
Dalam beberapa menit yang menegangkan, Kiara akhirnya tertawa. "Hahaha! Tidak usah menjahiliku! Cepat katakan, apa yang ingin kau sampaikan kepadaku?"
Biru pun ikut tertawa. "Hahaha! Tidak ada. Aku hanya mengkhawatirkanmu. Ponselmu tidak aktif dan ketika aku bertanya pada temanmu, dia marah. Ya sudah, aku datang saja ke sini,"
"Hanya itu?" tanya Kiara lagi.
Biru mengangguk, kemudian dia kembali berbicara, "Tidak juga, sih. Aku ingin mengajakmu makan malam. Anggap saja sebagai hadiah karena kau telah bekerja secara profesional selama ini,"
Gadis itu memutarkan kedua bola matanya ke atas. "Boleh saja, kebetulan ada yang ingin kusampaikan juga padamu. Kapan?"
Wajah Biru tiba-tiba saja cerah dan berseri-seri. Sebuah ide terlintas di benaknya. "Malam ini. Aktifkan ponselmu dan akan kukirimkan alamatnya nanti,"
Selepas berpamitan dengan Kiara, Biru menghubungi Angkasa. Pria itu mengatakan akan datang ke kantor Oke Cupid untuk membicarakan proyek besar yang akan dia kerjakan.
Ya, pemuda itu akan memberikan kejutan kepada Kiara saat makan malam nanti. Biru kembali berpikir, apa yang tadi dilakukan sebenarnya sangat bodoh. Bagaimana mungkin dia bisa mengungkapkan cinta secara mendadak seperti itu? Beruntunglah Kiara hanya menanggapinya sebagai sebuah lelucon.
Malam ini, Biru berharap dapat mengungkapkan rasa cintanya dengan benar, sehingga Kiara dapat melihat kesungguhan hatinya.
Entah sejak kapan, Biru merasakan sesuatu yang lain saat dia bersama Kiara. Selama ini, dia terus menolak perasaan yang datang kepadanya. Akan tetapi, Dia teringat kata-kata dokter Alex yang mengatakan, jika semakin dia menolak perasaan cinta, maka, semakin besar pula perasaan itu akan berkembang.
Pada akhirnya, tanpa dia sadari sosok Kiara sudah merajai hati dan hidupnya. Biru pun melengkungkan senyum di wajahnya mengingat hari-harinya menjadi berwarna saat dia bersama dengan Kiara. Hatinya menggeliat ketika laki-laki itu mengingat Kiara memainkan piano dan gitar miliknya.
Setibanya di tempat Angkasa, Biru terpaksa menunggu, karena Angkasa sedang melayani seorang wanita yang mungkin calon klien mereka.
"Sa," bisik Biru.
Angkasa melirik dan mengangguk "Oke, tunggu,"
Selagi Angkasa melayani tamu, Biru membalik papan toko menjadi 'So sorry, we're closed' tanpa sepengetahuan Angkasa.
Setelah tamu itu pergi, Biru menyeret Angkasa keluar kantor Oke Cupid. "Aku ingin minta bantuanmu. Ikut aku!"
"Lho, kantornya?" tanya Angkasa menatap kantor berwarna merah muda dengan simbol hati besar dan cupid di depan pintunya.
"Ah, tidak perlu kau pikirkan dulu! Toh aku yang menggajimu," kata Biru bersemangat. Dia pun mendorong Angkasa untuk cepat-cepat masuk ke dalam mobilnya.
Angkasa yang tak paham hanya bisa pasrah diperlakukan seperti itu oleh Biru. Entah apa yang terjadi dengan pria itu, Angkasa tetap menuruti semua perkataan Biru.
"Sa, aku punya mega proyek dan aku mau kau membantuku," kata Biru sambil fokus mengemudi.
__ADS_1
Angkasa mengangguk perlahan. "Oke, then? Proyek apa itu?"
Biru menyeringai lebar. "Proyek pengungkapan cinta! Keren, 'kan? Hahaha! Sahabatmu ini sedang jatuh cinta, Sa! Tadinya, aku tidak pernah sadar kalau aku jatuh cinta, tapi ternyata jatuh cinta itu indah,"
"Jatuh cinta dengan siapa? Angeline? Finally, Biru mengungkapkan cint-, hmmmph! Apa, sih!" tukas Angkasa kesal. Bagaimana dia tidak kesal, Biru membekap mulutnya saat dia bicara.
"Ya, kau asal bicara saja! Pernahkah aku mengatakan kepadamu aku menyukai Angeline Gatal itu! Never, Sa!" balas Biru panas. "Aku jatuh cinta pada Kiara! Kiara Pratama! Yes, Kiara klien pertama kita! Jangan kau pasang wajahmu seperti itu!"
Saat Biru mengatakan dia menyukai Kiara, alis mata Angkasa terangkat ke atas dan raut wajah pria itu seakan menyangsikan apa yang baru saja dia dengar. "Kenapa Kiara? Maksudku, sah-sah saja kau jatuh cinta kepadanya, tapi kenapa dia?"
Biru kembali menyeringai. "Karena Kiara adalah Kiara. Oke, kita sudah sampai,"
Kedua laki-laki muda itu turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam mall. Di sana, Biru membelikan Kiara sebuah cincin berlian mewah dan atas saran Angkasa, Biru memilih cincin yang paling sederhana yang ada di toko itu.
"Kenapa yang murah? Aku lebih suka yang berbentuk hati dengan berlian kecil-kecil berada di dalam hatinya," kata Biru memprotes usulan sahabatnya.
