Pacar Sewaan

Pacar Sewaan
Pengakuan Biru


__ADS_3

Malam hari itu, Biru melampiaskan amarahnya kepada Angeline. Dia kesal karena mengapa orang tuanya harus menjodohkan dia dengan wanita manja itu, dia kesal karena mimpi yang sudah dia rajut bersama Kiara, kini hanya tinggal benang-benang yang terurai dan nyaris terputus.


Menurut Biru segalanya berantakan dan kacau. Laki-laki itu sudah tidak memiliki harapan atau mimpi lagi. Maka, setelah satu bulan tinggal bersama dengan Angeline, Biru memutuskan untuk keluar dari rumah tersebut.


Yuna dan Rega menghargai keputusan Biru yang mengatakan kalau dia merindukan kedua orang tuanya dan pemuda itu mempersilakan keluarga Baskara untuk memberitahukan orang tuanya kalau dia berada di sana.


Namun tidak dengan Angeline, dia menangis meraung-raung dan mengurung diri di kamar. Wanita cantik itu menolak untuk keluar. "Tidak! Aku mau dia tetap di sini!"


Yuna menghela napas dan memperpanjang masa kesabarannya. "Njel, kau bisa ke rumah Biru kapan pun kau mau. Dia juga punya orang tua, Njel,"


"Aku tidak mau tau! Pokoknya Biru tidak boleh pergi ke mana-mana, titik! Kalau Biru pulang, aku juga kabur!" tukas Angeline dari kamar.


Bukan Biru namanya kalau dia peduli pada apa pun ancaman Angeline. Laki-laki itu tetap berpamitan dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Yuna dan Rega yang sudah menampung dirinya selama sebulan.


Dengan ponselnya, dia menghubungi Angkasa dan meminta teman baiknya itu untuk menjemput di rumah Angeline. Tak beberapa lama kemudian, Angkasa pun datang dengan mobilnya.


"Cari alamat ini," titah Biru sesaat setelah dia masuk ke dalam mobil sambil menyerahkan selembar kertas yang sudah lecak kepada Angkasa.


"Alamat siapa ini?" tanya Angkasa lagi sambil mengerutkan keningnya.


"Nanti juga kau akan tahu," jawab Biru dingin.


Sejak berita tentang pertunangan Kalandra Mahendra dengan Kiara Pratama naik ke publik, Biru sudah memutuskan untuk mengungkap kebenaran yang dia temukan kepada Rendy Pratama.


Dia tak ingin kalah cepat dari Kala yang berniat memberikan saham kepada Rendy. Dia tak ingin Kala merebut Kiara dari hidupnya. Tidak!


Oleh sebab itu, dia mengumpulkan keberanian untuk berbicara kepada Rendy dengan secuil informasi yang dia dapatkan dari Kiara, Biru berusaha menemukan titik lokasi kediaman Rendy Pratama yang baru.


Setelah keluar dari tol dan memutari beberapa komplek serta beberapa kali salah arah, akhirnya mereka menemukan komplek perumahan yang dimaksud oleh Biru.


"Yakin di sini?" tanya Angkasa ragu.


Biru mengangguk. Perumahan ini benar-benar sesuai dengan kepribadian keluarga Pratama. Tidak terlalu sepi, tidak terlalu ramai, dekat dengan segala fasilitas umum, dan yang terpenting, tidak jauh dari tempat tinggal putri mereka.

__ADS_1


Mereka pun bertanya kepada beberapa penjaga yang terlihat sedang berkumpul di pos penjaga. Salah satu dari mereka menghampiri mobil Angkasa dan menanyakan ke mana tujuan mereka.


"Rendy Pratama? Kalian siapa dan ada kepentingan apa? Kemarin juga ada yang mencari beliau," kata penjaga itu.


Kemarin? Biru dan Angkasa pun saling bertukar pandang. Apakah Kiara sudah mempertemukan Kala dengan kedua orang tuanya?


"Kami teman yang kemarin," jawab Angkasa sekenanya.


Sontak saja, pemuda itu dihadiahi tatapan tajam dari Biru. Namun, cepat-cepat Biru tersenyum kepada si penjaga yang bernama Marlin itu.


"Benar, Pak Marlin. Teman kami itu sedang tidak enak badan, jadi kami yang ditugaskan untuk melanjutkan pekerjaan yang belum selesai," kata Biru sepenuhnya berbohong.


Tanpa basa-basi, pria berkumis kumbang itu mempersilakan mereka masuk dengan meninggalkan kartu identitas mereka.


Angkasa pun mengarahkan kemudi mobilnya berdasarkan instruksi bapak Marlin tersebut. Komplek perumahan itu hanya berisi beberapa rumah saja dan ada sebuah taman besar di tengah-tengah komplek perumahan itu serta berbagai macam fasilitas olahraga terpasang di sana.


Tak lama, Angkasa sudah menepikan mobilnya di depan sebuah rumah yang memiliki taman yang tidak terlalu besar, tetapi terlihat sangat asri, dan indah dipandang mata.


"Wah, berapa kira-kira gaji si Kiara sekarang? Sampai bisa membelikan rumah untuk orang tuanya seindah ini?" tanya Angkasa sambil mengangumi rumah sederhana itu. Lalu, dia mengarahkan pandangannya pada pemuda yang sedang duduk di sampingnya. "Apa kau tidak menyerah saja?"


