
Beberapa minggu setelah Biru dan Kiara menjalani hubungan back street, Kiara memutuskan untuk memberitahukan hubungan mereka kepada Renatha. Namun sebelum dia memberitahukan hubungannya dengan Biru kepada sahabatnya itu, Kiara meminta izin kepada kekasihnya.
Jawaban Biru sangat tak terduga-duga, pria itu justru menanggapi pertanyaan Kiar dengan sangat positif. "Wow, aku senang sekali. Aku sudah menunggu pertanyaanmu ini sejak kemarin. Renatha adalah sahabatmu, tidak baik jika kita menutupi sesuatu dari sahabat kita. Itu sama saja dengan berkhianat,"
"Benarkah? Kau mengizinkanku untuk memberitahukan hubungan kita kepada Renatha?" tanya Kiara senang.
Biru mengangguk dan seketika itu juga, dia mendapatkan hadiah pelukan singkat dari Kiara. Hubungan manis yang terjalin di antara Kiara dan Biru sudah berjalan hampir satu bulan.
Selama itu, belum ada seorang pun yang mengetahui tentang hubungan mereka. Kiara dan Biru menyimpan rahasia itu dengan cukup rapi, sampai tak terendus oleh siapa pun.
Begitu pula dengan keluarga mereka. Dirgantara dan Amanda masih tetap menjodohkan Angeline dengan Biru walaupun putra mereka berkali-kali sudah mengatakan kalau cintanya pada Kiara sudah mentok.
Namun, tuan dan nyonya Bramasta merasakan perbedaan dan perubahan yang cukup signifikan pada putranya itu. Biru jadi sering memainkan gitarnya dibandingkan dengan game online. Biasanya, gitar itu akan dibiarkan tergeletak begitu saja sampai lubang resonansi pada gitar tersebut dijadikan rumah oleh laba-laba.
Akan tetapi, akhir-akhir ini, Biru terdengar kembali menekuni gitarnya. Tak hanya gitar, yang biasanya Biru tak pernah tertarik dengan piano, kali ini dia sering memijat tuts piano tersebut dan memainkan instrumen lagu Can't Help Falling In Love.
"Apakah anak kita secinta itu pada Kiara, Pa? Perubahannya sangat luar biasa sekali, lho," bisik Amanda suatu hari saat mencuri dengar di kamar putranya yang sedang asik bernyanyi dengan diiringi gitar.
Raut wajah Dirgantara tampak tidak senang sekaligus bimbang. Biru termasuk anak yang keras kepala dan tidak mau diarahkan. Berjuta-juta kali, orang tua Biru meminta Biru untuk menguasai satu alat musik saja, tetapi yang terjadi hanyalah putra tunggal Bramasta itu hanya menjadikan alat-alat musik itu sebagai sebuah pajangan.
"Tidak mungkin jatuh cinta akan bermain musik! Nonsense!" kata Dirgantara menolak pernyataan dari istrinya itu.
Entah apa yang disembunyikan oleh Dirgantara tentang Kiara dan ayahnya, tetapi dia terlihat sangat tidak menyukai keluarga Pratama. Apa karena miskin dan tidak memiliki apa pun sampai dia membencinya dan bahkan terlihat khawatir saat nama Pratama disebut di bawah atap rumahnya.
Tak hanya keluarga Bramasta yang merasakan perubahan dari Biru, Delia serta Rendy pun merasakan perubahan dari Kiara, putri mereka.
Kiara menjadi lebih ceria, banyak tersenyum, dan terlihat bahagia. Suatu hari, Delia pernah bertanya kepada Kiara tentang perubahannya itu. "Kenapa, Sayang? Lagi ada sesuatu yang menyenangkan terjadi, ya?"
Anehnya, wajah Kiara memerah dan dia tersipu. "Oh, tidak, Ma. Hanya sedang senang saja,"
"Skripsimu lancar, Nak?" tanya Rendy ikut bertanya. "Ingat kata Papa, ya, jangan sampai ada yang mengalihkan fokusmu! Apa pun itu!"
Kiara mengangguk. "Iya, Pa, Kiara ingat, kok. Skripsi Kiara tinggal sedikit lagi sidang. Minggu depan, Kiara hanya tinggal menyerahkan naskah revisi setelah itu sidang, deh,"
"Kenapa dengan nada suaramu?" tanya Rendy lagi berusaha mengulik sesuatu dari putri semata wayangnya itu.
Kiara hanya menggeleng-geleng lalu masuk ke kamar sambil terkikik. Kedua orang tua Kiara saling berpandangan dan menautkan alis mereka.
__ADS_1
Respon tak terduga pun datang dari Renatha kala Kiara menyampaikan rahasianya dengan Biru. Gadis itu nyaris berteriak saat Kiara berbisik memberitahukannya.
"Apa! Aku tidak salah dengar, 'kan, Ra? Astaga, kapan?" tanya Renatha dengan wajah shock.
"Hampir satu bulan yang lalu, Re. Sorry, aku tidak langsung memberitahumu karena aku dan Biru sudah sepakat untuk merahasiakan hubungan kami. Kau tau sendiri bagaimana kedua orang tuanya, 'kan? Sedangkan di keluargaku, entahlah, aku belum memperkenalkan Biru pada orang tuaku," kata Kiara menjelaskan.
"Kau juga tahu, 'kan, kalau ayahku tidak suka aku berpacaran. Takut aku terdistraksi," sambung Kiara lagi. "Jadi, kupikir kami akan menjalani hubungan ini secara diam-diam,"
Renatha memberengutkan bibirnya. Gadis itu cukup kesal karena Kiara bukannya menjauhi Biru tetapi justru berpacaran dengannya.
