Pacar Sewaan

Pacar Sewaan
Dia Harus Menjadi Jodohku!


__ADS_3

Setelah lamaran dadakan di arena ice skating, pernikahan antara Kala dan Kiara pun dipercepat. Para orang tua mulai sibuk mempersiapkan segala keperluan pesta. Rajash sudah merencanakan pesta pernikahan putranya akan menjadi pesta terbesar di seluruh negeri.


"Kalau bisa, aku akan mengadakan pesta itu 7 hari 7 malam, hahaha! Oke, tidak, Kala?" tanya Rajash saat mereka menyeleksi wedding organizer.


Kala hanya menggelengkan kepalanya sambil berdecak. "Pa, membuat candi saja tidak selama itu. Lagi pula untuk apa pesta sampai 7 hari? Ckckck!"


Rajash kembali tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan putra tunggalnya itu. "Hahaha! Kau bisa lakukan apa saja, Nak. Jangan khawatirkan soal uang, aku akan membayar segalanya,"


"Selain itu, kau dan Kiara ingin pergi honeymoon ke mana? Papa mau ikut," kata Rajash lagi, tersenyum menggoda.


"Mana mungkin kau ikut, Papa!" tukas Kala kesal. "Fokus ke sini saja dulu,"


Ketegasan Kala membuat Rajash menepuk pundak calon ahli waris perusahaannya itu. Lalu, tak lama, mereka sudah fokus pada beberapa surat penawaran yang ada di layar laptop.


Selama menyeleksi, terdapat sedikit perbedaan pendapat antara ayah dan anak itu. Beberapa kali pula, Kala menghubungi Kiara dan menanyakan bagaimana pendapatnya tentang konsep yang ditawarkan oleh para pengurus acara pernikahan tersebut.


"Aku akan ke sana," kata Kiara pada akhirnya.


Wanita muda itu tak tahan karena terus ditelepon oleh calon suaminya. Sebelum dia menemui Kala, Kiara meminta pendapat kepada sahabat baiknya, Renatha.


"Apa yang kau inginkan untuk pestamu? Ingat, ini pestamu dan kau ratunya. Jadi, kau bisa memilih apa pun yang kau inginkan," kata Renatha saat Kiara meminta pendapat darinya.


Dahi Kiara berkerut-kerut. Benar kata Renatha, ini adalah pesta miliknya dan dia akan menjadi seorang ratu di acaranya nanti. Namun, sepersekian menit kemudian, dia bertanya kembali kepada Renatha, "Jadi, Re, aku boleh memilih apa pun yang aku mau?"


Renatha mengangguk mantap. "Hmm, tentu saja!"


Segala ide dan gagasan bermunculan di benak Kiara seperti ikan yang melompat-lompat di dalam air. Gadis itu memikirkan konsep apa yang dia inginkan. Dengan bantuan sahabatnya, Kiara mendapatkan banyak masukan dan ide untuk dia kembangkan.

__ADS_1


Dia mengangguk-angguk dan sesekali berkomentar atas gagasan yang diberikan oleh Renatha. Tak hanya dengan membayangkan, mereka pun berselancar di dunia maya untuk mendapatkan referensi lebih banyak.


Setelah yakin dengan apa yang dipilihnya, Kiara pun segera bergegas untuk menemui Kala di kediamannya. Tak sampai satu jam, tibalah gadis itu di rumah calon suaminya.


"Halo, Pa. Mana Kala?" tanya Kiara sembari memberikan salam kepada Rajash yang menyambutnya dengan senyum cemerlang.


Pria dewasa itu merangkul Kiara dengan hangat dan memperkenalkan gadis itu kepada seorang wanita berparas cerdas yang dengan sigap berdiri dan memperkenalkan diri.


"Nona Pratama, saya wedding organizer yang dipilih oleh Tuan Mahendra," kata wanita itu.


Kiara menyambut uluran tangan wanita yang memakai blazer berwarna hitam tersebut. "Oh, hai, salam kenal. Mohon bantuannya,"


Rajash mempersilakan mereka untuk berbincang-bincang berdua. "Kala sedang merajuk. Dia ingin menunggumu dan aku pikir kalian bisa membicarakan konsep apa yang ingin kalian buat setelah WO datang,"


"Benar, 'kan, pendapatku?" tanya Rajash lagi seolah-olah meminta dukungan.


Kiara dan wanita WO itu tersenyum memaklumi. Tak lama, mereka berdua pun sudah mulai membicarakan konsep pernikahan yang Kiara dan Kala inginkan.


Sang penyedia jasa itu pun mengangguk dan menunggu Kiara, sementara gadis itu memanggil calon pendamping hidupnya.


