatakan cintanya kepadaku. Aku jadi sadar kalau aku juga sudah jatuh cinta kepadanya. Selama ini, aku tidak pernah menyadari hal itu," kata Kiara untuk pertama kalinya dan saat dia bicara, air matanya mengalir dengan deras membasahi pipinya.


"Bagaimana, Ra?" tanya Renatha.


Perlahan-lahan Kiara menceritakan kembali apa yang terjadi. Mulai dari Biru datang ke rumahnya dan mengungkapkan cinta di sana, tetapi Kiara menganggap itu sebuah candaan. Kemudian, gadis itu juga bercerita tentang ajakan makan malam Biru dan ternyata, laki-laki itu sudah menyiapkan kejutan untuknya.

__ADS_1


Tak hanya itu, Kiara pun bercerita tentang apa yang dia rasakan terhadap Biru. Sejak pertama kali dia berdebar karena Biru memeluknya dan memintanya bertahan, betapa bahagianya dia setiap kali Biru memujinya, dan betapa gadis itu berharap waktu berhenti saat dia bersama Biru.


Kiara yang tak pernah dekat dengan seorang pria menganggap rasa itu wajar dan biasa-biasa saja dan saat perasaan itu membesar, Kiara berusaha mengalihkannya.


"Jadi? Kau juga menyukainya tapi kau tidak sadar?" tanya Renatha berusaha menyimpulkan.


"Mungkin," jawab Kiara.


Kemudian, gadis itu mengungkapkan isi hatinya saat orang tua Biru meminta dia untuk menjauhinya karena mereka akan mengadakan pesta pertunangan dengan Angeline.


"Aku baru sadar kalau aku menyukai Biru saat orang tuanya memintaku untuk menjauh. Aku merasa sesak, sedih, jatuh, hancur, dan segala yang buruklah, Re," kata Renatha lagi.


Renatha menghembuskan napasnya panjang. Dia memeluk sahabatnya dan berusaha untuk berbagi rasa dengan gadis itu. "Ra, kalau kau kuat melupakannya, lupakanlah. Tapi, kalau kau sulit untuk melupakannya, nikmati saja perasaan cintamu sebentar lagi. Karena segalanya berproses dan membutuhkan waktu,"


Kiara menumpahkan semua yang dia rasakan malam itu di bahu sahabatnya. Baru kali ini dia merasakan rasa sakit yang luar biasa dan belum pernah dia rasakan sebelumnya.


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Biru sudah rapi dan siap untuk pergi. Amanda dan Dirgantara yang melihat putra mereka, segera menyapanya. "Mau ke mana, Sayang?"


"Bukan urusan Papa! Masih bagus aku pulang, tadinya aku tidak mau pulang!" jawab Biru kasar dan tanpa memerdulikan panggilan orang tuanya, Biru menyalakan mesin kendaraannya, lalu melajukannya dengan kecepatan tinggi.


Pemuda itu sudah membuat keputusan dan keputusan yang dibuat adalah dia tidak akan menyerah akan cintanya. Maka pagi itu, dia hendak menjemput Kiara di rumahnya. Karena mereka berdua cukup dekat, Biru sudah hapal dengan jadwal kuliah Kiara.


Setibanya Biru di sana, seperti biasa dia tidak memarkirkan mobil tepat di depan rumah gadis kesayangannya itu, melainkan di dua blok sebelum rumah Kiara. Sambil menunggu, pemuda itu terus melirik jam tangannya dan berharap Kiara belum berangkat.


Tak beberapa lama kemudian, seorang pria berwajah cerdas keluar dari rumah itu. Hatinya bersorak saat melihat Kiara masih ada di rumah.


Biru menyipitkan matanya, mungkin itu ayah KiarA. Wajahnya mirip dengan Kiara. Setelah beberapa menit, Kiara pun keluar dari rumah itu. Biru buru-buru keluar dari mobilnya dan mengejar gadis itu.


"Ra! Kiara!" kata Biru berseru dan menangkap tangan Kiara.

__ADS_1


"Yang kemarin belum jelas, ya? Aku meminta padamu untuk menjauhiku, Bi!" kata Kiara menegaskan.


Namun sayangnya, tatapan mata Kiara tidak setajam ucapannya. Biru yang pintar membaca situasi mendekatkan wajahnya pada gadis itu dan mendaratkan sebuah kecupan manis di bibir Kiara.


Gadis itu pun tertegun dan secara tak sadar memegangi bibirnya sesaat setelah Biru mengecupnya. "K-, ...."


"Ya! Aku tau kau juga menyukaiku, Ra. Kalau kau tidak menyukaiku, kau pasti sudah menamparku bahkan memukulku dengan kencang, atau bahkan berteriak mesum kepadaku. Tapi, kau diam saja dan wajahmu memerah," kata Biru sambil tersenyum.


"T-, tidak! Maksudku bukan begitu, Pria Mesum! Aku ti-, ...."


Lagi-lagi, Biru mengecupnya. Kali ini, dia memagut lembut bibir Kiara sedikit lebih lama. Hatinya bersorak kala Kiara membalas pagutannya.


"Katakan saja kau menyukaiku, Ra," kata Biru dengan senyum kemenangan.


Kiara menundukkan kepalanya. Wajah gadis itu masih merona kemerahan karena kecupan mendadak yang dilakukan oleh Biru.


"Aku memang menyukaimu, tapi kau akan bertunangan. Aku tidak mau menjadi penghalang antara hubunganmu dengan Angeline," kata Kiara menjawab pertanyaan Biru tadi.


Sontak saja Biru tertawa lepas. Hatinya menjadi jauh lebih ringan saat mendengar pengakuan Kiara, lalu dia memeluk gadis itu dengan gemas. "Kau tidak pernah menjadi penghalang, Ra. Angeline-lah yang menghalangi hubungan kita,"


"Jadi?" tanya Biru sesaat setelah dia melepas pelukannya.


Wajah Kiara kembali bersemu dan dia tersipu malu. "Jadi apa?"


"Kita resmi berkencan, 'kan? Untuk saat ini, kita simpan hubungan kita menjadi sebuah rahasia. Aku akan meyakinkan kedua orang tuaku tentang hubungan kita," jawab Biru.


Kiara menganggukan kepalanya. Ribuan kembang api seakan menyala di hatinya dan seribu kupu-kupu terbang menggelitik semua organ tubuhnya. "Jadi? Kita pacaran diam-diam?"


"Ya, hanya kita yang tau rahasia ini," jawab Biru sambil menautkan jari-jarinya di jari-jari milik Kiara.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2