
Di hari yang sama, Angeline datang menemui Biru. Hari itu, Angeline sengaja memakai riasan untuk membuat Biru semakin melihatnya. Tak hanya riasan, penampilan Angeline pun sangat cantik dan menawan dengan memakai tshirt berwarna merah muda dengan rok motif kotak-kotak berwarna pastel seatas lutut.
Dari semua pria yang pernah dikenalnya, hanya Biru-lah yang membuat Angeline penasaran. Biasanya, para pria itu selalu mendekat lebih dulu, sehingga dia tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan hati mereka.
Tetapi tidak dengan Biru. Pria itu tidak mudah ditaklukkan dan benar-benar dingin. Karena sudah terlanjur jatuh cinta pada sosok Biru yang sering menganggapnya tidak ada itu, Angeline rela melakukan segala hal demi meluluhkan hati Biru.
"Halo, Bibi. Birunya ada?" tanya Angeline dan sebelum dipersilakan masuk, dia sudah masuk, dan duduk di ruang keluarga dengan santai seolah-olah rumah sendiri.
"Den Biru ada di kamar. Tadi, Nyonya pesan kalau Non datang, masuk saja ke kamar Den Biru. Tuan dan Nyonya sedang ada urusan di luar katanya," jawab pelayan wanita itu.
Angeline mengangguk. Dia tersenyum senang karena dia sudah mendapatkan lampu hijau dari calon mertuanya itu. Saat si Bibi menunjukkan di mana kamar tuannya, Angeline segera mengetuk pintu kamar yang dipenuhi dengan banyak stiker karakter tersebut.
Tak ada jawaban, Angeline pun membuka pintu kamar itu dan dilihatnya Biru sedang tertidur dengan headset di kepalanya. Dengan berjingkat-jingkat, Angeline menghampiri pria itu dan berbaring di sisi ranjangnya.
Kedua matanya tak lepas dari wajah Biru, pria yang disukainya itu. Perlahan, jari telunjuknya mengukir wajah Biru.
Pria itu pun terbangun dan menepis tangan Angeline yang dirasa mengganggunya. Dia pun segera menjauh dan berteriak kaget saat melihat ada seorang gadis di ranjangnya. "Waaa! Waaa!"
"Aduh, sakit!" rintih Angeline sambil mengibaskan tangannya, tetapi sedetik kemudian dia tersenyum melihat kepanikan di wajah Biru. "Hai,"
"Apa yang kau lakukan di sini, di ranjangku! Keluar! Keluar sekarang!" tukas Biru. Dia menyambar selimut dan menutupi tubuhnya dengan selimut hingga ujung mata kaki.
Namun Angeline mencebik dan tidak beranjak dari ranjang Biru. Alih-alih beranjak, gadis itu malah membaringkan dirinya.
"Keluar atau aku akan menyeretmu! Alkaline, ayo, cepat keluar!" tukas Biru kesal. Dia mengacungkan jari telunjuknya ke arah Angeline dan menatap gadis itu dengan tatapan tajam.
"Angeline! Namaku Angeline bukan Alkaline!" protes gadis itu lagi semakin mencebik.
"Aarggh! Aku tidak peduli! Keluar kataku!" titah Biru, suaranya pun bertambah tinggi.
Melihat kesungguhan di nada suara Biru serta tatapan matanya yang menyeramkan, Angeline pun berjalan keluar dari kamar tersebut.
"Kau tak tau adab! Berbeda sekali dengan Kiara!" kata Biru bersungut-sungut.
__ADS_1
Angeline memutar tubuhnya dan berbalik menatap Biru. "Kiara? Gadis miskin itu? Kau membandingkan aku dengan seorang gadis yang bahkan pakaiannya tidak mengikuti zaman. Come on, Biru, seleramu jauh di atas ini,"
Mendengar Kiara diejek, Biru pun memanas. "Lalu, bagaimana denganmu? Kau lebih memilih mengedepankan fashion masa kini, tapi attitudemu tertinggal jauh di belakang! Ya, memang seleraku tinggi! Makanya aku tidak menyukaimu! Kau jauh di bawah Kiara!"
Angeline semakin memberengutkan bibirnya. Napasnya memburu karena kesal. Bisa-bisanya Biru membandingkan dirinya dengan seorang gadis miskin yang bahkan tak pantas masuk ke dalam mall mewah.
"Kenapa kau selalu membela dia? Apa bagusnya dia di matamu! Aarrgghh!" tukas. Angeline dengan suara tersekat. Gadis itu pun keluar kamar dengan menjejakkan kakinya dan membanting pintu cukup kencang.
