
Satu bulan setelah pertemuannya dengan Angeline, Kiara semakin membuat sibuk dirinya. Gadis itu benar-benar bertekad akan melupakan Biru dan membuang jauh-jauh perasaannya kepada pemuda itu.
Selain tak ingin sakit, dia juga tidak ingin terlibat dengan segala macam drama yang akan dia hadapi nanti. Saat ini, Kiara sudah bekerja sebagai seorang asisten di sebuah perusahaan besar di Kota Metropole, berkat rekomendasi dari kampus tempat dia kuliah.
Ayah dan ibunya sangat bangga sekaligus bersyukur dengan pencapaian yang diraih oleh putri mereka itu. Hubungannya dengan Renatha pun masih berjalan baik. Mereka berdua masih saling bertemu dan terkadang menghabiskan waktu di sebuah kafe atau mall setelah pulang bekerja.
"Ra, bosmu yang tampan itu, siapa namanya? Tadi aku lihat dia mengantarmu," kata Renatha suatu hari.
Atasan Kiara adalah seorang pria berusia lima tahun lebih tua dari Kiara. Dia adalah putra dari si pemilik perusahaan dan Kiara, sebisa mungkin, tidak terlalu dekat dengannya kecuali urusan kantor.
"Oh, tapi jangan berpikir macam-macam! Namanya Kala dan stop sampai situ!" tegas Kiara, lalu dia menyesap minumannya.
Renatha mencebik dan berdecih. "Cih! Aku itu penikmat pria-pria tampan, wajarlah kalau aku bertanya tentang Bos Kala, hehehe,"
Bukannya tidak mau berbagi cerita. Kiara tidak ingin kehidupan yang dia rasakan sudah berjalan selaras, serasi, dan seimbang ini harus dirusak dengan pandangan lain dari orang lain, termasuk sahabatnya.
Kalandra Mahendra, putra pertama dari Rajash Mahendra. Seorang pria yang memiliki perusahaan besar bernama Rajash Globalindo Corporation. Putra pertama mereka, yakni, Kala, adalah sosok yang dewasa dan bertanggung jawab.
Di mata Kiara, Kala sangat dingin dan sangat fokus kepada pekerjaan yang dilimpahkan kepadanya. Percakapan mereka hanyalah sebatas percakapan profesional, tidak ada percakapan pribadi yang terjadi di antara mereka.
"Aku sudah trauma berhubungan dengan para kaum petinggi, Re. Sudahlah, kita lupakan si Kala ini," kata Kiara memaksa untuk menutup percakapan mereka.
Tiba-tiba saja, Renatha menyebutkan nama seseorang yang sudah lama Kiara lupakan. "Ra, menurutmu, bagaimana kabar Biru sekarang? Apa kau tidak penasaran?"
Kiara menggelengkan kepalanya. "Tidak sama sekali. Aku malah bersyukur karena aku bisa lepas dari bayang-bayang dia dan tunangannya yang toxic itu,"
Pertemuan terakhirnya dengan Angeline memang membuat Kiara cukup terluka. Bagaimana tidak? Dirinya dituduh membawa kabur Biru! Walaupun begitu, dia memiliki titik sadar, di mana dia merindukan mantan kekasihnya itu.
Entah apakah Biru sudah ditemukan atau belum, atau bahkan mereka sudah menikah atau apa pun yang berhubungan dengan Biru, sedikit banyak pertanyaan-pertanyaan itu masih muncul sekelebat di dalam benak Kiara.
"Apa dia sama sekali tidak menghubungimu?" tanya Renatha lagi.
__ADS_1
Lagi-lagi Kiara menggelengkan kepalanya lemah. "Kau lupa aku sudah mengganti nomorku?"
Renatha mengangguk-angguk sambil menggoyangkan jari telunjuknya. "Ah, iya, betul. Aku lupa,"
Ya, memang Kiara mengubah nomor ponselnya bahkan saat ini dia tidak tinggal lagi bersama kedua orang tuanya. Dikarenakan pekerjaannya yang mengharuskan dia standby 24 jam, selain itu juga dia mengantisipasi kalau Biru datang mencari atau berusaha menemuinya.
Renatha dan Kiara tinggal bersama di sebuah apartemen. Mereka berbagi segalanya dalam mengurus apartemen tersebut. Mereka memilih apartemen yang dekat dengan kantor mereka.
Sesekali, Rendy atau Delia datang membawa lauk pauk untuk mereka. Selama bekerja, Kiara belum pernah pulang ke rumahnya sendiri, jadi selalu orang tuanya yang datang berkunjung ke tempat dia tinggal saat ini.
