Pacar Sewaan

Pacar Sewaan
Pembalasan Angeline


__ADS_3

Hubungan Kiara dengan Biru terjalin semakin dekat. Sudah tidak canggung lagi bagi Biru untuk bertemu dengan kedua orang tua Kiara. Beberapa kali sudah, Rendy mengajak kekasih putrinya itu untuk makan bersama atau sekedar bermain di kediaman mereka.


Biru pun dengan cepat merasa nyaman dengan perlakuan hangat dari pasangan Pratama itu. Dia sudah menganggap kedua orang tua Kiara sebagai kedua orang tuanya juga.


Hal itu, tidak dia dapatkan pada sosoj Dirgantara. Dirgantara bukanlah sosok yang sabar dan telaten dalam bermain bersama putra tunggalnya. Sahabat Rendy Pratama itu lebih memilih bekerja dibandingkan dengan bermain atau nenghabiskan waktu bersama anak dan istrinya.


"Ayo, ke rumahku!" ajak Biru. Hampir setiap pekan, laki-laki berparas tampan itu mengajak kekasihnya untuk bertemu debgan kedua orang tuanya, tetapi ada saja alasan Kiara untuk menolak ajakan Biru.


Terkadang mereka bertengkar hanya karena permasalahan itu. Menurut Biru, Kiara terlalu egois dan tidak memberikan kesempatan kepada orang tuanya untuk meminta maaf dan memperbaiki sikap mereka.


Namun di sisi lain, Biru juga tidak menyalahkan Kiara atas semua penolakan yang gadis itu lakukan. Seperti kata Kiara, untuk sembuh itu perlu waktu dan perlu proses. Tetapi tetap saja, Biru ingin kekasihnya itu datang menemui kedua orang tuanya.


"Apa kau dapat menjamin kalau orang tuamu akan menyukaiku dalam waktu sekejap seperti yang sudah kau katakan?" tanya Kiara saat Biru mengajaknya.


"Paling tidak, mereka berhutang maaf kepadamu, 'kan?" kata Biru sambil mengusap pucuk kepala kekasihnya itu.


Kiara menghela napas panjang. Sulit sekali rasanya membuka hati untuk tuan dan nyonya Bramasta. Luka yang mereka torehkan sudah cukup dalam. Meski begitu, Kiara tahu jika dia sanggup menerima Biru dalam hidupnya, maka dia pun harus sanggup menerima kedua orang tua Biru.


"Ya, sudah. Pekan depan, aku akan menemui mereka," kata Kiara pada akhirnya.


Setelah memutuskan hal tersebut, kepanikan menyerang Kiara. Dia pun mencurahkan perasaan hatinya pada Renatha. "Aargghh! Kenapa aku harus mengatakan pekan depan, Re? Kenapa tidak bulan depan atau tahun depan? Aarrghh, Kiara bodoh!"


"Apa tujuanmu berhubungan dengan dia? Lebih baik kau menerima cinta bos-mu, 'kan? Dia dan keluarganya sudah jelas tergila-gila padamu. Kenapa harus Biru yang kau terima?" tuntut Renatha saat itu.


Kiara memejamkan matanya sesaat. Sampai saat ini, dia belum tau alasan apa yang mendasari dirinya menerima cinta Biru.


"Aku mencintainya, Re. Aku sayang sama dia," jawab Kiara.


Mendengar jawaban dari temannya itu, Renatha menepuk keningnya dengan telapak tangan. "Ra, cinta itu universal. Ketika kau mengatakan kau mencintai seseorang, itu berarti kau sudah memiliki target dalam hubungan kalian. Kalau kau hanya mencintainya saja, lalu bagaimana dengan komitmen hubungan kalian? Akan sejauh apa kalian berjalan?"

__ADS_1


Kiara terdiam. Dia mengakui bahwa apa yang dikatakan oleh Renatha semuanya benar. Tak pernah terpikirkan olehnya hal-hal detail seperti itu saat berhubungan dengan Biru. Bagi Kiara, mereka akan menjalani hubungan itu senatural mungkin dan tanpa target apa pun.


Kata-kata menikah belum muncul dalam kamus hidupnya saat ini. "Aku belum berpikir sampai sejauh itu, Re. Bagaimana, dong?"


"Huft, cobalah berpikir. Toh Biru sudah sangat dekat dengan ayahmu dan mungkin saja kedua orang tuamu mengharapkan kau segera menikah dengan Biru, tapi mereka hanya tidak ingin memburuimu," kata Renatha lagi.


Kiara memainkan bibirnya. Apa benar orang tuanya menginginkan dia menikah secepatnya? Tak lama kemudian, dia menggeleng perlahan. "Aku tidak mewariskan apa pun. Kenapa orang tuaku menginginkanku menikah cepat? Aku rasa mereka tidak seperti itu,"


Menyerah dengan pendapat teman baiknya, Renatha pun mengedikan kedua bahunya lalu melanjutkan makan dengan lahap. Begitu pula dengan Kiara. Saat ini, dia hanya ingin menikmati hidup dan tidak ingin terbebani oleh tuntutan pernikahan atau pertemuan orang tua.