Dengan penuh percaya diri, laki-laki yang mengenakan lakos kuning itu menekan bel pintu kediaman Pratama. Tak beberapa lama kemudian, seorang wanita yang sempat dikenali Biru berpakaian lusuh, kini menyambutnya dengan hangat dan berpakaian dengan rapi, sehingga kecantikan wanita itu terpancar di wajahnya.


"Halo, oh, Bramasta! Silakan masuk, Nak," kata wanita itu dengan ramah.


Biru melangkah masuk mengekori wanita cantik itu. Rumah itu terasa hangat dan entah mengapa, Biru tidak ingin pergi dari rumah itu.


Sambil membawa gelas berisi air dingin serta kudapan buatan tangan, wanita itu tersenyum ramah kepada Biru. "Kiara sedang tidak ada. Oh, iya, darimana kau tau alamat rumah kami? Apa kau sudah bertemu dengan Kiara?"


"Sudah, Tante. Kiara yang memberitahukan alamat ini kepada saya," kata Biru. "Om Rendy ada?"


Lagi-lagi wanita itu tersenyum dan mengangguk. "Ada, kebetulan hari ini ayah Kiara sedang bekerja dari rumah. Sebentar, ya,"


Beberapa menit kemudian, keluarlah seorang pria berwajah lelah, tetapi di balik wajah lelahnya itu terpancar keramahan dan garis-garis ketampanan masih terlihat jelas di wajahnya.

__ADS_1


Biru segera beranjak dari sofa dan memberikan salam kepada pria itu. "Om, apa kabar?"


Pria bernama Rendy itu segera memeluk Biru ke dalam dekapannya dan mempersilakan pemuda itu untuk duduk kembali. "Aku tau, kau pasti punya tujuan datang ke sini,"


Biru pun memberitahukan maksud kedatangannya kepada Rendy. Dia menceritakan segala yang sudah dia kumpulkan dan dia temukan kepada ayah dari gadis yang dia cintai itu.


Bagaimana dia mencari tahu tentang Bramtama Coorporation, tentang bagaimana perusahaan itu berkembang dengan sangat pesat hanya dalam hitungan tahun, tentang bagaimana Biru sudah mengetahui akal licik ayahnya saat dia melihat laju grafik saham yang mereka miliki serta saham milik Baskara, dan bagaimana akhirnya, Biru mengetahui kalau ayahnyalah otak dari kebangkrutan Rendy Pratama.


Dia juga bercerita tentang bagaimana cara yang sekiranya dapat ditempuh oleh Rendy supaya pria itu mendapatkan haknya atau paling tidak mendapatkan ganti rugi atas apa yang sudah menimpanya.


Setelah bercerita, Biru tercengang saat melihat Rendy tersenyum. "Aku yang bersalah, Anak Muda. Aku telah membuat anakku menderita saat itu karena mengusir dan melarangnya berhubungan denganmu,"


"Sekarang, aku sudah melupakan masalah itu dan aku sudah mengikhlaskan segalanya. Tidak ada dendam, tidak ada kesal, tidak ada kecewa. Aku hanya berharap kedamaian dalam hidupku," kata Rendy menyambung.


"T-, tapi bagaimana hubunganku? Maks-, ...."


Rendy mengangguk sambil tertawa kecil. "Hahaha, aku paham sekarang. Kau melakukan itu untuk Kiara. Ah, maafkan aku yang terlambat menyadarinya. Berhubungan baiklah dengan dia, Anak Muda,"


Rona merah menjalari wajah Biru. Dia mengulum senyumnya. Bagaimana cara meminta izin kepada Rendy kalau dia ingin menjalin hubungan lebih dari seorang teman dengan Kiara? Lalu kemudian, dia teringat dengan berita pertunangan Kiara dengan Kala. Biru pun menanyakan tanggapan Rendy atas berita itu.


Lagi-lagi Rendy tersenyum. "Aku tau berita itu dan kebetulan aku mengenal Rajash dengan baik. Kami sempat bermitra dan saat ini, dia mengajakku untuk bekerjasama. Tapi kukatakan, andaikan aku menyetujui kerjasama bersamanya, itu berarti di luar hubungan anak-anak kami. Artinya, aku membebaskan putriku berteman dan berhubungan dengan pria manapun yang menurutnya baik dan membuat dirinya nyaman,"


Rendy juga menambahkan, jika Biru ingin mendapatkan putrinya, silakan bersaing dengan Kala dengan cara yang sehat, selayaknya laki-laki sejati.


"Jangan pakai cara licik dan kotor. Terutama, minta izinlah pada keluargamu. Kurasa, Kiara tidak nyaman dengan keluargamu dan kulihat, dia cukup nyaman dengan Rajash," kata Rendy lagi menambahkan.


Biru menggigit bibir bawahnya. Mau tidak mau, dia memang harus pulang dan meminta restu dari kedua orang tuanya supaya mereka bisa menerima Kiara dengan baik.


Setelah berpamitan, dia membangunkan Angkasa yang tertidur karena menunggunya. "Sa, bantu aku! Aku punya misi!"


"Misi apa?" tanya Angkasa.


Alih-alih menjawab, Biru tersenyum puas. Ya, dia sudah menyusun strategi ke arah mana dia akan bergerak.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2