Suatu hari, Kala mengajaknya makan malam bersama setelah mereka rapat. Kiara pun setuju dan dia menghubungi Renatha untuk mengatakan kalau dirinya akan pulang sedikit terlambat dan meminta sahabatnya itu untuk makan malam tanpa menunggunya.
("Cie cie cie, Kiara!") tulis Renatha menggodanya.
Sebagai balasan, Kiara mengirimkan stiker bergambar emoji kesal, setelah itu, dia memasukan ponselnya ke dalam tas. Kiara sempat tersentak kaget, saat atasannya bertanya di mana mereka akan makan.
"Ra, mau makan di mana?" tanya Kala dengan suaranya yang dalam.
Kiara bergumam sambil berpikir ke mana mereka akan pergi. "Hmmm, apa makanan atau restoran favoritmu?"
"Paham. Kalau begitu, kita makan di restoran Jepang cepat saji saja. Besok pagi kita ada present-, ...."
"Hei, aku tidak bertanya dan aku tidak peduli tentang jadwal besok! Aku hanya peduli apa yang akan kita lakukan sore ini! Ck! Disuruh milih restoran saja tidak bisa!" tukas Kala, lalu dia menambah kecepatan mobilnya dan melaju menuju tempat yang ingin dia kunjungi tanpa meminta saran lagi dari Kiara.
Kala membawa Kiara ke sebuah restoran yang terlihat mewah. Mereka pun masuk dan segera mencari tempat duduk.
Tak lama, seorang pramusaji datang membawakan buku menu untuk mereka. Kali ini, Kala benar-benar tidak bertanya pada Kiara tentang apa yang ingin di pesan oleh gadis itu.
Kiara pun diam dan membiarkan Kala memilihkan untuknya. Sambil menunggu, Kiara pun mencoba untuk memecahkan keheningan di antara mereka.
"Apa kau sudah sering ke sini?" tanya Kiara basa-basi.
__ADS_1
"Tidak. Ini pertama kali," jawab Kala singkat.
Suasana pun nenjadi canggung kembali. Sampai pada akhirnya, sang pramusaji membawakan makanan pembuka untuk mereka berupa Caesar Salad, lengkap dengan potongan roti bawang putih di atasnya.
Mereka menikmati makanan tanpa saling bicara. Setelah makanan pembukaan habis, pramusaji mengambil piring-piring mereka, dan kemudian menyajikan makanan utama sebagai gantinya.
Lagi-lagi mereka berdua makan dalam diam. Tidak ada pembicaraan atau percakapan, yang ada hanyalah suara denting piring yang beradu dengan pisau dan garpu.
Suasana canggung itu terus bertahan hingga makanan penutup disajikan. Kiara yang sudah dari tadi mulai gelisah, akhirnya membuka percakapan.
"Ah, aku tidak bisa mode senyap seperti ini! Apa yang kau sukai? Bagaimana aku memanggilmu saat kita di luar kantor?" desak Kiara sambil membelah sorbet cokelatnya.
"Aku tidak diajarkan makan sambil berbicara," jawab Kala dengan tenang.
Kiara pun tercengang dan menghela napas. "M-, maaf kalau begitu,"
Setelah selesai makan, Kiara aku mencoba untuk mengajak Kala berbicara. "Nah, jawab pertanyaanku tadi,"
"Aku suka segalanya dan sejak kau bekerjasama denganku dan tau umur kita tidak berbeda jauh, bicaramu tidak pernah formal, kecuali kalau saat rapat atau ada tamu. Begitu saja," jawab Kala.
"B-, baiklah," kata Kiara menyerah.
Kiara terus berusaha mengobrol selayaknya teman, tetapi ternyata sulit. Kala benar-benar menutup diri dan tidak membiarkan seorang pun mengenalnya.
Biasanya, percakapan yang terjadi di antara mereka hanyalah seputar pekerjaan dan jawaban Kala tidak jauh berbeda dengan seperti saat ini.
Selagi Kiara berpikir, seseorang memanggilnya. "Kiara, 'kan?"
"Hei, Angkasa." Kiara membalas sapaan pria itu.
Tanpa dipersilakan, pria muda itu segera duduk di tengah-tengah Kala dan Kiara. Tanpa basa-basi juga, pemuda itu segera meminta sesuatu kepada Kiara.
__ADS_1
"Aku sudah lama mencarimu, tapi sepertinya kamu mengganti nomor handphone-mu ya? Aku ingin minta tolong padamu, Ra. Tolong, ajak Biru untuk kembali," pinta Angkasa.
...----------------...