"Kiara bukan tipe gadis yang menyukai barang mewah. Dia manis, pintar, dan sederhana. Apalagi kalau kita melihat latar belakang keluarga Kiara yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja," kata Angkasa bijaksana.
Biru mengangguk dan setuju dengan pendapat Angkasa. Lalu, dia teringat kalung yang pernah dia berikan pada Kiara dan sampai saat ini, kalung itu tidak pernah dipakai oleh gadis itu. Padahal harga seuntai kalung itu tidaklah murah.
Selain cincin, Biru juga ingin menghadiahi sesuatu yang sesuai dengan kepribadian gadis itu.
Ucapan Angkasa itu mendapatkan lirikan maut dari Biru. Mana mungkin dia akan memberikan Kiara sebuah buku sebagai wujud cintanya pada gadis itu.
Biru kemudian berputar-putar dan mengelilingi seluruh mall. Satu per satu toko dia masuki dan dia mengira-ngira apakah barang yang dia pegang saat itu cocok dengan kepribadian Kiara.
Kiara tidak menyukai pakaian mewah ataupun pakaian yang menurut saya tidak nyaman dia pakai. Kiara juga tidak menyukai perhiasan-perhiasan yang dipakai oleh gadis lain. Gadis itu juga tidak menyukai tas ataupun sepatu bermerek yang sering dipakai oleh Angeline.
"Apa dong, Sa? Aku menyerah," tanya Biru lelah.
Mata Angkasa kembali menjelajahi seisi mall tersebut dan tak lama, dia menepuk pundak Biru. "Boneka saja dan cokelat,"
"Ide bagus," sahut Biru. Kemudian dia pun segera berjalan menuju toko boneka untuk membelikan Kiara sebuah boneka beruang yang super besar.
Setelah segalanya dia dapatkan, Biru pun mencari restoran yang akan dia pakai untuk menjalankan misinya malam itu. Angkasa menyarankan untuk makan malam di restoran western atau restoran lokal.
Akhirnya, Biru memilih untuk menjamu Kiara di sebuah restoran Western yang cukup terkenal di pusat kota. Dia pun menyewa satu restoran itu untuk Kiara dan dirinya.
Tak puas dengan restoran, Biru pun meminta Angkasa untuk memanggil event organizer untuk mendekorasi seluruh restoran itu dengan tema cinta.
__ADS_1
Setelah segala persiapan selesai, Biru memberitahukan kepada Kiara untuk bersiap-siap karena hari sudah menjelang malam dan dia mengirimkan alamat restoran tersebut.
"Doakan aku, Sa," kata Biru.
"Pasti dan good luck," balas Angkasa.
Biru pun kembali ke rumahnya untuk bersiap-siap. Dia memakai jas one set terbaiknya dan tak lupa dia merias dirinya sendiri supaya terlihat baik di mata Kiara.
Pukul 7 malam pun tiba dan Kiara sampai di restoran itu lebih dulu. Dahinya mengerut saat dia harus melewati jalan setapak yang dihiasi lilin kecil di kanan kiri sisi jalan.
"Nona Kiara?" tanya salah seorang pelayan dengan pakaian resmi.
Kiara menganggukan kepalanya dengan heran. Bagaimana bisa pelayan itu mengetahui namanya. Pelayan itu segera menunjukkan tempat duduk yang sudah dipesan khusus oleh Biru.
Sambil menunggu, pelayan yang lain memberikan dia segelas minuman. Kiara pun mengucapkan terima kasih. Karena tak kunjung datang, Kiara mengirimkan pesan kepada Biru. "Kau di mana?"
("Aku terjebak macet di jalan. Aku sudah memesan makanan untukmu. Makan saja dulu,") jawab Biru.
Benar saja, tak lama, makanan pun datang. Chicken salad dengan roti baguette serta sup asparagus. Kiara tidak memakan hidangan tersebut. Sampai akhirnya biru menghubungi dia dan mengatakan supaya gadis itu makan lebih dulu tanpa menunggunya.
Karena lapar akhirnya Kiara memakan hidangan tersebut. Setelah selesai pelayan segera mengambil piring-piring kosong dan menyajikan kembali makanan utama untuk gadis itu. Sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh biru, Kiara pun segera memakan dan menghabiskannya sampai tiba waktunya makanan penutup pun disajikan.
Sepotong red velvet cake tersaji dengan indah di meja. Hiasan yang mendampingi kue tersebut sangatlah cantik sehingga Kiara merasa tidak tega untuk memakannya.
Namun, di atas kue itu terdapat sesuatu yang menarik perhatian Kiara. Dia mengambil sendok dan mengambil sesuatu yang dia lihat tadi.
Sebuah cincin. Tiba-tiba, lampu restoran itu menjadi temaram dan tak lama terdengar suara alunan musik mengalun lembut. Lagu yang pernah Kiara mainkan saat berada di rumah Biru.
Kiara beranjak dari kursinya dan mencari sumber suara. Dari kejauhan seseorang datang dengan membawa boneka beruang besar seukuran dengan dirinya.
"Hai, Ra," sapa.orang itu.
"Biru? Apa yang kau lakukan? Apa maksud semua ini?" tanya Kiara heran.
Biru menghela napasnya. "Aku menyukaimu, Kiara, dan aku mohon, jadilah kekasihku,"
Kiara menggelengkan kepalanya. "Maafkan aku. Aku tidak bisa. Tujuanku datang ke sini untuk mengatakan supaya kita sudahi saja hubungan kita sampai di sini. Maafkan aku,"
Setelah menjawab itu, Kiara pun berlalu meninggalkan Biru termenung dengan musik yang masih mengalun. "Shitt!"
__ADS_1
...----------------...