"Hai, aku masuk, ya?" sapa Kiara lembut di depan pintu kamar Kala.


Kala tak menjawab, tetapi dia membiarkan gadis itu untuk masuk ke dalam kamarnya. Semenit kemudian, dia mulai mencurahkan rasa kesalnya pada Rajash.


"Aku tidak mau ayahku yang memutuskan! Ini acara kita! Rasanya, aku lelah bicara dengan ayahku, dia terlalu memaksakan kehendaknya!" tukas Kala memberengut.


Kiara tersenyum. Dia membelai rambut kekasih hatinya dan berusaha menenangkan Kala. "Ayahmu hanya terlalu bersemangat. Bayangkan saja, anak tunggalnya akan menikah dalam waktu dekat. Orang tuaku pun bersemangat, mereka memberikanku banyak sekali nasihat sampai rasanya kepalaku akan pecah karena terlalu penuh,"

__ADS_1


"Bersabar saja dan berusahalah untuk memaklumi ayahmu," sambung Kiara.


Tanpa kata, tanpa suara, Kala mendaratkan ciumannya di bibir Kiara. Perlahan, pria itu memagutnya dan memberanikan diri untuk menggerakkan pagutannya lebih dalam.


Dalam keheningan total, hanya terdengar suara cecapan dan dessahan halus yang memenuhi kamar tersebut. Ketika, Kala ingin memperdalam pagutannya, Kiara segera menarin tubuhnya untuk menjauh.


"Ehem! Ada yang menunggu kita. Ayo, keluar dulu!" kata Kiara dengan wajah memerah dan gadis itu segera keluar dari kamar tunangannya.


Sementara itu, Kala mematung sesaat. Pria itu menggigit bibir bawahnya dan berusaha menenangkan degup jantungnya yang belum mau tenang sedikit pun. Alih-alih tenang, justru degup jantung itu menuntut untuk meminta lebih dari sekedar pagutan.


Di tempat lain, semua fasilitas yang dimiliki Biru ditarik oleh Dirgantara. Dia tidak memiliki uang sepeser pun untuk pergi meninggalkan negara itu seperti yang sudah direncanakannya.


"Sa, bisa kirimkan aku uang hasil bulan ini?" tanya Biru kepada Angkasa melalui panggilan telepon.


("Ribut lagi? Jual ponselmu dan bekerjalah di sini bersamaku! Tunjukkan pada ayahmu kalau kau mampu hidup tanpanya!") tukas Angkasa.


Jelas saja pria itu kesal, hampir setiap bulan, Biru meminta uang kepadanya. Memang Biru berhak atas segala keuntungan yang dihasilkan, akan tetapi, alangkah lebih baik kalau Biru juga ikut bekerja. Begitulah yang dipikirkan oleh Angkasa.


Apalagi perang dingin yang terjadi di antara Biru dan ayahnya yang tampaknya tidak ada titik temu. ("Hei, Kiara akan menikah,")


Biru memberengut. "Aku tau! Justru itu yang membuatku ingin pulang ke sana! Aku merasa ditipu oleh keluargaku dan sekarang aku harus bertanggung jawab, menikahi Angeline Sialan itu!"


("Kau yang menyuruhnya mati, tentu saja kau harus bertanggung jawab! Begini saja, lupakan Kiara, dan fokuslah pada apa yang ada di depanmu saat ini,") usul Angkasa tegas. ("Menurutku, sampai kapanpun, kalian tidak akan pernah bisa bersatu. Mungkin ayahnya sudah memaafkan keluargamu, tapi, bagaimana dengan keluargamu? Sulit sekali untuk kalian bisa bersatu,")


Otot-otot di wajah Biru mengeras. Dia mengepalkan tangannya dan meninju di dinding kamarnya dengan kencang hingga buku-buku tangannya terluka dan sedikit memar. "Tidak akan! Aku yakin dia masih mencintaiku! Saat ini, aku sedang memperjuangkan dia, Sa! Dia hanya tidak enak karena Kala sudah sangat baik kepadanya! Aku yakin itu!"


("Ckckck! Kau gila! Lalu, bagaimana kalau jodoh Kiara ternyata Kala? Apa yang akan kau lakukan?") tanya Angkasa lagi. Pria itu sedikit heran, mengapa Biru bisa sangat terobsesi dengan Kiara.

__ADS_1


Biru tertawa. "Aku akan memaksa Tuhan supaya Kiara adakah jodohku! Kalau pun ternyata juga tidak bisa, maka, tidak boleh seorang pun yang dapat memilikinya!"


...----------------...


__ADS_2