Maka sebelum akhir pekan yang sempat membuatnya depresi itu, Kiara benar-benar menikmati waktu dan kesibukannya. Menjalin hubungan dengan Biru, tidak serta merta membuat Kala menjauhi Kiara.


Pria itu justru semakin gencar mendekati Kiara. Dia mengajak gadis itu makan siang, berjalan-jalan, dan bahkan hampir setiap malam, dia mengantar Kiara untuk pulang. Saat itu, Biru sedang banyak meeting sehingga dia kesulitan untuk bertemu dengan Kiara dan tentu saja, kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Kala.


"Kiara, akhir pekan ini apakah kau sudah ada acara?" tanya Kala suatu siang.


Kiara yang saat itu sedang asik mengetik, mendongakkan kepalanya dan menatap atasannya itu. "Sayangnya, ya. Kenapa? Apa ada rapat atau pertemuan dengan klien naratama?"


"Bukan urusanmu. Sudahlah, lusa sudah akhir pekan dan aku harus menyelesaikan semua ini, 'kan? Kumohon, jangan kau tambahkan lagi," kata Kiara lirih. Kini, perhatiannya sudah kembali kepada pekerjaannya.


Gadis itu sempat sedikit berharap Kala akan memberitahunya tentang rapat mendadak atau tiba-tiba saja ada klien yang membuat appointment di akhir pekan. Mau tidak mau, Kiara menyiapkan hatinya untuk bertemu dengan kedua orang tua Biru di akhir pekan nanti.


Entah mengapa, Kiara merasakan waktu seakan terbang, dan tiba-tiba saja akhir pekan pun tiba. Biru sudah memberitahukan kepadanya lewat pesan akan menjemputnya pukul 5 sore nanti.


"Ra, kau tidak jadi pergi?" tanya Renatha. Gadis berambut sebahu itu cukup bingung melihat Kiara masih asik berbaring sambil bermaim games di ponselnya.


Kiara menoleh ke arah jam lalu mengerang panjang. "Aarrgghh! Haruskah aku pergi, Re? Tidak bisakah aku tiba-tiba sakit? Sekarang sudah pukul 3 lewat dan tubuhku seakan memaksaku untuk terus berbaring. Bagaimana ini, Rere?"


Renatha menarik kedua tangan sahabatnya itu dan menjauhkannya dari ranjang. "Anggap saja kau bekerja dan kau diharuskan untuk bersikap profesional! Kau, 'kan, suka sekali bekerja, jadi anggap saja kau sedang bekerja. Tersenyumlah walaupun hatimu menangis,"

__ADS_1


"Tetap saja, ...." Kiara memeluk erat sahabatnya itu dan merengek di dalam dekapan Renatha. "Aku tidak sanggup. Ikutlah denganku dan temani aku, Re,"


Sontak saja, Renatha tertawa. "Hahaha! Andai aku bisa. Sudahlah, cepat bersiap-siap sebelum Biru menjemputmu,"


Dengan dibantu oleh Renatha, akhirnya Kiara pun dapat selesai dengan tepat waktu. Memakai gaun malam berwarna putih tulang serta sepatu berwarna senada, gadis itu tampak sangat cantik dan berhasil membuat Biru terpukau.


Pria itu tak bisa melepas pandangannya sedetik pun dari Kiara. Sepanjang jalan, dia terus melihat kekasihnya dari sudut matanya.


"Kau cantik," puji Biru nyaris setiap menit.


Kiara tersenyum dan tersipu malu setiap kali Biru melontarkan pujian kepadanya. Namun, pujian dari kekasihnya itu tampak tak berpengaruh kepadanya karena debaran jantung Kiara semakin kencang saat mereka mulai memasuki komplek perumahan Biru.


Tak beberapa lama, mereka pun sampai di kediaman Dirgantara. Biru meminta Kiara untuk santai dan tidak tegang. "Santai saja, Sayang,"


Kiara mengangguk dan lagi-lagi memantapkan hatinya untuk masuk ke dalam rumah bernuansa putih tersebut. Biru menggandeng tangan Kiara dan menuntun gadis itu untuk masuk bersamanya.


"Ma! Pa! Aku dan Kiara datang," kata Biru sambil terus menggandeng tangan kekasihnya.


Kiara mematrikan senyumnya. "Halo, Om, Tante,"


Amanda dan Dirgantara pun datang. Bukan dengan wajah ramah dan hangat, melainkan wajah marah dan kesal. "Kenapa kau masih berani datang ke sini?"


"Papa! Kemarin Papa oke, kenapa sekarang marah? Apa salah Kiara kali ini?" tanya Biru.


"Kau pikir Mama tidak tahu kalau kalian berdua mempermainkan kami! Kalau dipikir-pikir, kalian ini terlalu berani dan kurang ajar!" tukas Amanda kesal sambil melipat tangannya. Tatapan matanya tajam ke arah Kiara.


Kiara memandangi Biru serta pasangan Bramasta dengan bergantian. "Maaf, Om, saya tidak tahu apa yang sedang kalian berdua bicarakan?"


"Kalian berdua ini hanya pacaran bohongan, 'kan? Kau dibayar oleh Biru untuk menjadi kekasih supaya batal menikah dengan Angeline! Itu yang terjadi!" tukas Amanda berapi-api.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2