"Terus? Kau tetap akan berniat memberitahukan kepada orang tuamu, 'kan?" tanya Renatha lagi.
Kedua pundak Kiara terangkat, tanda kalau dia juga belum tahu pasti tentang hal itu. "Aku tidak tau, tapi aku rasa, harus, 'kan?"
"Harus! Kalau orang tua pacaramu itu tidak tahu, paling tidak orang tuamu tahu tentang hubungan kalian. Coba saja kenalkan Biru sebagai temanmu dan bawa dia ke rumahmu," kata Renatha menerangkan.
Saat ini, Kiara dapat bernapas lega. Renatha cukup baik menerima kenyataan kalau dirinya dan Biru menjalin hubungan serius dan bukan sebatas klien dan penyedia jasa.
Namun permintaan Renatha yang meminta dia mempertimbangkan untuk mengajak Biru ke rumahnya, memang menjadi pikiran utama Kiara selain skripsinya.
"Bi, akhir pekan ini, datanglah ke rumahku," kata Kiara suatu hari setelah dia selesai bimbingan skripsi.
Kiara pun mengangguk. "Ya, tapi sebagai teman. Aku ingin memberitahukan kepada mereka, pelan-pelan,"
Biru terdiam, pria itu teringat sesuatu. Dia pernah datang ke tempat Kiara dan menyangka ibu Kiara adalah seorang asisten rumah tangga dan dia memanggilnya dengan sebutan 'Bi'. "Tapi, aku segera minta maaf, Ra,"
Hal itu dia ceritakan kepada Kiara dan Kiara hanya tersenyum. "Ibuku pekerja kasar, wajar jika kau menganggapnya seperti itu. Lagi pula, ibuku tidak menyinggung soal itu dan kau juga sudah meminta maaf, jadi kurasa tidak masalah,"
"Semoga," kata Biru sambil menggenggam tangan kekasihnya dengan erat.
Akhir pekan pun tiba, Kiara sudah memperingatkan kedatangan Biru di rumahnya. Dia juga sudah mengatakan kalau ada seorang teman yang akan datang ke tempatnya dan itu bukan Renatha.
"Laki-laki atau perempuan, Ra?" tanya Delia mulai mengulik informasi dari putrinya tersebut.
"Laki-laki, Ma," jawab Kiara singkat.
Sontak saja, Rendy ikut bicara. "Pacar atau teman? Kalau lawan jenis itu mempunyai makna konotasi, Ra. Teman atau pacar?"
__ADS_1
Kiara menyesal telah mengambil keputusan ini. Kedua orang tuanya sekarang seperti seorang detektif yang terus menyerangnya untuk mengeluarkan alibi. "Teman, Pa,"
"Pacar juga tidak masalah selama kau bisa tetap fokus," kata Rendy lagi sambil melihat respon putri peraih cumlaudenya itu dari ekor matanya.
"Bukan pacar, hanya teman," kata Kiara lagi berusaha mempertahankan suaranya agar terdengar tetap tenang.
Tak beberapa lama kemudian, Biru pun tiba. Delia menyambut kedatangan putra Bramasta itu dengan ramah. Sekali lagi, Biru meminta maaf kepada Delia sebelum dia memberikan buah tangan yang dibawanya.
Kiara menghela napas lega saat melihat ibunya dan Biru cepat sekali berbaur dan tampaknya Delia menerima hadirnya Biru dalam hidup Kiara.
Namun dia belum bisa sepenuhnya lega, saat Rendy datang dan ikut bergabung bersama mereka di ruang tamu, suasana berubah menjadi tegang.
"Oh, ini temanmu, Ra?" tanya Rendy.
Biru segera berdiri untuk memberikan salam dan memperkenalkan diri. Dia mengangguk dan tersenyum. "Halo, Om. Nama saya, Biru,"
"Biru, hahahaha! Nama yang unik, tapi sepertinya saya tidak asing dengan nama Biru," kata Rendy lagi.
Kiara pun menimpali dan mengatakan kalau ayahnya itu sok kenal. "Papa, suka sok kenal begitu, deh,"
Saat itu, Rendy membalas ucapan putrinya dengan tertawa. Suasana tegang tadi berubah menjadi hangat dan Kiara bersyukur kedua orang tuanya menerima Biru dengan baik. Sampai ketika, pokok pembicaraan memasuki kehidupan pribadi Biru.
Rendy bertanya kepada Biru, apakah dia masih kuliah atau sudah bekerja.
"Saat ini saya sedang menunggu program magang di perusahaan papa, Om," jawab Biru.
Kening Rendy berkerut. Wajahnya tampak sumringah dan kagum. "Wah, Papamu punya perusahaan? Hebat sekali. Apa nama perusahaan papamu? Dulu saya juga sempat berbisnis, tapi ya, tidak semua bisnis itu berbuah baik, 'kan? Hahaha!"
Biru semakin bersemangat karena Rendy sedikit terbuka kepadanya. "Papa saya pemilik perusahaan Bramtama Coorporation, Om,"
"BC?" tanya Rendy, wajahnya menegang seketika. "Perusahaan yang bergerak di bidang investasi saham?"
"Iya, Om. Papa mengembangkan perus-, ...."
"Dirgantara Bramasta? Pengkhianat Busuk yang pengecut! Ternyata kau anak Dirgantara? Saya minta keluar kau dari sini! Silakan!" tukas Rendy tajam. " Dan kumohon, jangan dekati Kiara lagi!"
Kiara dan Biru saling berpandangan, mereka tidak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi di antara kedua orang tua mereka.
__ADS_1
...----------------...