Setelah Angeline keluar kamar, Biru tertegun. Dia mencerna pertanyaan Angeline tadi, mengapa dia membela Kiara?
Akhir-akhir ini yang ada di otaknya, di benaknya, dan di hatinya hanyalah Kiara. Gadis yang datang dari keluarga sederhana yang selalu berhasil membuat jantung Biru berdegup kencang dengan setiap kejutan yang dia hadirkan setiap kali mereka bertemu.
Pria itu pun teringat ucapan dokter Alex yang mengatakan kalau kemungkinan besar dia jatuh cinta. Rasa yang sejak awal dia tolak dan tidak dia sadari. Bahkan, tidak mau dia sadari.
Kepala Biru terasa berputar kencang dan hanya ada satu nama yang ingin dia temui saat ini, Kiara! Pria itu segera mengambil ponsel dan menghubungi Kiara.
Namun, ponsel Kiara tidak aktif. Tidak menyerah, Biru kembali menghubungi gadis itu, tetapi tetap saja tidak aktif. "Ke mana dia? Apa dia baik-baik saja?"
"Lho, kenapa ditolak?" tanya Biru yang sedari tadi berbicara sendiri.
Lagi-lagi, Biru tetap berusaha dengan mengirimkan pesan kepada Renatha. "Re, Kiara di mana?"
Tak lama balasan itu datang. ("Aku bukan ibunya!")
Kedua alis Biru saling bertautan. Dia bertanya dalam hati kesalahan apa yang telah diperbuatnya hingga Renatha marah kepadanya.
Karena tak sabar, Biru menyambar kunci mobilnya dan segera menyalakan mesin kendaraan itu lalu, dengan kecepatan tinggi, dia membelah kerumunan jalan untuk menemui Kiara.
Setibanya dia di rumah Kiara, dia memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah Kiara dan berhadapan dengan orang tua gadis itu.
"Huh! Ayo, Biru, you can do it!" katanya bermonolog untuk memberikan semangat kepada dirinya sendiri.
Ternyata di depan pintu rumah Kiara, ada sebuah lonceng kecil. Biru pun menggoyangkan lonceng tersebut sebanyak 2 kali.
__ADS_1
Tak lama, keluarlah seorang wanita berpakaian lusuh. "Ya?"
"Oh, maaf, Bi. Kiara ada?" kata Biru sopan.
Wanita itu tersenyum. "Saya ibunya Kiara. Tunggu sebentar, ya,"
"Oh, m-, maaf, Tante. Saya-, ...."
"Tidak apa-apa. Tunggu sebentar, ya, Nak," kata wanita yang mengaku sebagai ibu Kiara dengan lembut.
Wajah Biru memerah, bisa-bisanya dia salah menyebut ibu Kiara dengan sebutan bibi. Pria itu pun mengutuk kebodohannya.
Siapa sangka ibu Kiara begitu sederhana, berbeda sekali dengan Amanda yang selalu berpenampilan mewah dan harum. Rumah Kiara tidak terlalu besar tetapi tampak nyaman.
Di depan rumah itu, ada halaman mungil yang ditanami pepohonan organik, seperti cabai, caisim, bayam, dan di sisi satu lagi, ditanami dengan bunga-bunga cantik yang berwarna-warni.
Setelah menunggu beberapa menit, Kiara keluar, dan menghampirinya. Biru cepat-cepat memasang senyum. "Hai,"
Gadis itu membeku sesaat, kemudian dia menutup pintu rumahnya. Namun, Biru segera mengganjal pintu itu dengan sebelah kakinya. "Kiara, izinkan aku bicara denganmu. Paling tidak berikan aku alasan kenapa kau menghindariku?"
"Tidak ada alasannya. Pergilah!" seru Kiara tertahan.
Akan tetapi, Biru terus bertahan. Dengan pandangan memelas dan memohon, dia meminta Kiara untuk keluar sebentar. "Sepuluh menit, ah, tidak! Lima menit! Lima menit saja, Ra. Please,"
Kiara terdiam dan akhirnya menyerah. Dia mendorong Biru untuk keluar. "Bicara saja di sini. Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Oke, dengarkan baik-baik karena aku tidak akan mengulanginya lagi dan berjanjilah kau tidak akan menertawakanku," pinta Biru. Degup jantungnya semakin tidak teratur.
"Baiklah, apa? Lima menit, Biru, dan ini sudah hampir tiga menit," kata Kiara mengingatkan.
Biru menarik napas dan melepaskannya kembali. Wajahnya terlihat gugup dan dia tidak bisa berdiri dengan tenang. Dia mengambil tangan Kiara dan menatap kedua manik gadis itu lekat-lekat. "Ra, jadilah kekasihku!"
...----------------...
__ADS_1